Tombak Utama Perekrutan ISIS di Media Sosial

Menurut Noor Huda Ismail yang merupakan penulis buku Jihad Selfie sekaligus pemerhati isu terorisme global, ISIS melakukan perekrutan melalui dua cara, yaitu rekrutmen pola lama dan rekrutmen pola baru. Rekrutmen pola lama dengan cara setiap individu yang terlibat dalam aksi terorisme biasanya diawali dengan bergabung dalam kelompok kekerasan seperti dengan melakukan aksi pengeboman.

Rekrutmen pola baru dengan cara mendapatkan informasi mengenai konflik di luar negeri (biasanya lewat media sosial) kemudian menjalin jaringan dengan para pelaku aksi dapat berupa framing keadaan, dunia islam, oleh media. Dengan rekrutmen pola baru ini banyak orang yang tertarik karena melihat postingan-postingan yang dikirim oleh para pelaku perekrut. Media sosial mengubah pendungkung pasif menjadi pendukung aktif (hlm.20).

Seperti yang diceritakan oleh Noor Huda Ismail dalam buku Jihad Selfie, saat ia sedang melakukan pembuatan video dokumenter, ia bertemu dengan anak laki-laki bernama Akbar (17 tahun). Akbar menceritakan semua mimpi-mimpinya kepadanya, Akbar juga menceritakan bahwa kedua teman di sekolahnya bergabung dengan ISIS melalui media sosial.

Melalui media sosial, Akbar sangat tertarik dengan apa yang dilakukan dengan kedua temannya. Video yang disebarluaskan melalui media sosial seperti kegiatan pelatihan militer kepada remaja tanggung, juga foto-foto temannya dengan memegang senapan membuat Akbar ingin ikut melakukan apa yang dilakukan oleh temannya.

Media sosial membuat Akbar terus menjalin hubungan komunikasi dengan teman-temannya. Akbar menemukan sosok pelaku bom bunuh diri di Irak juga melalui media sosial. Berkat media sosial, koneksi Akbar pun semakin banyak. Banyak remaja yang terpincut oleh kampanye media sosial ISIS. Banyak remaja seumuran Akbar yang juga mengikuti perkembangan konflik di Timur Tengah melalui media sosial.

Selain media sosial, faktor keyakinan dan faktor ekonomi membuat seseorang tertarik bergabung ke dalam ISIS. Dalam menegakkan syariah Islam, jihad dengan iming-iming surga adalah “ideologi” yang tak kalah dahsyatnya, yang kemudian menjadikan cita-cita sebagian anak muda yang mempunyai semangat tinggi. Tidak jarang saat ini anak muda mau melakukan aksi bom bunuh diri dengan iming-iming jaminan masuk surga. Begitu juga dengan masalah ekonomi yang dialami oleh calon penganut ajaran ISIS. Mereka diberi tawaran berjihad dengan iming-iming gaji yang sangat luar biasa.

Untuk itu, sebagai penerus generasi bangsa, harus pandai-pandai memilih teman, juga konten pada media sosial. Jangan karena terlihat keren, dengan mudahnya terbawa dalam permainannya. Semua yang ada di media sosial, baiknya harus dicek secara benar dan matang. Janganlah ditelan mentah-mentah semua info yang telah didapat, karena yang orang lain anggap baik, belum tentu baik untuk diri kita.[]

Christopher Robin dan Refleksi Kesibukan Manusia

03/09/2018

Jack Ma dan Hal Nyentrik yang Tak Mungkin Dilakukan Pebisnis Lainnya

03/09/2018