Traveling: Empat Jam di Kota Galileo Galilei

Ruang Baca-Traveling: Empat Jam di Kota Galileo Galilei
Ruang Baca-Traveling: Empat Jam di Kota Galileo Galilei

Oleh: Rahmadiyanti Rusdi

Torre Pendente alias Menara Miring memang tujuan utama turis di kota Pisa. Tapi ada jejak lain yang menarik di komplek Piazza dei Miracoli, lokasi Menara Miring berada.

Bukan Hanya Menara Miring…

“Saya akan antar kalian ke Piazza dei Cavalieri, dari sana sudah dekat ke Menara Miring,” kata Patricia, warga kota Pisa keturunan Mesir.

Beruntung sekali kami dipertemukan oleh Patricia. Semua berawal dari terpisahnya saya dan teman di gerbong berbeda kereta Trenitalia yang membawa kami dari kota Roma. Ketertarikan Patricia terhadap jilbab yang teman saya kenakan, membawa pada obrolan selama tiga jam perjalanan Roma-Pisa. Patricia sendiri adalah penganut kristen koptik, aliran kristen yang banyak dianut warga Mesir. Setelah menitipkan koper di left luggage stasiun Pisa Centrale, membeli peta (yang dibayarkan oleh Patricia), dengan mobilnya Patricia mengantar kami. Dengan waktu hanya sekitar empat jam—sebelum melanjutkan perjalanan ke Venesia, kami memang harus bergegas menikmati ibukota provinsi Pisa, yang termasuk dalam region Tuscany ini. Pertemuan dengan Patricia menjadi berkah tersendiri, karena kami dapat lumayan menghemat waktu.

Katedral & Menara Pisa

This is Arno river, and that is Univeristy of Pisa,” kata Patricia, menjelaskan beberapa tempat yang kami lalui. Pisa memang tersohor dengan Menara Miring-nya, tapi sungai Arno adalah landmark yang menambah kecantikan kota seluas 185 km persegi ini. Begitu juga dengan Universitas Pisa. Pisa would not be Pisa without the University, begitu kata sebuah pernyataan yang menggambarkan pentingnya Universitas Pisa. Bisa dibilang, selain turis, kota Pisa diokupasi oleh mahasiswa. Bayangkan saja, dari sekitar 90.000 penduduk, 60.000-nya adalah mahasiswa Universitas Pisa.

Cobblestone alias jalan batu membuat gesekan antara ban mobil dan jalan menimbulkan bunyi yang khas saat kami memasuki kawasan Universitas Pisa, salah satu universitas tertua di Italia. Didirikan pada 3 September 1343 oleh Paus Clement IV, Universitas Pisa juga memiliki fakultas botani tertua di Eropa. Mahasiswa tampak di berbagai sudut. Duduk-duduk di kafe sambil membaca, bergerombol di taman kecil, atau berjalan-jalan di sekitar kampus.

Setelah lima belas menit menyetir, Patricia menghentikan mobilnya di sebuah alun-alun kecil tak jauh dari Universitas Pisa. Piazza dei Cavalieri alias Knight’s Square, pada masa lalu adalah pusat perpolitikan dan tempat warga Pisa berdiskusi atau merayakan kemenangan.  Lapangan kota ini dikelilingi banyak bangunan bersejarah. Salah satunya adalah The Scuola Normale Superiore di Pisa, sekolah elit yang dibangun pada tahun 1810 atas perintah Napoleon Bonaparte sebagai cabang École Normale Supérieure, Paris. Selain itu terdapat Palazzo dell’Orologio atau Clock Palace yang dibangun pada abad ke-14, Museo di San Matteo—museum seni, dan Palazzo della Carovana, bangunan yang didesain oleh  Giorgio Vasari, seniman dan arsitek Renaissance Italia.

Dinding bekas benteng Moor

Sesuai petunjuk Patricia, dari Piazza dei Cavalieri kami hanya perlu mencari tiga belokan, dan… jreng-jreng… bangunan yang sejak kecil telah begitu saya hafal bentuknya itu pun tampak. Yang tak saya sangka adalah tingginya yang “hanya” 57 meter. Selama ini saya berpikir Menara Miring Pisa jauh lebih tinggi dari itu J. Yang juga saya kurang ngeh, ternyata Menara Miring hanya satu dari berbagai bangunan yang ada di komplek Piazza dei Miracoli (Field of Miracles). Ya, Menara Miring terletak di komplek yang dikukuhkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1987. Selain Menara Miring terdapat Duomo di Pisa atau Katedral Pisa, Battistero di Pisa (Baptistery), Camposanto (pemakaman), dan Museo delle Sinopie (Museum Sinopias) yang di depannya berderet toko-toko suvenir.

Ribuan orang menyebar di sekitar komplek. Beragam gaya diperlihatkan orang dalam mengabadikan dirinya dengan Menara Miring sebagai latar. Awan mendung yang tadinya menggelayut di atas Menara Miring, perlahan menyingkir. Kini hanya langit biru dan awan putih. Sempurna.

