Tentang Kelahiran Nabi Muhammad

Rasulullah Muhammad Saw. dilahirkan pada hari Senin pagi, 10 Rabiul Awwal 571 M., bertepatan dengan Tahun Gajah (pendapat lain mengatakan, beliau lahir pada 30 Agustus 570 M.), 53 tahun sebelum hijrah, di Makkah Al-Mukarramah.

Ada beberapa perempuan yang menyusui beliau, dan yang pertama adalah ibunda beliau, yaitu Aminah (ibunya sendiri), kemudian Tsuwaibah Al-Aslamiyyah, lalu Khaulah binti Al-Mundzir, serta Ummu Aiman. Namun, yang paling lama menyusui beliau adalah Halimah binti Abu Dzu’aib Al- Sa’diyyah.

Tidak lama setelah Abdullah menikahi Aminah, dia berangkat dari Tanah Suci Makkah menuju Syam untuk berdagang. Dalam perjalanan pulang dari Syam, Abdullah jatuh sakit kemudian memutuskan untuk singgah di Yatsrib (Madinah), yang merupakan tempat tinggal paman-pamannya dari pihak ibunya yang berasal dari Bani Al-Najjar. Karena sakitnya cukup parah, Abdullah beristirahat di sana selama sebulan penuh. Namun, penyakitnya tak kunjung sembuh hingga akhirnya dia wafat dalam usia 25 tahun (ada yang berpendapat 28 tahun) dan dikebumikan di sana. Di saat yang sama, nun jauh di Makkah, istrinya tengah dua bulan mengandung putranya—Muhammad.

Pada 575–576 M., Muhammad dibawa ibunya ke Madinah untuk mengunjungi paman-pamannya dari pihak ibunya yang berasal dari Bani Al-Najjar. Mereka juga paman-paman Abdul Muthalib dari pihak ibu. Dalam perjalanan pulang ke Tanah Suci Makkah, ibunya jatuh sakit sampai akhirnya wafat dalam usia 30 tahun dan dimakamkan di Abwa’, meninggalkan putranya yang baru berusia enam tahun.

Selanjutnya, Muhammad kecil diasuh Ummu Aiman, salah seorang keturunan bangsawan Ethiopia (Habasyah). Kemudian pengasuhan diserahkan kepada kakeknya, Abdul Muthalib yang wafat pada 578 M., ketika Muhammad Saw. berusia delapan tahun. Sejak kematian Abdul Muthalib, Muhammad Saw. diasuh pamannya, Abu Thalib.

Pada 582 M., ketika Muhammad Saw. berusia 12 tahun, dia berangkat bersama Abu Thalib menuju Syam dan singgah di Bushra. Di daerah itu ada sebuah kuil yang ditinggali seorang rahib bernama Buhaira.

Pada usia 15 tahun, Muhammad Saw. terlibat dalam Perang Al-Fijar antara Quraisy dan Bani Kinanah serta Hawazin. Mengenai peperangan ini, Nabi Saw. bercerita, “Aku ikut serta dalam perang itu bersama paman-pamanku. Aku ditugasi menyediakan anak panah bagi mereka.”

Usai Perang Al-Fijar, Muhammad Saw. turut serta dalam Hilf Al-Fudhul (Sumpah Kehormatan), perjanjian yang dicetuskan beberapa pemuka Quraisy di kediaman Abdullah ibn Jud’an, sebagai upaya Quraisy untuk mencegah terjadinya kembali peperangan seperti Perang Al-Fijar. Mereka saling bersumpah atas nama Allah untuk membela orang yang dizalimi sehingga hak mereka dikembalikan. Nabi Saw. bersabda, “Rasa sukaku ketika menghadiri perjanjian di rumah Ibn Jud’an sama seperti rasa sukaku jika diberi unta merah. Mereka saling berjanji untuk membela orang yang dizalimi. Seandainya aku diajak untuk bergabung di dalamnya lagi, niscaya kupenuhi ajakan itu.”

