kado untuk ibu yang baru melahirkan berupa dukungan dan empati

Saat Ibu Merasa Hilang: Menyambut Bayi, Merelakan Diri

Ditulis oleh Minou, Admin Noura, 25/12/2025 

Yuk, bagikan artikel ini!

Saat Ibu Merasa “Hilang”: Menyambut Bayi, Merelakan Diri

Parents, pernahkah kalian merasa seperti menjadi orang asing bagi diri sendiri tepat setelah kehadiran buah hati? Di tengah aroma bedak bayi dan popok yang tak pernah habis, kadang muncul satu pertanyaan sunyi: “Siapa aku sekarang?”
Perasaan ini sering dialami oleh ibu pasca melahirkan, meski jarang dibicarakan secara terbuka.

Rasa bahagia setelah melahirkan memang nyata, tetapi tidak datang sendirian. Bersamanya ada kelelahan yang luar biasa, tangis yang terpendam, dan kesepian yang sulit dijelaskan. Banyak ibu baru merasa kehilangan arah, seolah identitas lamanya perlahan menghilang. Inilah fase rapuh yang membutuhkan empati untuk ibu baru, bukan penilaian.

Di tengah sunyinya perjuangan itu, buku Ibu, Kamu Tidak (Gila) Sendirian hadir sebagai pelukan hangat. Buku ini mengakui satu hal penting: menjadi ibu tidak selalu tentang tawa dan kebahagiaan, tetapi juga tentang luka yang diam-diam dirawat sendiri.

Di Balik Tangis Bayi, Ada Tangis Ibu yang Tak Terdengar

Setelah persalinan, banyak ibu terjebak dalam ekspektasi bahwa mereka harus bahagia. Padahal kenyataannya, tak sedikit ibu pasca melahirkan yang justru merasa kehilangan—bukan hanya waktu tidur dan me-time, tetapi juga rasa percaya diri dan identitas diri.

Dalam buku ini, pengalaman para ibu dirangkum menjadi catatan personal yang jujur dan apa adanya: tentang tubuh yang berubah, mimpi yang tertunda, hingga pertanyaan eksistensial di tengah malam saat semua orang tertidur, kecuali ibu dan bayinya.

Para penulis—Fransisca Kumalasari, Lucia Priandarini, dan Rinda Amalia—mengangkat suara-suara yang selama ini kerap dipendam. Mereka menulis dengan empati dan pengalaman langsung, menjadikan buku ini relevan sebagai bacaan penting untuk memahami kesehatan mental ibu di masa postpartum.

Baby Blues: Bukan Hal Memalukan

Salah satu bahasan penting dalam buku ini adalah baby blues. Kondisi emosional yang sering ditandai dengan kesedihan mendalam, mudah menangis, cemas berlebihan, dan rasa tidak mampu sebagai ibu. Baby blues bukan kelemahan, melainkan respons alami tubuh dan pikiran terhadap perubahan besar setelah melahirkan.

Yang menarik, buku ini menegaskan bahwa baby blues tidak hanya dialami ibu. Ayah pun bisa mengalaminya. Fakta ini memperluas pemahaman bahwa kehadiran bayi memengaruhi kesehatan mental ibu dan keluarga secara keseluruhan.

Alih-alih menggurui, buku ini membuka ruang dialog. Bahwa menangis tanpa alasan setelah melahirkan adalah normal. Bahwa merasa gagal atau merasa “hilang” adalah pengalaman yang dialami banyak ibu baru. Di sinilah pentingnya empati untuk ibu baru—baik dari pasangan, keluarga, maupun lingkungan sekitar.

Merelakan Diri Lama, Menyambut Diri yang Baru

Menjadi ibu sering kali berarti melepaskan banyak hal: kebebasan, ritme hidup lama, bahkan gambaran tentang diri sendiri. Proses “kehilangan” ini kerap tidak disadari, tetapi sangat terasa. Buku Ibu, Kamu Tidak (Gila) Sendirian membantu ibu memahami bahwa merelakan diri lama bukan kegagalan, melainkan bagian dari proses bertumbuh.

Identitas ibu tidak hilang—ia berubah. Dan perubahan itu membutuhkan waktu, penerimaan, serta dukungan emosional yang konsisten. Dalam konteks ini, kesehatan mental ibu pasca melahirkan menjadi fondasi penting bagi kesejahteraan seluruh keluarga.

Baca juga: Clear Thinking: Seni Memberi Jeda untuk Keputusan yang Lebih Baik

Ibu, Kamu Tidak Sendirian

kado untuk ibu yang baru melahirkan berupa dukungan dan empati, ibu pasca melahirkan

Ibu, Kamu Tidak (Gila) Sendirian tidak datang dengan solusi instan. Ia hadir sebagai teman sefrekuensi, seperti deep talk di tengah malam bersama sahabat. Setiap halaman mengingatkan bahwa menjadi ibu adalah proses belajar yang tak selesai, dan tak harus dijalani sendirian. Kita butuh dukungan—dari pasangan, keluarga, bahkan tetangga. Kita perlu ruang aman untuk berkata, “Aku lelah,” tanpa takut dihakimi.

Buku ini penting bukan hanya untuk para ibu, tapi juga untuk calon ayah, mertua, dan siapa pun yang berada di lingkaran seorang ibu baru. Karena dukungan bukan hanya tentang membantu mengganti popok, tapi juga tentang hadir dan memahami.

Parents, jika kalian—atau seseorang yang kalian kenal—pernah merasa kehilangan arah setelah melahirkan, bacalah buku ini. Izinkan diri untuk jujur, lelah, dan dipeluk. Sebab seperti yang dikatakan buku ini: You are doing great. You are not alone.

Jangan lupa, temukan buku Ibu, Kamu Tidak (Gila) Sendirian dan berbagai buku inspiratif lainnya hanya di nourabooks.co.id.

[ BELI BUKUNYA DI SINI ]


Referensi:

  • Fransisca Kumalasari, Lucia Priandarini, Rinda Amalia. (2025). Ibu, Kamu Tidak (Gila) Sendirian. Noura Books.
  • Gina S. Noer, Sakdiyah Ma’ruf, Catur Ratna Wulandari, dkk. (2025). Endorsement dan testimoni dalam Ibu, Kamu Tidak (Gila) Sendirian.