Mengenal Filosofi Hidup dari Negeri Samurai

filosofi-hidup-jepang-ikigai

Peresensi: Al Mahfud

Jika disebutkan Negeri Samurai, pikiran kita mungkin langsung terarah pada sebuah negara yang masyarakatnya dikenal disiplin, rajin, dan punya totalitas. Ya, anggapan tersebut memang tidak keliru. Bangsa Jepang dikenal memiliki etos kerja yang tak hanya gigih dan disiplinan, namun juga menyimpan banyak filosofi hidup lain yang turut menunjang karakteristik tersebut. Di buku The Book of Ikigai, kita akan dikenalkan dengan salah satu filosofi penting yang dimiliki masyarakat Jepang.

Ken Mogi mengenalkan kita dengan ikigai, sebuah filosofi, prinsip, juga spirit yang banyak ditemui dalam diri orang-orang Jepang yang telah terbuksi sukses, baik dalam pekerjaannya maupun dalam menikmati hidupnya dengan bahagia. Umumnya, ikigai adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. “Kata itu secara harfiah meliputi “iki” (untuk hidup) dan “gai” (alasan),” tulis Ken Mogi. Ikigai memiliki pilar-pilar penting, seperti “awali dari hal kecil”, “bebaskan dirimu”, “keselarasan dan kesinambungan”, “kegembiraan dari hal-hal kecil”, dan “hadir di tempat dan waktu sekarang”.

Salah satu karakter orang Jepang adalah kemampuan menyerap lalu menyesuaikan dan menguasai sesuatu yang telah diimpor. Tak sekadar meniru, namun benar-benar dikuasi dan diubah dengan karakternya sendiri. Seperti misalnya, karakter huruf China dari zaman kuno, teknik-teknik membuat taman Inggris yang banyak dicontoh saat ini, hingga olahraga Bisbol dari Amerika Serikat yang berevolusi menjadi olahraga Jepang dengan ciri yang berbeda. Karya-karya penulis Eropa juga banyak diterjemahkan dan dijadikan serial anime yang sukses dan mampu menarik banyak penggemar yang nyaris fanatik.

Baca juga:

Salah satu pilar ikigai adalah “hadir di tempat dan waktu sekarang”. Tentang hal ini, perhatian kita diarahkan pada keunggulan Jepang dalam bidang manufaktur alat-alat rumit seperti kamera medis. Komitmen terhadap kesempurnaan menjadikan kamera-kamera medis Jepang terbaik di dunia. Semua itu tidak bisa lepas dari karakter bangsa Jepang yang menaruh perhatian sepenuhnya pada pengalaman-pengalaman indriawi, yang penting untuk membuat operasi halus yang mendukung keahlian dan manufaktur teknologi tinggi.

Bangsa Jepang cenderung meyakini bahwa terdapat kedalaman tak terbatas pada suasana-suasana yang dipertunjukkan oleh limpahan warna-warni alam dan artafek, sama seperti kedalaman kasih Tuhan yang menciptakan seluruh semesta. Kita disuguhi contoh Sei Shonagon, seorang wanita dayang-dayang yang melayani permaisuri Teishi pada sekitar tahun 1000 Masehi. Ia terkenal akan koleksi esai Makura no soshi (The Pillow Book). Pendekatan Sei Shonagon dalam The Pillow Book, menurut Ken Mogi, dapat dihubungkan dengan konsep kontemporer “kesadaran”. Dan untuk mempraktikkan kesadaran tersebut, penting untuk menghadirkan jiwa dan raga di tempat dan waktu sekarang, tanpa terburu-buru membuat penilaian (hlm 67).

Artinya, “hadir di tempat dan waktu sekarang” berari mengarahkan sepenuhnya pikiran dan perhatian kita pada apa yang kita kerjakan, sehingga kita bisa bekerja dengan penuh kesadaran dan menghasilkan karya berkualitas. Ikigai tak sekadar tentang etos bekerja. Lebih jauh juga tentang menjalani hidup. Di buku ini, dijelaskan bahwa ikigai juga membawa dampak baik bagi kesehatan. Seorang penulis Amerika Dan Buettner, tulis Ken Mogi, membahas ikigai secara spesifik sebagai etos bagi kesehatan dan usia panjang.

Baca juga:

Buettner menjelaskan ciri-ciri gaya hidup dari lima tempat di dunia tempat orang-orang berumur panjang. Zona-zona tersebut adalah Okinawa di Jepang, Sardinia di Italia, Nicoya di Kosta Rika, Ikaria di Yunani, dan di tengah kaum Advent Hari Ketujuh di Loma Linda California. Dari semua zona tersebut, masyarakat Okinawa memiliki angka harapan hidup paling tinggi. Lebih lanjut, Buettner mengutip kata-kata warga Okinawa sebagai kesaksian atas Ikigai. Ia adalah seorang master karate berusia 102 tahun, yang berkata bahwa ikigai-nya adalah memelihara seni bela diri-nya. Kemudian, seorang nelayan 100 tahun, yang berkata bahwa ikigai-nya dapat ditemukan dengan terus menangkap ikan bagi keluarganya tiga kali seminggu.

Menurut Ken Mogi, bila digabungkan, pilihan-pilihan gaya hidup sederhana tersebut memberi petunjuk akan hakikat ikigai itu sendiri, yakni rasa komunitas, diet yang seimbang, dan kesadaran spiritualitas (hlm 8-9). Di bagian akhir, penulis menegaskan bahwa implikasi ikigai bisa melampaui batas-batas negeri. Siapa pun mungkin memiliki ikigai versi masing-masing; sebuah alasan dan dorongan yang membuat orang bekerja dengan totalitas, gairah, sekaligus ikhlas.[]

** Resensi pernah dimuat di Kabar Madura edisi terbit tanggal 29 Agustus 2018.

Rebut Kembali Hatimu

29/08/2018

Christopher Robin dan Refleksi Kesibukan Manusia

29/08/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *