Rahasia Mona Ratuliu Atasi Kecanduan Gadget pada Anak

Mousumee Das Paul sedang berkunjung ke rumah temannya Rita, seorang pemilik spa yang memiliki anak perempuan bernama Nikita yang masih sekolah di taman kanak-kanak. Ketika Rita memesankan snack dan jus untuknya, ia melihat Nikita sedang duduk di pojok asyik dengan HP-nya di pojokan. Nikita sempat menyapanya meski matanya masih sibuk menatap layar HP.

Rita mencoba memaksa Nikita menyimpan HP-nya terlebih dahulu, namun ia malah berteriak. Rita tampak pasrah dengan kelakuan putrinya. Nikita masih asyik saja duduk di pojok, tidak menatap tamu ibunya atau sekadar menoleh meski Rita berulang kali memanggil namanya. Rita bercerita, karena ia begitu sibuk mengurusi bisnis spa-nya, ia pun memberikan HP-nya ke Nikita agar ia punya kegiatan, dan sejak itu Nikita mulai kecanduan bermain game di HP ibunya.

Kisah nyata yang dilansir dari Momspresso tersebut hanya gambaran kecil dari fenomena anak kecanduan gadget. Survei yang dilakukan pada tahun 2016 oleh Common Sense terhadap sekitar 1.200 orang tua dan remaja menunjukkan 59 persen orang tua meyakini anak remajanya telah kecanduan gadget. Lantas bagaimana solusinya?

Mona Ratuliu, artis dan juga penulis buku ParenThink dan Digital ParenThink membagikan rahasianya mengatasi dan mencegah kecanduan gadget pada anak dalam sesi Instagram Live “Bijak dengan Gadget Saat #DiRumahAja”, Kamis (16/4/2020) sore. Rahasia ini berdasarkan pengalaman Mona selama mengasuh anak, dan kemudian mempelajari ilmu parenting, sebelum ia menulis kedua buku tersebut.

Berikut adalah inti sari dari poin-poin yang disampaikan Mona:

1.         Jangan Musuhi Gadget

Mindset dasar yang harus tertanam di pikiran orang tua ialah kita tidak dapat lepas sepenuhnya dari gadget. Jika dimanfaatkan dengan baik, gadget dapat memberi manfaat bagi penggunanya.

“Kita enggak bisa musuhin gadget sama sekali, benar-benar kepakai banget kehidupan sehari-hari. Kalau tahu treatment, bisa jadi hal positif buat kita,” ujarnya.

Orang tua juga tidak seharusnya menggunakan pendekatan yang dipakai orang tua terdahulu di periode sebelumnya. Mereka harus tahu karakteristik umum anak zaman sekarang agar paham dasar permasalahan yang dihadapi seandainya anak kecanduan gadget.

Buku Digital Parentink Mona Ratuliu
Buku Digital Parentink Mona Ratuliu

“Di buku Digital ParenThink juga dibahas bedanya zaman dulu sama zaman sekarang. Karena generasi now dianggap negatif terus, bukan karena (hal-hal) jelek melulu, tapi memang ada perbedaan (pandangan),” jelasnya.

Menurutnya, gadget bagaikan pisau bermata dua. Jika tak dikelola dengan baik, maka justru akan menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif pada anak, berdasarkan pengalamannya akibat dari keengganan orang tua mendampingi anaknya bermain, sehingga justru memberikannya gadget agar ia punya aktivitas.

“Sebenarnya anak-anak enggak spesifik (butuh) main gadget, anak-anak butuh bermain, tapi enggak harus gadget. Karena orang tua butuh me time, dikasihlah gadget,” jelasnya.

Oleh karena itu, menurutnya orang tua perlu lebih perhatian pada tumbuh kembang anak. Terdapat beberapa aspek tumbuh kembang anak yang harus diperhatikan orang tua, yang tidak secara sendirinya bisa diatasi dengan memberikan gadget ke anak tanpa pengawasan.

“Kan ada perkembangan-perkembangan anak lainnya, misal perkembangan motorik, terus ada perkembangan fisiknya, cek perkembangan fisiknya. Perkembangan sosialnya gimana, perkembangan moral gimana, perkembangan bahasa gimana kan gadget itu (komunikasi) satu arah aja, perkembangan neurologi gimana, perkembangan kognitif gimana,” sebutnya satu per satu.

2.         Ajak Anak Membuat Kesepakatan

Langkah utama sebelum anak diajak terlibat membuat kesepakatan soal penggunaan gadget ialah anak perlu dikenalkan pada batasan. Sedini mungkin anak-anakdiperkenalkan pada kata ‘selesai’.

“Kalau anak enggak dikenalkan batasan, enggak ada selesainya. Dia mikir kegiatan bisa seharian. Kalau kita ajak ngomong, kan menstimulasi dia ngomong gitu ya, contoh pas mandiin anak, di akhir ngomong, ‘Selesai deh’. Nah, dengan cara sesederhana itu kita kenalkan batasan,” jelasnya sambil memberi contoh memanfaatkan momen memandikan anak.“Kalau anak-anak mengenal batasan, harapannya suatu hari anak bisa diajak bersepakat semua ada aturannya, ada batasannya,” lanjutnya.

Orang tua juga perlu menggunakan otoritas penuh dalam memberi batasan pada anak saat bermain gadget. Anak sepatutnya belum layak mendapatkan kepemilikan gadget, hanya boleh dipinjami saja, sehingga orang tua dapat leluasa menggunakan kewenangannya.

“Intinya ngajak anak bersepakat, ini gadget ayah bundanya, anak-anak (cuma) pinjam. Jadi wajar kalau dikasih aturan karena itu gadget punya orang tuanya,” ujarnya.

Oleh karena itu, anak diajak membuat kesepakatan bersama soal penggunaan gadget. Dengan demikian anak dapat ikut menentukan waktu penggunaan gadget. Ia mencontohkan aturan penggunaan gadget di keluarganya.

“Boleh main gadget sampai jam 8 malam, kalau semua tugas dan tanggung jawabnya selesai,” ungkapnya.

Aturan dibuat tertulis, dan ditandatangani oleh anak-anak. Selain itu, dilampirkan pula konsekuensi atas pelanggaran yang dibuat..

“Kalau bisa tertulis, terus ditandatangani sama anak-anak, pokoknya ada tanda tangan. Ada kesepakatannya apa, anak-anak juga bisa kasih masukan, misal orang tua juga jam 8 berhenti main gadget-nya. Jangan lupa melampirkan konsekuensinya. misal jam 8 lewat belum dimatiin gadgetnya, besoknya enggak main gadget seharian,” jelasnya.

Dari pengalamannya, adanya aturan tersebut justru membatasi waktu anak bermain gadget pada hari-hari biasa karena mereka terlebih dahulu harus menuntaskan tugas masing-masing.

“Yang udah-udah, Senin-Jumat anak-anakenggak sempat main gadget, karena ngerjain tugas. Akhirnya, ujung-ujungnya enggak sempat main gadget karena tanggung jawabnya enggak sedikit. Dengan kesepakatan sederhana itu, dia enggak sempat main gadget kalauweekdays, kalauweekend sih sempat,” ungkapnya.

3.         Buat Aktivitas Menarik

Untuk mengalihkan perhatian anak pada gadget, maka orang tua dapat memberikan aktivitas lain bagi anaknya. Aktivitas tidak selalu diartikan pengembangan minat bakat, tetapi juga aktivitas rumah tangga sehari-hari.

“Kalau anak mau sehat, ya kasih activity, misal anaknya nyuci, bantuin ibunya pisah baju putih dengan baju warna lain, habis itu masukin baju putih ke cucian. Nyapu walau enggak bersih-bersih amat, ya bisa kasih anak aja nyapu. Boleh juga kasih kesepakatan, boleh main gadget, setelah bantuin ibunya beresin rumah,” jelasnya.

Agar anak tertarik, maka aktivitas tersebut harus dikemas secara menarik. Tidak lupa, orang tua juga wajib memberi apresiasi setiap kali anak menuntaskan aktivitas yang diberikan.

“Kita mesti pakai bahasa-bahasa yang bikin anak semangat ngelakuin. Misal, ‘Hari ini ada challenge apa ya?’ Terus jangan lupa kasih apresiasi juga kalau mereka udah selesai melakukan,” tambahnya.

Mona sempat menghadapi hambatan menegakkan budaya batasi gadget ketikahimbauan untuk beraktivitas dari rumah akibat penyebaran virus corona semakin meningkat mulai digalakkan. Namun, ia mulai beradaptasi, dan merancang kegiatan-kegiatan bagi anggota keluarganya yang dapat mengisi waktu luang selama beraktivitas di rumah.

“Kita bikin aktivitas, kita bikin jadwal. Mereka (anak-anak) biasanya sampai jam 2 (siang) sekolah (via online), setelah itu, masih ada tugas lanjutan. Habis itu sampai malam nonton, waktu itu pernah tebak gambar, pernah juga main kartu,” ungkapnya.

Agar tidak bosan, maka ia, suami, dan anak-anaknya terus merancang variasi kegiatan untuk mengisi waktu luang selama beraktivitas di rumah.

“Idealnya kita bikin rutinitas baru, terus sampaikan dengan baik, ini bukan libur tapi memindahkan aktivitas ke rumah,” ujarnya. (fja)

Mengatasi Cemas Karena COVID-19 ala Penulis Buku Happiness Inside

17/04/2020

Ini Dia 5 Tips Menulis Agar Dilirik Penerbit

17/04/2020