Mengaji Hikmah dan Kearifan Rumi

Ruang Baca-Mengaji Hikmah dan Kearifan Rumi
Ruang Baca-Mengaji Hikmah dan Kearifan Rumi

Dalam tradisi sufi, nama Maulana Jalaluddin Rumi adalah samudera tak bertepi. Ia menjadi tonggak spritualitas sekaligus pengetahuan kaum sufi yang melahirkan syair-syair indah sebagai ritual sang salik, penempuh jalan sunyi. Puisi-puisi Rumi sejatinya merupakan renungan penuh misteri yang menuntun manusia menapaki langkah demi langkah memasuki labirin terdalam dirinya, mengenali Tuhan sebagai kekasihnya. Inilah yang menjadikan puisi-puisi Rumi sangat digemari hingga terabadikan selama ratusan tahun. Dari belantara puisi-puisi Rumi, Dr. Haidar Bagir menghadirkan kepingan-kepingan reflektif agar mudah diserap oleh pembaca di Indonesia. Terutama, ketika merespon sistem dan analogi berpikir media sosial.

Belajar Hidup dari RumiBuku “Belajar Hidup dari Rumi” berasal dari resapan-renungan Haidar Bagir, yang disarikan dari puisi-puisi indah Maulana Rumi. Tentu saja, potongan berupa kepingan-kepingan puisi yang tersaji sudah melalui proses penyuntingan, pengendapan, hingga refleksi terhadap problem keseharian manusia masa kini. Melalui buku ini, Haidar Bagir ingin menghadirkan Rumi dalam refleksi sehari-hari. Menjadikan puisi-puisi Rumi kontekstual dalam hiruk-pikuk sekaligus merenungkan problem manusia masa kini. Haidar Bagir dengan jeli, menjadikan puisi Rumi sebagai obat kerinduan, air segar bagi mereka yang haus, serta gizi bagi mereka yang kelaparan. Tentu, puisi-puisi yang menjadi pelajaran hidup ini, tersaji dalam balutan cinta, dalam endapan rindu.

Buku ini, berasal dari ikhtisar Haidar Bagir dalam melakukan perenungan atas puisi-puisi Rumi. Secara periodik, Haidar Bagir menampilkan dalam serangkaian kultwit di Twitter, tentu saja dengan penyuntingan karena keterbatasan teknik. Dalam memahami penyuntingan dan bahkan pemendekan puisi, Haidar Bagir menyampaikan beberapa argumentasi: Pertama, bahwa sependek apapun, potongan puisi itu harus bermakna. Bahkan, bukan hanya harus sekedar bermakna, tapi melainkan sudah harus menyimpan di dalamnya, kebaikan yang dapat diambil pembaca. Kedua, potongan yang dipilih harus beresonansi kuat dengan pembaca. Yakni, terkait dengan kenyataan hidup sehari-hari pembaca.

Jalaluddin Rumi memiliki nama lengkap Syekh Maulana Muhammad bin Muhammad bin Husain al-Khatabi al-Bakri. Beliau disebut Rumi, karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya Turki, yang pada waktu itu masuk daerah Rum (Romawi). Rumi dilahirkan pada 6 Rabiul Awal 604 H/30 September 1207 di Balkh, kawasan Afghanistan. Rumi dilahirkan di tengah keluarga yang cinta ilmu dan pengetahuan. Ayahnya bernama Bahauddin Walad, keturunan Abu Bakar. Sedangkan, ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khawarazm. Keluarga Rumi berpindah-pindah untuk mencari keamanan, karena ada serbuan dari tentara Jengish Khan di tanah kelahirannya. Ia pernah tinggal di Anatolia, kemudian Nisyapur, lalu Damaskus, hingga akhirnya menetap di Konya.

Dari samudra tak bertepi berupa puisi Rumi, dengan membaca buku ini, kita akan diajak berpetualang mengarungi gelombang-gelombang cinta dan deburan ombak spiritualitas. Endapan pengalaman, kristalisasi renungan, serta hikmah-hikmah yang disajikan oleh Haidar Bagir menjadi catatan penting bagi pembaca untuk menjadikan Rumi sebagi penawar kegalauan di tengah kecemasan. Dengan jeli, Haidar Bagir menjadikan cinta sebagai panggung bagi seluruh puisi-puisi Rumi. Menurut Haidar Bagir, “cinta tidak pernah gagal menghadapi kesulitan sebesar apapun, karena cinta mengatasi kesepian dan kesendirian, betapapun intensnya. Akankah manusia yang berasyik-masyuk dengan Tuhan, Yang Maha Pengasih-Penyayang, sekaligus Maha Kuasa—bisa kesepian? Apakah manusia yang menjadikan hidupnya sebagai sumber kasih sayang bagi manusia lain bisa kesepian?” ungkapnya.

Buku ini, dengan jelas menghadirkan kisah kerinduan dan cinta. “Puisi adalah notasi-notasi kasar dari musik yang adalah (keseluruhan) diri kita,” ungkap Maulana Rumi. Dari sekitar 270 kepingan puisi yang dihadirkan dalam buku ini, sebagian besar mengajarkan tentang hakikat cinta dan kehidupan. Kepingan syair Rumi dalam buku ini, terasa segar untuk memahami alur kehidupan yang demikian kompleks. “Jadilah lentera, atau sekoci penyelamat, atau sebuah tangga. Bantu sembuhkan jiwa seseorang. Keluar dari rumahmu bak seorang penggembala,” ungkap Rumi. Atau, dalam syair yang lain: “Raihlah tali Allah. Apa itu maknanya? Menyisihkan egoisme. Akibat egoisme orang tinggal di penjara” (hal. 208). Serta, dentuman berikut ini: “Cinta adalah samudra Tuhan tak bertepi. Tapi, betapa mengherankan, ribuan jiwa tenggelam di dalamnya, sambil berteriak lantang: Tuhan tidak ada!” (hal. 107).

Demikianlah, Rumi bukan saja menarasikan keindahan, namun juga mengajak pembaca untuk ikut masuk ke dalam renungan terdalam, dalam petulangan menuju Tuhan. Tentu saja, petualangan ini penuh cinta, ziarah untuk belajar tentang makna hakiki kehidupan. Buku ini, menjadi lebih kaya dengan analisis Abdul Hadi WM, penyair yang sekaligus menjadi pakar sastra sufistik. “Mengapa khazanah sufi begitu kaya dengan puisi? Kuncinya mungkin terletak pada kenyataan bahwa, al-Qur’an sendiri—yang ditulis dalam bentuk puisi maha Indah—kaya dengan simbol dan imajinasi, sangat merangsang pencintanya untuk menulis puisi dan melakukan berbagai tafsir puitik. Gagasan keagaman tertentu, yang membangun teologi Islam yang sentral sifatnya, serta citraan-citraan tertentu dari al-Qur’an dan hadist, mengutip Annemarie Schimmel–dengan mudah dapat dialihkan menjadi simbol yang benar-benar puitik, sebagaimana yang dilakukan oleh Rumi”, demikian ungkap Abdul Hadi WM.

Dari puisi Maulana Rumi, pembaca dapat belajar tentang arti terdalam cinta, tentang makna hakiki kehidupan.

Oleh: Munawir Aziz

Sumber: Kompasiana

Happy Ending dalam Pelukan-Nya

06/04/2016

Merayakan Hari Kesehatan Dunia: “Program Detoksifikasi Tiga Minggu”

06/04/2016

Leave a Reply