Kathleen Fenton dan Lukisan Merak Imam Ali

Oleh Pangestuningsih

Keindahan seni dalam format apa pun—sastra, musik, seni lukis, dll.—sering menjadi media komunikasi yang jauh lebih efektif ketimbang sekadar ujaran verbal. Seni menghubungkan jiwa-jiwa manusia meski kadang sama sekali tak melibatkan kata. Pernahkah Anda memandangi sebuah lukisan abstrak yang secara kasat mata terkesan berantakan, namun saat itu pula Anda bisa merasakan aura keindahan yang membuat Anda berdecak kagum?

Arsitek masjid terkemuka Achmad Noe’man suatu kali pernah tercenung mendengarkan petikan gitar seorang musisi jazz yang tengah mengalun dari Radio KLCBS Bandung miliknya. Ujarnya, “Bukankah menakjubkan, dawai gitar elektrik yang terbuat dari logam keras itu bisa melahirkan bunyi yang begitu menghanyutkan, membawa kita pada Tuhan?”

Beberapa waktu lalu CEO Kelompok Mizan Haidar Bagir juga mengatakan tentang buku kumpulan cuplikan puisi Rumi yang disusun-syarahkannya, “… dari sekian banyak buku yang telah saya tulis—bertemakan filsafat, tasawuf, manajemen, dan lain-lain—ternyata malah buku kumpulan puisi ini yang paling disukai pembaca. Puisi ternyata lebih mudah menyentuh hati manusia.”

Dalam tembang Pangkur, cuplikan Serat Wedha Tama yang terkenal juga menyebutkan, mengajar/menasihati anak melalui kidung (tembang, lagu), lebih efektif daripada menyampaikannya sekadar lewat petatah-petitih kata.

Mingkar-mingkuring angkara
(hindarkan diri dari angkara/kejahatan)
Akarana karenan mardi siwi
(bila akan mendidik putra)
Sinawung resmining kidung
(kemaslah dalam keindahan syair)
Sinuba sinukarta
(dihias agar tampak indah)
Mrih ketarta pakartine ngelmu luhung
(agar tujuan ilmu luhur ini tercapai)

Pesona keindahan seni pula yang baru-baru ini menautkan kami di Noura Books dengan seorang pelukis seniman nun jauh di Negeri Paman Sam sana. Ceritanya, kami tengah menyiapkan sebuah buku berisi kumpulan hikmah dan nasihat Khalifah Rasyid ke-4, berjudul Mutiara Kearifan Ali Bin Abu Thalib r.a. Tim redaksi sepakat menggunakan ilustrasi bulu merak untuk sampul buku tersebut—mendengarkan saran Pak Haidar Bagir yang menemukan paparan sangat indah dari Imam Ali r.a tentang penciptaan burung merak.

…burung yang paling mengagumkan dalam penciptaannya adalah Burung Merak,
Ia diciptakan Tuhan dengan dimensi paling simetris dan warna-warnanya disusun dalam susunan terbaik,
dengan sayap yang ujung-ujungnya saling tersisip dan ekor yang panjang.
Ketika bergerak menuju kawan betinanya, ia membentangkan ekornya yang terlipat dan mengangkatnya untuk membentuk payung di atas kepalanya, seolah itu merupakan layar kapal yang ditarik oleh pelaut.
Ia bangga dengan warna-warna tubuhnya dan bergerak dengan anggunnya….

Mutiara Kearifan Ali bin Abi Thalib
Mutiara Kearifan Ali bin Abi Thalib

Ketika itu, Pak Haidar juga menunjukkan lukisan bulu burung merak yang sangat indah—hanya saja, pemilik lukisan itu memasang harga lukisannya jauh di atas anggaran kami untuk pembelian ilustrasi cover. Kami pun mencoba mencari lukisan dari seniman lain, dan menemukan lukisan bulu merak yang meski minimalis namun indah, di website Kathleen Fenton.

Saya lalu mengontak seniman yang memiliki visi mengajarkan seni (lukis) ke seluruh dunia ini, mengatakan ingin membeli file digital lukisannya itu. Tidak seperti pada umumnya relasi yang kami temui yang langsung mengirimkan quotation dan tagihan, Kathleen merasa perlu terlebih dulu menanyakan, “What is the book about?”

Saya pun menjelaskan, buku ini berisikan nasihat dan hikmah kearifan seorang tokoh besar Islam, Ali Bin Abu Thalib. Lalu untuk menjelaskan kepadanya mengapa kami memilih lukisan bulu merak, saya sertakan uraian Imam Ali tentang penciptaan burung merak tadi.

Cinta dalam Kajian Mistisisme Keagamaan

24/03/2016

Diskusi & Peluncuran Buku Mereguk Cinta Rumi di Galeri Indonesia Kaya

24/03/2016

Leave a Reply