Percobaan Galileo Galilei

Menara Miring Pisa sendiri dibangun pada tahun 1173, awalnya dimaksudkan sebagai menara bel untuk Katedral. Ada beberapa keterangan mengapa menara tersebut miring. Ada yang menyebutkan bahwa kondisi tanah yang lembek lah yang membuat fondasi menara bergerak dan melesak. Keterangan lain menyebutkan bahwa sejak awal memang ada kesalahan konstruksi. Setelah perbaikan konstruksi antara tahun 1990-2001, kemiringan Menara yang awalnya 5,5 derajat menjadi 4 derajat. Apa pun, kemiringan menara lah yang membuat kota Pisa terkenal dan menjadi salah satu tujuan utama turis ke Italia.

Sebuah kisah tentang Galileo Galilei, ilmuwan kelahiran kota Pisa, juga menambah ketertarikan orang pada Menara Miring. Pada tahun 1589 Galileo pernah melakukan percobaan menjatuhkan dua buah bola dengan berat berbeda dari atas Menara Miring. Galileo melakukan percobaan tersebut untuk membuktikan teorinya bahwa dua benda dengan massa berbeda yang dijatuhkan dari atas secara bersamaan, memiliki akselerasi yang sama dan jatuh di tanah dalam waktu bersamaan. Percobaan Galileo ini mematahkan pendapat Aristotle mengenai teori gravitasi yang menyebutkan bahwa dua benda dengan massa berbeda yang dijatuhkan bersamaan, memiliki kecepatan jatuh yang berbeda juga. Namun ada beberapa pendapat yang menyangkal kisah percobaan Galileo ini karena kisah tersebut hanya bersumber dari sekretaris Galileo.

Untuk masuk dan naik ke Menara Miring hingga puncak, pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar 15 euro (Rp187.500,- dengan kurs 1 euro = Rp12.500,-). Namun karena keterbatasan waktu, kami memutuskan tidak masuk, sebab perlu waktu 1 hingga 2 jam untuk antre dan naik ke Menara. Seperti bangunan-bangunan tua dan bersejarah lainnya di banyak negara, dilakukan pembatasan jumlah turis yang dapat naik untuk menjaga Menara tetap dalam kondisi baik. Sedikit menyesal juga karena rasanya ingin sekali menikmati pemandangan cantik Tuscany dari atas Menara.

Ragam gaya pengunjung mengambil gambar
Ragam gaya pengunjung mengambil gambar

Saya pun berkeliling di sekitar komplek; Katedral yang dibangun pada tahun 1064, Baptistery dengan kubah besar, dan Camposanto. Jalan dengan marmer bermozaik menuju pintu masuk Katedral sangat menarik perhatian saya. Mozaik tersebut sangat khas Arab. Begitu juga dengan ukiran dan pilar berbentuk kolom di dinding gereja. Sumber sejarah menyebutkan, marmer dan pilar antara bagian tengah Katedral dan selasar yang juga khas Arab, diambil dari sebuah masjid di Palermo pada tahun 1063. Di bagian samping lagi-lagi saya temui bangunan khas Arab, yakni dinding yang mengelilingi sebagian komplek. Seperti benteng Alcazaba di Komplek Istana Alhambra, Granada, Spanyol.

Islam sendiri masuk ke Italia sejak tahun 652 Masehi, yakni saat tentara Muslim memulai penaklukan Pulau Sisilia yang terletak di bagian selatan Italia. Kemudian perlahan daerah-daerah lain dikuasai, hingga pada tahun 1004, tentara Muslim masuk ke Pisa. Ada yang menyebutkan bahwa perompak Arab lah yang masuk dan kemudian merampas harta penduduk, hingga terusir pada tahun 1011. Saya tak terlalu yakin dengan keterangan tersebut, sebab “perompak” rasanya tak mungkin meninggalkan banyak jejak-jejak bernuansa Islam di sekitar komplek. Meski Islam berkuasa paling lama di wilayah Sisilia yang beribukota Palermo, tapi jejaknya cukup banyak ditemukan melalui berbagai seni ukir, keramik, dan metal di sekitar komplek Piazza dei Miracoli.

Belum puas rasanya berkeliling dan mengamati keindahan kota Pisa, kami harus bergegas kembali ke stasiun, berjalan kaki. Meski langkah harus diayun cepat, tapi mata saya tetap jelalatan menikmati keindahan (sebagian) kota Pisa. Semoga suatu hari dapat kembali dan naik ke Menara Miring.[]


Tulisan ini pernah dimuat di rubrik Perjalanan majalah UMMI.

 

7 Fakta Persahabatan Harper Lee & Truman Capote

13/07/2016

Traveling: Venesia, Jalan Kaki Saja!

13/07/2016

Leave a Reply