Pada 595 M., ketika menginjak usia 25 tahun, Muhammad Saw. membawa barang-barang dagangan milik Khadijah binti Khuwailid untuk diperdagangkan di Syam, ditemani budak laki-laki Khadijah bernama Maisarah. Sepulangnya dari Syam, Maisarah bercerita kepada Khadijah tentang keistimewaan Muhammad yang dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Di antaranya dia menuturkan bahwa di tengah terik matahari dia melihat seakan-akan Muhammad Saw. selalu dinaungi malaikat yang meneduhinya dari paparan sinar matahari. Dia juga melaporkan hasil perniagaan dengan keuntungan yang berkali-kali lipat lebih besar daripada perjalanan niaga sebelumnya ketika dikelola orang lain.

Khadijah binti Khuwailid ibn Asad ibn Abdul Uzza ibn Qushay adalah seorang wanita mulia, bijaksana, dan saudagar kaya raya. Silsilah keturunannya termasuk yang paling mulia di kalangan Quraisy. Pada masa Jahiliah, dia dijuluki “wanita suci” (Al- Thâhirah) dan “pemimpin wanita Quraisy” (Sayyidah Quraisy). Banyak lelaki mencoba meminangnya, tetapi tak satu pun yang diterima.

Khadijah terpesona mendengar laporan dan cerita yang disampaikan budaknya, Maisarah, terutama tentang keistimewaan dan kemuliaan Muhammad Saw. Maka, tidak lama setelah kepulangan Muhammad Saw. dari perjalanan niaga ke Syam, Khadijah binti Khuwailid mengutus seseorang untuk membujuk Muhammad Saw. agar mau menikahinya. Maka, pada usia 25 tahun, Rasulullah Saw. menikahi Khadijah yang ketika itu berusia 40 tahun.

Dari pernikahan ini, Khadijah melahirkan semua anak Rasulullah Saw., kecuali Ibrahim, putranya yang lahir dari rahim Mariah Al-Qibthiyyah (wanita asal Koptik, Mesir). Anak sulung Nabi Saw. dari Khadijah adalah Al-Qasim, kemudian Al- Thayyib (Al-Thahir), lalu Ruqayyah, Zainab, Ummu Kultsum, dan putri bungsunya adalah Fathimah.

Keluhuran dan kemuliaan akhlak Muhammad Saw. telah dikenal masyarakat Makkah sejak beliau masih kanak-kanak. Berkat kejujurannya, penduduk Makkah memberinya julukan istimewa, yaitu al-Amin—berarti yang jujur dan tepercaya. Karena itu, banyak di antara warga Makkah yang menitipkan barang atau hartanya kepada Muhammad hingga akhirnya beliau hijrah ke Madinah. Sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah Saw. menyuruh Ali ibn Abu Thalib untuk mengembalikan barang-barang titipan itu kepada pemiliknya masing-masing. Barulah setelah menjalankan tugas itu, Ali ibn Abu Thalib menyusul hijrah ke Madinah.

Beberapa lama sebelum wahyu turun kepada Muhammad Saw., beliau tergerak untuk menyendiri di Gua Hira. Di gua itulah selama beberapa malam, beliau beribadah berdasarkan agama Nabi Ibrahim.

Ketika usia Muhammad Saw. genap 40 tahun 6 bulan—menurut perhitungan kalender bulan (Qamariah)—beliau mendapat wahyu dari Allah saat berkhalwat di Gua Hira. Malaikat Jibril turun menemui beliau dan menyampaikan kabar bahwa Allah telah mengangkatnya sebagai nabi utusan Allah bagi umat manusia. Peristiwa itu terjadi pada hari Senin, 17 Ramadhan 610 M. Setelah mendapatkan wahyu pertama, Rasulullah Saw. menyeru keluarga dan kerabat terdekatnya untuk beriman kepada Allah. Lelaki dewasa pertama yang beriman dan mengikutinya adalah Abu Bakar r.a. Remaja pertama yang beriman kepadanya adalah Ali ibn Abu Thalib. Wanita pertama yang beriman adalah Khadijah. Maula (budak yang telah dimerdekakan) pertama yang beriman adalah Zaid ibn Tsabit, dan budak pertama yang beriman kepada beliau adalah Bilal ibn Rabah yang berasal dari Ethiopia (Habasyah).

Pengantar Percy Jackson's Greek Gods

25/02/2016

Editor Penulis

25/02/2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *