Yang Perlu Diketahui Orangtua dalam Mendidik Anak

Semua orangtua pasti ingin mendidik dan memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Akan tetapi, apa yang dipandang baik terkadang belum tentu cocok bagi perkembangan anak. Baik secara sadar maupun tidak, sering kali orangtua melakukan kesalahan-kesalahan dalam menjalankan psikoedukasi pada anak. Alih-alih membuahkan hasil yang maksimal, justru menyebabkan usaha yang dilakukan orangtua menjadi kontraproduktif. Lalu, bagaimana sebaiknya orangtua mendidik dan mengasuh putra-putrinya? Berikut ini beberapa hal yang perlu diketahui.

  1. Tumbuhkan sifat persaingan. Sejak dini, anak sudah harus ditumbuhkan sifat kompetitif. Hal ini penting karena sifat kompetitif akan mengarah pada kedisiplinan, konsep unggul, pengembangan diri optimal, dan sebagainya. Jadi, apabila Tuhan mengizinkan, sebaiknya keluarga memiliki lebih dari 1 anak. Agar anak dapat memahami konsep berbagi, berempati, dan mampu bersaing. Secara intuitif, anak selalu berusaha mencari perhatian dari kedua orangtuanya. Dengan adanya persaingan, anak akan terdorong untuk berbuat lebih baik dan memenuhi ekspektasi orangtua. Pada akhirnya, jika budaya persaingan secara sehat ini dipelihara, anak akan mengembangkan kualitas dirinya.
  1. Hindari sikap ambivalensi. Idealnya, orangtua terdiri dari 2 orang; ayah dan ibu. Namun tidak semua keluarga seperti itu. Ada yang terdiri dari ibu saja, ayah saja, ibu dan nenek, paman dan bibi, atau bahkan kakek dan nenek. Bagaimana pun keadaannya, satu hal yang harus menjadi kunci bagi siapapun yang memegang peranan sebagai orangtua: Kompak! Ambivalensi atau ambiguitas adalah sifat mendua antara orangtua sehingga terciptalah double standard. Ibu bilang A, ayah bilang B. Ayah dan ibu sepakat bilang C, sementara nenek bilang D. Itu akan membuat anak bingung. Saat anak kebingungan, ia akan kehilangan orientasi, dan berupaya mencari celah yang bisa dimanfaatkan. Pada dasarnya setiap anak manipulatif. Ia mampu membaca kelemahan dari orang-orang di sekitarnya agar keinginannya tercapai. Dia akan selalu menguji hingga batas akhir, mencoba semua cara yang mungkin sehingga bisa meraih apa yang ia inginkan. Sikap ambivalensi pada orangtua hanya akan mencetak anak-anak yang licik dan mampu berpolitik kotor.
  1. Tekankan hubungan kausalitas. Hukum sebab-akibat atau kausalitas merupakan hal mendasar yang harus diajarkan pada anak. Anak harus memahami bahwa setiap tindakan yang ia lakukan akan memiliki akibat, baik maupun buruk. Konsep ini akan membantu anak untuk berinteraksi dengan dunia di luar rumahnya yang harus disiapkan sejak dini. Orangtua cenderung menoleransi sikap anaknya, tapi tidak demikian dengan lingkungannya nanti. Gagal dalam menerapkan hal ini sama saja artinya menjerumuskan anak sendiri ke dalam jurang asosial. Untuk menerapkannya, harus dibuat peraturan di dalam rumah. Peraturan itu harus disepakati dan dijalankan oleh semua pihak. Semua orang yang berada di dalam rumah, tanpa terkecuali, harus patuh pada peraturan tersebut.
  1. Hindari mengintervensi anak terlalu banyak. Namun, orangtua mana sih yang ingin melihat anaknya susah? Semua orangtua pasti ingin memberi yang terbaik untuk buah hatinya. Tetapi, kadang yang terbaik bukanlah yang paling indah. Saat sakit, kita harus minum obat yang pahit agar bisa sembuh. Minum obat bukanlah hal yang menyenangkan, tetapi diperlukan. Demikian pula dengan mendidik anak. Orangtua seringkali membesarkan anak dengan kekhawatiran tinggi. Kalau dia begini, gimana? Kalau nanti dia begitu, gimana? Kekhawatiran ini yang membuat orangtua membatasi ruang gerak anak. Kecenderungan orangtua untuk selalu melindungi anaknya, menyediakan kenyamanan, membuat anak tak lagi punya pertahanan diri.
  1. Berkomunikasi dengan sehat. Dalam ilmu psikologi, ada sebuah konsep yang dikenal dengan nama Analisis Transaksional. Pada dasarnya, dalam setiap komunikasi, manusia saling bertransaksi, memberikan sesuatu dan mengharapkan imbalan. Tentu tidak nyaman rasanya jika kita terus bicara namun tidak ada respon dari orang yang kita ajak bicara. Demikian pula dalam berkomunikasi dengan anak. Orangtua harus memahami caranya karena komunikasi adalah kunci segalanya. Dalam Analisis Transaksional ada tiga peran yang digunakan dalam berkomunikasi, yaitu Orangtua, Dewasa, dan Anak. Cara berkomunikasi yang sehat adalah yang setara atau sesuai dengan peran.

Demikianlah beberapa hal yang perlu diketahui oleh orangtua dalam mendidik anak. Setiap orangtua tentunya memiliki metode tersendiri, karena setiap anak adalah karunia dari Tuhan yang luar biasa istimewa. Semoga artikel ini dapat memberi sedikit pencerahan untuk Ayah & Bunda. 🙂

10 Ciri Kamu Seorang Book Addict

25/02/2016

5 Karakter Cowok Fantasi yang Wajib Kamu Ajak Kenalan!

25/02/2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *