Mengikuti Rasa Ingin Tahu Dapat Membuat Dunia Menjadi Tempat yang Lebih Baik

Ruang-Baca-Mengikuti Rasa Ingin Tahu Dapat Membuat Dunia Menjadi Tempat yang Lebih Baik
Ruang-Baca-Mengikuti Rasa Ingin Tahu Dapat Membuat Dunia Menjadi Tempat yang Lebih Baik

Salah satu momen yang luar biasa dalam Think Like a Freak, Steven Levitt dan Stephen Dubner mengajukan pertanyaan berikut; Siapa yang lebih mudah dibodohi, anak-anak atau orang dewasa? Tentu saja, jawabannya jelas anak-anak. Ungkapan klisenya adalah mengambil permen dari tangan bayi, bukan dari seorang pria dewasa. Namun, alih-alih menerima kearifan konvensional sebagai sebuah fakta, kedua pria tersebut membahasnya dengan Alex Stone, seorang pesulap—seseorang yang berkecimpung dalam bisnis membodohi orang. Mereka menanyakan apa pendapatnya. Dan, jawaban Alex? Orang dewasa.

Stone memberi contoh trik sulap dasar “pengangkat ganda”, saat dua kartu ditampilkan seolah satu. Triknya adalah bagaimana seorang pesulap tampak mengubur sebuah kartu yang Anda pilih secara acak dan kemudian, secara gaib, mengambilnya kembali. Sepanjang kariernya, Stone telah sangat sering melakukan trik pengangkat ganda ini. Dia mengatakan bahwa anak-anak—luar biasanya—yang mampu menerka triknya. Tugas seorang pesulap adalah memberikan serangkaian petunjuk untuk mengarahkan perhatian penonton. Orang dewasa sangat pandai dalam mengikuti petunjuk dan memperhatikan. Namun, tidak demikian dengan anak-anak. Pandangan mereka selalu berkelana. Orang dewasa memiliki serangkaian ekspetasi dan asumsi mengenai cara dunia ini bergerak, yang membuat mereka menjadi rentan terhadap profesi yang mencoba mengeksploitasi ekspektasi dan asumsi tersebut. Anak-anak tidak cukup tahu untuk dapat dieksploitasi. Anak-anak jauh lebih ingin tahu. Mereka tidak terlalu memikirkan masalah. Mereka lebih berpikir bahwa dasar dari trik sulap adalah sesuatu yang benar-benar sederhana. Dan, yang terpenting—dan ini adalah favoritku—anak-anak lebih pendek daripada orang dewasa. Jadi, mereka melihat trik sulap dari sudut pandang yang berbeda dan lebih jelas.

Think Like a Freak bukanlah sebuah buku tentang bagaimana cara memahami trik sulap. Itu adalah topik dalam dua buku pertama Dubner dan Levitt—Freakonomics dan SuperFreakconomics. Think Like a Freak adalah tentang perilaku yang kita perlukan serta mengatasi berbagai trik dan masalah yang dunia lemparkan kepada kita. Dubner dan Levitt memiliki resep tentang seperti apa perilaku itu. Namun, fondasinya adalah menarik diri Anda ke dalam pikiran seorang anak kecil, mendongak, menatap trik pengangkat ganda. Bebaskan diri Anda dari ekspektasi, bersiap untuk mendapatkan penjelasan yang sangat, sangat sederhana, dan biarkan perhatian Anda berkelana dari waktu ke waktu.

Dubner dan Levitt sekilas menelaah argumen tersohor mereka dari buku pertama tentang kaitan antara gelombang aborsi di tahun 1970-an dan menukiknya tingkat kriminalitas dua puluh tahun kemudian. Tujuan mereka bukanlah untuk mendebat ulang pernyataan tersebut. Tujuannya adalah untuk menekankan bahwa kita tidak seharusnya menghindari argumen seperti itu hanya karena itu membuat kita merasa sedikit tersinggung. Dubner dan Levitt juga mengisahkan tentang seorang dokter Australia, Barry Marshall, yang telah menggulingkan kepercayaan selama bertahun-tahun saat dia membuktikan bahwa tukak lambung (ulcer) sesungguhnya disebabkan oleh bakteri gastrik, bukan makanan pedas/asam dan stres. Ide tersebut pada awalnya dianggap sangat sesat. Itu benar-benar tidak masuk akal. Itu semacam ide asal yang hanya bisa dimiliki oleh seorang anak kecil. Namun, Dubner dan Levitt menunjukkan, dalam buku terbaru mereka yang begitu memikat, bahwa mengikuti rasa ingin tahu Anda—bahkan sampai ke titik yang sangat tidak masuk akal dan sesat—dapat membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Selain itu, juga sangat menyenangkan.


Artikel di atas merupakan komentar Malcolm Gladwell setelah membaca buku Think Like a Freak.

Jakarta Lalu Brussels: Teror ISIS Terus Berlanjut?

23/03/2016

Si Gadis Pemulung yang Menjadi CEO

23/03/2016

Leave a Reply