al-ghazali

Sebagai manifestasi syukur manusia kepada Allah SWT yang telah mengaruniai rezeki, sebagai sarana penyucian jiwa dan harta, serta demi memenuhi hak Allah SWT, hak masyarakat, dan hak kaum dhuafa, zakat wajib dikeluarkan dengan benar.


 

Perhitungan zakat profesi, secara singkat dibagi menjadi empat kategori:

Pertama, karyawan yang penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan hidup, dan kalau memiliki tabungan tidak sampai nisab 85 gr emas, maka ia tidak wajib berzakat, melainkan cukup bersedekah dengan ikhlas.

Kedua, bagi karyawan yang penghasilannya sedikit melebihi kebutuhan hidupnya, sehingga mampu menabung hingga mencapai nisab, maka dia wajib berzakat sebesar 2,5% dari kelebihan penghasilannya.

Ketiga, seorang karyawan yang menempati posisi cukup tinggi dalam sebuah perusahaan, yang penghasilannya melebihi kategori pekerja pertama dan kedua, bahkan digolongkan ‘cukup kaya’, maka diwajibkan mengeluarkan zakat sebesar 2,5% langsung dari seluruh penghasilannya (sebelum dikurangi untuk biaya hidup). Atau 10% dari penghasilan bersih setelah dikurangi biaya hidup.

Keempat, karyawan yang penghasilannya lebih tinggi lagi dari tiga kategori sebelumnya,  ditambah lagi ada penghasilan tambahan misalnya dari wawancara, seminar, tulisan, dan sebagainya. Perhitungan zakatnya sama dengan kategori yang ketiga, ditambah 20% dari penghasilan tak terduga.

Adapun waktu penghitungan dan pengeluaran zakat, ukuran nisabnya tetap berdasarkan perkiraan penghasilan setahun. Tetapi jika dirasa sulit perhitungannya karena penghasilan diterima setiap hari (misalnya profesi dokter), maka dibolehkan menghitung zakat pada akhir bulan, atau dia mengeluarkan zakatnya setiap bulan, yang berdasarkan proyeksi penghasilan setahun. Jika ternyata penghasilannya sampai akhir tahun lebih dari proyeksinya, maka masih harus dikeluarkan zakat atas kelebihannya itu.

Demikianlah kemudahan yang diberikan kepada para wajib zakat untuk dilaksanakan tanpa paksaan. Negara pun tidak memungut langsung agar para wajib zakat memenuhi kewajibannya. Zakat diberikan kepada penerima yang berhak oleh para wajib zakat dengan kesadaran dan ketakwaan serta ketulusan kepada Allah SWT Yaitu mereka yang kuat keyakinannya akan janji Allah SWT dan Rasulullah SAW, bahwa Takkan berkurang harta disebabkan sedekah, bahkan harta itu terus bertambah.” [rst]