Bahlul Mengajari Guru Sufi

Ruang Baca-Bahlul Mengajari Guru Sufi
Ruang Baca-Bahlul Mengajari Guru Sufi

Tuhan pasti tidak menghendaki pelaksanaan ibadah ritual belaka tanpa makna yang memperkaya batin kita.

Junaid Baghdadi dikenal sebagai seorang guru sufi dengan banyak pengikut. Namun suatu hari, dia meminta kepada para muridnya agar dipertemukan dengan Bahlul.

“Tapi dia hanya seorang yang gila, Syaikh,” ujar murid-muridnya mengelak, namun Junaid bersikeras ingin bertemu Bahlul, Si Bodoh dari Baghdad.

Setelah berhari-hari mencari, akhirnya rombongan Junaid pun bertemu Bahlul yang sedang tertidur berbantal batu bata. Junaid menyebutkan namanya, yang dijawab Bahlul dengan pertanyaan, “Oh, kaukah guru spriritual yang terkenal itu?”

Junaid mengangguk.

Bahlul lanjut bertanya, “Apakah kau tahu caranya makan?”

Jawab Junaid, “Aku memulai makan dengan mengucap Bismillah, kemudian memakan sedikit demi sedikit apa yang dihidangkan di hadapanku, mengunyah di sisi kanan mulutku perlahan, tidak memandangi orang lain yang sedang makan, bersyukur kepada Allah atas karunia makanan yang kumakan, dan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.”

Bahlul, Si Bodoh yang Bijak dari Baghdad.

Bahlul terbahak mendengar jawaban itu, dan seolah mengejek mengatakan, “Kau ingin menjadi guru spiritual dunia, tapi tidak tahu caranya makan!”

Lalu dia menanyakan kepada Junaid, tahukah dia cara berbicara dan cara tidur. Ketika semua dijawab Junaid dengan menceritakan apa yang biasa dilakukan, bahlul tetap menertawakannya. Murid-murid Junaid menjadi kesal dan mengajak gurunya pergi meninggalkan “Si Gila” itu, namun Junaid yakin mengenai wawasan spiritual yang sejatinya dimiliki Bahlul. Dia pun memohon kepada Bahlul, “Wahai Bahlul, sungguh aku tak tahu satu hal pun. Demi Allah, tolong ajari aku.”

“Baiklah, tadi kau mengaku berilmu, jadi aku menghindarimu. Kini setelah kau mengakui kurangnya pengetahuanmu, maka aku akan mengajarimu,” ujar Bahlul, kemudian melanjutkan, “Rahasia di balik makan adalah menyantap makanan halal. Jika kau menyantap makanan haram, tak ada gunanya adab sebaik apa pun. Makanan haram hanya akan membuat hati kita menghitam.

“Rahasia berbicara adalah hati murni dan niat baik. Percakapan harus diniatkan untuk mendapat ridha Allah Swt. Jika pembicaraan kita tak berguna, ia hanya akan jadi malapetaka, tak soal sebaik apa pun kita mengungkapkannya. Itulah sebabnya, sikap diam adalah yang terbaik.

“Rahasia tidur adalah hati kita harus terbebas dari iri dengki, dari permusuhan dan kebencian. Hati tak boleh tamak akan dunia dan harus mengingat Allah saat berangkat tidur.”

Demikianlah Bahlul mengajarkan kepada kita, bahwa nilai segala perbuatan terletak pada niat di baliknya. Juga dalam ibadah sehari-hari, termasuk dan apalagi ibadah shalat. Betapa banyak mereka yang menyeru “Allahu Akbar” dalam shalatnya, namun di dalam hatinya hanya mengakui kebesaran dirinya sendiri? Tuhan pasti tidak menghendaki pelaksanaan ibadah ritual belaka tanpa makna yang memperkaya batin kita. []

 

Saat Leonardo DiCaprio Harus Makan Hati Bison Mentah

12/04/2016

Formula Menulis Picture Books

12/04/2016

Leave a Reply