Tiap langkahnya adalah dia yang ziarah pada kemanusiaan.(hlm 221).

Novel tipis namun banyak menguras pikiran, sungguh sangat puas menikmatinya. Setiap manusia menyukai absurditas, Membaca nya harus dengan kesabaran dan terbuka pada pandangan yang ada diluar perspektif tokoh, karena jikalau manusia terbiasa mengikuti hal biasa, maka biasa-biasa sajalah perspektifnya, sudut pandang mentok disitu-situ saja karena tak memiliki rangsangan yang mengejutkan di pikirannya.

Hal yang berbau absurd dan abstrak bahkan filsafat sangat diperlukan, pertimbangan yang diluar keyakinan manusia terhadap segala sesuatu diluar batas nalar harus diasah sesering mungkin. Mempertanyakan namun disatu sisi menemukan, kritis terhadap apa yang belum sampai diketahui orang banyak adalah salah satu kecerdasan semiotik yang diagung-agungkan para pemikir dunia hingga sampai saat ini.

Salah satu novel favorit yang saya baca di tahun 2017 ini adalah novel Ziarah karya Iwan Simatupang, tak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa Iwan Simatupang seperti Albert Camus rasa Indonesia, ia mampu menjangkau apa yang belum dipikirkan pembaca dan memahami apa yang akan dipikirkan pembaca setelah membaca karyanya. Setelah membaca novel ziarah ini saya jadi banyak bengong seraya berpikir, sangat sulit kiranya mendapat momen seperti ini yaitu momen ketika anda terkejut sekaligus takjub pada suatu hal.

Anda akan tahu bahwa satu karya itu bernilai tinggi ketika ia mampu membuat anda tersentak, terkejut dan rajin berpikir, berpikirnya bisa sampai berjam-jam bahkan berhari-hari, suatu karya yang takkan bisa anda lupakan karena ia berperan besar memperkaya sudut pandang anda tentang kematian dan kehidupan. Dalam berfilsafat seseorang harus akrab dengan kerumitan yang meresahkan, karena ada rasa ingin tahu yang besar di dalam dirinya, jika seseorang tak memiliki rasa ingin tahu yang besar, maka ia akan menjauhkan hidupnya dari pikiran-pikiran rumit yang tak mampu tekaji, namun berbeda dengan orang yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, ia akan membiasakan dirinya tertekan dengan kerumitan yang meresahkan tubuhnya, sehingga terbiasa menerima sesuatu yang tak mampu dipikirkan orang lain menjadi yang sangat lumrah tahu sebab akibatnya.

Kita adalah bakal mayat yang berpijak di atas mayat tua. Bumi ini adalah seluruhnya Bumi kepunyaan mayat-mayat. Bumi kerajaan maut. (hlm 84).

Tokoh kita adalah seorang pelukis terkenal, ia merasa kehilangan setelah ditinggal oleh kematian istrinya. Tokoh kita terus berjalan di setiap tikungan ia berharap berjumpa dengan istrinya. Setelah kematian istrinya, si tokoh kita ini sering untuk minum ke kedai arak, setelah minum  ia selalu menangis keras-keras, memanggil tuhan keras-keras, menangis keras-keras, dan pada akhirnya tertawa keras-keras. Hal ini sudah menjadi biasa bagi masyarakat sekitar yang melihat aksi si tokoh kita.

Hidupnya sejak dia ditinggalkan istrinya adalah hari-hari kini yang ditambahkan pada hari-hari esok. Esok akan menjadi kini, kini mencakup semua situasi kehidupan. Kini yang menjadi kemarin tak dihiraukannya karena segala yang lampau adalah hanya gumpalan hitam. (hlm 19).

Dalam novel ini kita akan menemukan banyak persoalan absurd mulai dari kehebohan masyarakat yang melihat sikap biasa sang pelukis yang berubah dari aneh menjadi biasa, sikap biasa sang pelukos ditanggapi masyarakat sebagai sikap aneh, lalu sang mahasiswa filsafat yang cerdas sekaligus anak orang kaya yang memilih melamar pekerjaan sebagai opster penjaga kuburan, sang mahasiswa memilih kerja di pekuburan dan menganggap bahwa kuburan adalah tempat yang baik untuk mendalami filsafat, lalu kita akan menemukan sang pelukis yang bunuh diri dari lantai 4 hotel, ia jatuh dan menimpa seorang wanita dan sang pelukis tak jadi mati dan memilih menikah dengan wanita yang ditimpanya.

Kematian dan kehidupan adalah dua perspektif dari masing-masing tokoh yang selalu dibahas Iwan Simatupang dalam novel Ziarah, novel ini rumit namun enak dibaca, pemahaman kita tentang kematian Dan kehidupan akan bertambah luas setelah membaca novel ini. Penting kiranya kita memaksa diri untuk terjun mendalami absurditas dari karya Iwan Simatupang sebagaimana kita juga mendalami karya Albert Camus baik dari Novel Sampar dan Orang Asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia melalui penerbit Yayasan Obor Indonesia. Dari novel ini kita akan semakin memahami untuk terus melampaui dan menumbuhkan rasa ingin tahu tentang esensi bahwa antara hidup dan mati memiliki sedikit perbedaan.

Peresensi : Abdi Mulia Lubis


Judul : Ziarah
Penulis : Iwan Simatupang
Penerbit : Noura Books
Tahun : Cetakan 1, 2017
Tebal : 224 halaman
ISBN : 978-602-385-334-2


//Baca juga artikel RESENSI yang lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>