Christopher Robin dan Refleksi Kesibukan Manusia

Umumnya, film-film sedih punya adegan perpisahan saat konflik mulai memuncak. Pada babak ketiga, sad ending adalah tahap terakhir untuk menyelesaikan segala konflik yang dihadapi protagonis. Jika sutradara ingin membuka lahan diskusi di mata penonton, film sedih punya sad sekaligus hanging ending. Lantas, apakah film Christopher Robin masuk kategori film sedih dengan sad dan hanging ending?

Christopher Robin (2018) bukan semata-mata film sedih. Ia justru menawarkan perpisahan pada babak satu. Sebagai simbol perpisahan itu, Robin kecil (Orton O’Brien) membawa kue untuk dihidangkan kepada sahabat-sahabatnya. Hanya beberapa yang antusias memakan kue perpisahan itu sampai terlelap tidur di meja kayu. Robin kecil mengajak Winnie the Pooh saling cakap di sekitar belantara Hundred Acre Wood. Percakapan mereka tak patut dibilang remeh.

“Tidak melakukan apa-apa sering menuntunmu kepada suatu yang terbaik,” ujar Winnie the Pooh.

Christopher Robin kecil pun kembali ke rumahnya. Dia diasramakan oleh orangtuanya. Sang ayah-lah yang lebih getol mengasramakan Robin demi tercapai pribadi yang disiplin dan mandiri. Sekilas, kembali dari asrama, Robin kehilangan ayahnya. Kilas-kilas selanjutnya menampilkan Robin dewasa (Ewan McGregor), pertama kalinya bertemu dengan Evelyn (Hayley Atwell), berdansa dengan Evelyn, menikah, punya gadis lucu bernama Madeline (Bronte Carmichael), meninggalkan istri dan anaknya demi berperang selama tiga tahun, dan sekembalinya dari bela negara, Robin menyapa Madeline dan berusaha meyakinkannya bahwa dialah ayahnya.

review film Christopher Robin Winnie the Pooh

Christopher Robin dan Luapan Kesibukannya

Setelah berprofesi sebagai militer, Christopher Robin memulai pekerjaan barunya. Dia menjadi pegawai di bidang industri tas kerja di Winslow Luggage. Lejitan karirnya sampai pada posisi manajer efisiensi. Sebab posisi itu, Robin dewasa adalah seorang workaholic. Berbeda 180 derajat dari Robin kecil yang hobi bermain, Robin dewasa selalu sibuk. Christopher Robin lupa bahwa tugas utama sebagai kepala keluarga adalah memiliki waktu untuk keluarga.

Kalaupun Robin punya kesempatan menyisihkan waktunya, itu tidak akan lama. Paling mentok, misalnya, saat Robin diminta Madeline membacakan cerita. Sejenak setelah mengiyakan permintaan anaknya, Robin gagal membuahkan bahagia bagi anaknya. Robin justru membacakan kisah sejarah Inggris, sementara Madeline ingin dibacakan buku yang sudah dia siapkan di balik bantalnya. Demi mencegah kebosanan kisah sejarah, Madeline bilang bahwa dia mengantuk. Waktu bersama si kecil selesai. Secepat kalimat yang sebelumnya diucapkan Madeline.

“Ayah, aku tak pernah melihatmu.”

Istri Robin bukan sembarang ibu. Dia tahu bahwa anak perempuannya butuh waktu bermain. Evelyn menghimbau Robin ikut berlibur bersama Madeline. Namun, Robin menolak tanpa alasan yang jelas. Robin tidak menjelaskan detil mengenai pekerjaannya menangani efisiensi perusahaan atasannya sekaligus terkuras pikirannya tentang wacana dipecatnya semua bawahan itu.

Baca juga: 5 Fakta Menarik Tentang Winnie the Pooh

Christopher Robin dan Winnie the Pooh Bertemu Kembali

Titik frustasi tiba, yakni saat Robin ditinggal istri dan anaknya tersayang. Titik frustasi juga tiba di Hundred Acre Wood: Winnie the Pooh ditinggal sahabat-sahabatnya entah ke mana. Kala Robin sibuk dengan pikuknya London, Pooh sibuk mencari Piglet, Tigger, Eeyore, dan sahabat lainnya. Gagal menemukan sahabat-sahabatnya, Pooh melihat salah satu pintu lorong pohon terbuka, bagian dalam pohon itu pernah disinggahi Robin kecil. Berhasil masuk lorong tersebut, Pooh beranjak di lingkungan rumah Robin.

Pertemuan mereka yang ganjil di suatu taman mampu membuahkan tawa. Mulanya, Christopher Robin menghindar dari pencarian tetangga yang gemar bermain kartu. Dan masuklah dia ke taman. Setahunya ada beruang yang bicara di belakangnya, Robin langsung menoleh. Robin berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia tengah mengalami stres. Akhirnya, Robin menyentuh perut Pooh. Winnie the Pooh itu nyata!

Christopher Robin sedikit mengurangi intensi mengurus pekerjaannya di rumah. Pooh membuatnya repot. Maka dari itu, Robin harus memulangkannya. Robin pun mengantarnya. Ke Sussex, mereka berdua saling berpolah jenaka: ribut soal balon merah, ribut soal permainan ‘Sebutkan Apa yang Kamu Lihat’ di kereta, dan ribut soal apakah sebaiknya Pooh diam di hadapan manusia asing atau bebas berekspresi menjadi diri sendiri.

Sesampainya di lorong yang bisa mengantarkan Pooh kembali ke Hundred Acre Wood, Christopher Robin menyampaikan salam perpisahan. Pada adegan ini, tangisan bisa pecah. Namun, tangisan bisa terobati setelah Robin memilih ikut Pooh. Nostalgia masa kecil pun dimulai.

Kehangatan dan kesuraman terjadi. Hangat rasanya melihat Christopher Robin kembali akrab dengan Pooh. Suram rasanya melihat kabut di sekitar Hundred Are Wood hingga membuat Robin dan Pooh bertengkar.

Pada titik ini, pembahasan mengenai makna kebersamaan berusaha dipertanyakan Winnie the Pooh. Pooh ingat, waktu perjalanan di kereta menuju Sussex, Christopher Robin berujar bahwa kopernya itu penting. Karena penting dan bersinggungan dengan karirnya, Robin membawanya. Lantas, Pooh menanyakan apakah Madeline itu penting. Tanpa jeda yang lama, Robin menjawab bahwa Madeline sangat penting baginya. Pooh si beruang cerdas meragukannya.

“Jika penting, mengapa dia tidak bersamamu?”

Ucapan Pooh menjadi refleksi kita atas pekerjaan dan keluarga. Apakah kita menganggap koper (karier) lebih penting ketimbang anak sendiri (dalam hal yang lebih luas: keluarga)?

Berdamainya Keluarga Sibuk

Tentu Christopher Robin perlu berdamai dengan istri dan anaknya. Beruntung ada Pooh dan sahabat-sahabatnya yang pada babak akhir tidak sengaja bertemu dengan Madeline. Madeline tak mengira, beruang pandir yang digambar ayahnya ternyata benar-benar nyata.

Bersama Pooh, Piglet, Tigger, dan Eeyore, Madeline mengantar berkas-berkas ayahnya yang sebelumnya tertinggal di Hundred Acre Wood. Pada waktu yang bersamaan, Christopher Robin gugup di kantor, berkas-berkasnya tidak ada di koper. Namun, akhirnya Madeline tiba di London. Madeline tergesa mencari alamat perusahaan Winslow. Dia terjatuh di suatu anak tangga dan angin kencang di kota itu menerbangkan berkas-berkas milik ayahnya. Madeline hanya bisa menyelamatkan satu lembar. Satu lembar itu menjadi penyelamat Robin.

Christopher Robin kembali ke kantornya, diikuti tokoh-tokoh yang baik hati di belakangnya. Di hadapan para pemegang andil perusahaan, Robin menggebu-gebu mengusulkan konsep tas koper yang berkaitan liburan. Usulan itu dianggap remeh oleh seorang atasannya, tetapi diunggulkan oleh direktur yang lebih tua.

Happy Ending Christopher Robin dan Refleksinya

Christopher Robin tidak sepenuhnya masuk dalam kategori film sedih. Sang sutradara, Marc Forster (World War Z, The Kite Runner), paham betul bahwa demi terciptanya happy ending, pertemuan kembali adalah adegan yang perlu dimuat setelah dua adegan perpisahan: Robin dengan keluarga dan Robin dengan sahabat kecilnya.

Bukan sekadar premis film semua umur dan gagasan yang sederhana, Christopher Robin menuntut penonton dewasa untuk menilik kembali apa makna keluarga. Terlebih bila makna keluarga itu disandingkan dengan kadar kesibukan manusia. Kesibukan memang sering menyebalkan bagi diri sendiri dan kerabat dekat. Jika dibandingkan, kebahagiaan dan kenangan masa kecil tidak akan bisa dikalahkan oleh kesibukan hari ini. Winnie the Pooh dalam Christopher Robin tidak bertutur soal kebahagiaan semata. Lebih jauh, Pooh hanya meminta penontonnya merefleksikan kembali kehidupan manusia.

Tidak bisakah manusia itu bangun pagi lalu mencari madu dan bersenang-senang dengan kerabat saja? Atau, jenjang karir adalah hak prerogatif manusia dewasa yang tidak patut dipertanyakan oleh beruang pandir yang lucu itu? [svm]

 

Mengenal Filosofi Hidup dari Negeri Samurai

30/08/2018

Jack Ma dan Hal Nyentrik yang Tak Mungkin Dilakukan Pebisnis Lainnya

30/08/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *