Suhindrati ShintaSuhindrati Shinta bergabung di Grup Mizan sejak 2005 sebagai editor fiksi di Bentang Pustaka, pekerjaan pertamanya setelah lulus dari Jurusan Ilmu Komunikasi, UGM. Kini dia menjabat sebagai Manajer Redaksi Divisi Umum di Noura Books.

Penyuka fantasi ini awalnya tumbuh besar membaca beragam buku.
Kehausan akan petualangan dipuaskannya dengan membaca serial Winnetou dan Lima Sekawan. Kesukaannya akan cerita kungfu tersalurkan dengan berlangganan komik Tapak Sakti. Sementara, Miss Modern merupakan komik Jepang favoritnya. Selain itu juga dia penyuka seri detektif yang mengoleksi Agatha Christie dan Trio Detektif. Buku-buku yang lebih serius seperti The Good Earth, The Alchemist, dan Bumi Manusia juga mewarnai hidupnya. Saat kuliah, dia sangat terpengaruh dengan karya-karya Dale Carnegie. Yang lebih baru? Dia menyukai semua karya Andrea Hirata, Dewi Lestari, Jonathan Stroud, dan tentu saja Rick Riordan! Demikianlah adanya, dia sungguh tak bisa menyebutkan satu saja buku favoritnya.

Hobinya selain baca buku dan nonton film sepertinya menggambar, namun yang terakhir ini kurang terasah karena saat kecil dia tak kesampaian les di Pak Tino Sidin. Jika tidak ngantor, maka waktunya akan fully-booked untuk main dengan kedua putranya. Dari main helikopter, balapan, sampai robot—semua harus bisa dilakukannya. Pengalaman paling berkesan adalah saat mengedit buku Laskar Pelangi. Betapa seorang editor hanya bisa melakukan yang terbaik tanpa bisa menebak ke mana semesta akan membawa buku-buku yang disuntingnya tersebut.

Novikasari Eka Suryawati. Sejak bergabung di Mizan Grup tahun 2008, dia terpaksa punya panggilan baru, karena sudah ada pegawai bernama sama saat itu.  Namun, hingga sekarang  dia pun terbiasa dan akhirnya senang dipanggil Vika.

Menghabiskan masa kecil dengan majalah Bobo dan buku-buku Enyd Bylton, membuatnya sangat menyukai buku hingga memutuskan kuliah di Politeknik Negeri Jakarta, Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan. Dia pun mengejar impiannya menjadi Editor dengan melanjutkan kuliah di FISIP UI, Jurusan Komunikasi. Saat kuliah, dia sempat membuat penyewaan buku bersama teman-temannya dan memiliki ribuan koleksi buku. Meskipun penyewaan itu hanya bertahan beberapa tahun, sampai saat ini dia masih menyimpan impian memiliki perpustakaan yang bisa dikunjungi masyarakat umum, terutama anak-anak.

Meski telah berpindah-pindah unit dan pada akhirnya masuk dalam tim redaksi Noura Books,  sejak pertama kali bergabung dia selalu menangani buku-buku nonfiksi terutama Kesehatan, Parenting, dan Hobi yang memang menjadi passion-nya. Karena itulah, dia pun kerap menjadi tempat curhat dan konsultasi teman-temannya soal anak dan kesehatan. Yang paling dia sukai dari menjadi editor adalah bisa mendapatkan ilmu gratis langsung dari pakarnya. Selain menyukai buku, dia juga suka mencoba makanan-makanan baru. Meskipun begitu, dia sulit sekali menaikkkan berat badannya, yang tentu saja membuat banyak teman-temannya iri.

Di waktu senggangnya, ditemani anak laki-lakinya yang super aktif dan ceria, dia suka menyalurkan hobinya membuat kue atau craft yang dipelajarinya secara otodidak dari penulis-penulis yang dia tangani dan buku-buku yang dieditnya. Ingin tahu hasil karya-karyanya? Intip aja Facebook-nya: Novikasari Eka S.

rexiNoor H. Dee adalah nama pena dari Nurhadiansyah. Biasa dipanggil Hadi atau Rex. Selama 7 tahun pernah terjebak di dalam dunia dapur, bekerja sebagai pemasak di hotel bintang lima dan beberapa restoran di daerah Jakarta. Kecintaannya yang begitu besar terhadap buku membuatnya  selalu berdoa agar suatu saat bisa bekerja di sebuah perusahaan yang memiliki hubungan dengan buku.

Dahulu kala, lelaki yang kerap berkepala plontos ini pernah aktif di komunitas Brigade Lawan Arus, sebuah komunitas yang mengadakan beragam kegiatan, seperti mendirikan Taman Harapan Kami (sekolah untuk anak-anak jalanan), menggelar Perpustakaan Jalanan, menerbitkan Jurnal Omong Kosong, dan membuat lingkaran diskusi ringan dengan beragam tema: anarkisme, food not bomb, filsafat, sastra, Islam, dan lain sebagainya.

Selain hobi membaca, lelaki yang pernah menjabat sebagai ketua Forum Lingkar Pena Depok ini juga hobi menulis cerpen. Beberapa cerpennya pernah di muat di Koran Tempo, Suara Karya, dan Majalah Muslimah. Buku kumpulan cerpen pertamanya berjudul Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta.

Pengalaman berkesan menjadi editor adalah saat mengerjakan picture book Seri Sepatu Dahlan karya Iwok Abqary dan Gina. Ada rasa puas dan haru saat teks yang penuh rima dan ilustrasi yang penuh warna bersatu dan bersenyawa menjelma sebuah buku anak yang begitu cantik dan memesona.

Jika ingin menjalin hubungan pertemanan, silakan kunjungi Facebook-nya.

Lian KaguraLian Kagura sejak kecil sudah menyukai dunia tulis menulis. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, essai telah dipublikasikan di berbagai media, baik lokal maupun nasional. Beberapa karyanya telah dibukukan termasuk Catatan Harian Mr. Jomblo dalam La Tahzan for Jomblo? (Lingkar Pena Publishing House, 2008), Kutukan Jomblo dalam Kutukan Jomblo (Lingkar Pena Publishing House, 2007), IORI: Terperangkap di Negeri Mimpi (Lingkar Pena Publishing House, 2007), Cinta Cinta Ayat dalam Ayat Amat Cinta (Lingkar Pena Publishing House, 2008), 2012an (Lingkar Pena Publishing House, 2010), Rumah Batu serta Larung Sesaji dalam Angin dan Bunga Rumput (FLP Bandung, 2013). Beberapa Puisi dalam Catatan Dari Yang Ketakutan (Pustaka Latifah, 2007), Ziarah Kata 44 Penyair (Majelis Sastra Bandung, 2010), dan Empat Amanat Hujan (Kepustakaan Populer Gramedia, 2010), dll.

Sebelum bergabung dengan Lingkar Pena Publishing House (2007) yang kemudian menjadi Penerbit Noura Books (2012), Lian pernah menjadi kepala sekolah di Forum Lingkar Pena Bandung, menjadi Pembaca Puisi di grup Musikalisasi Puisi Kapak Ibrahim, Dewan Redaksi Majalah Shilah, dan Pemimpin Redaksi Jurnal Puisi Monzaemon. Sekarang selain menjadi staf editor di Noura Books dia juga aktif di Badan Pengurus Pusat Divisi Karya Forum Lingkar Pena dan Komunitas Titik Luang.

Lian Kagura jika tidak sedang menulis dan membaca, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berpetualang. Menjelajah ruang dan waktu, demi mencari ketujuh bola naga ajaib. Dia berharap Porunga dapat membangkitkan kembali Mumu, kucingnya yang lucu. Sebab, cuma kucing itulah satu-satunya kunci yang dapat mengembalikan kekuatannya dan mengubah kembali dirinya menjadi Pangeran dari Selatan.

Dedy SupantoNama lengkapnya Dedy Supanto, tapi rekan-rekannya lebih sering memanggilnya dengan sapaan Hedotz. Saking lebih akrabnya nama Hedotz, Bos-nya pun pernah bertanya “siapa ini Dedy Supanto?” sambil menunjuk daftar nama karyawan. Hedotz bergabung di Mizan Grup sejak 2008 sebagai Graphic Designer. Dan kini dia menjabat sebagai koordinator Graphic Design divisi umum.

Jika sedang libur, dia senang sekali traveling bersama istrinya, wisata kuliner, atau sekadar bermalas-malasan sambil menggambar. Kolektor mainan tamiya dan sikat gigi hotel ini juga suka membaca buku biografi dan menonton film-film “based on true story”. Dia juga menyukai komik karya Albert Uderzo, Stan Lee, Brian Michael Bendis, Akira Toriyama, dan Eichiro Oda.

 

NaniNamanya Nani Supriyanti, biasa dipanggil Nani. Awal bergabung  pada 2005 sebagai web editor di salah satu anak perusahaan Mizan. Baginya, Noura Books [Mizan] adalah rumah dan juga sekolah.  Tempat yang memberinya banyak saudara dan juga ilmu.

Lapak majalah bekas dan tempat penyewaan komik merupakan destinasi wajib saat ada kelebihan uang saku. Membaca komik di sela-sela pelajaran kerap kali dilakoninya saking penasaran dengan isi komik yang dibacanya.

“Super mama” bagi anak laki-lakinya dan “Mama & teman” bagi gadis kecilnya ini merasa teberkati karena bekerja di antara para cendekia, di tengah-tengah sahabat yang pandai. Mulai berpikir menjadikan dunia buku sebagai profesi semenjak sekolah menengah atas, setelah merasakan honor menulis  cerpen dan artikel-artikel pendek di tabloid. Bermimpi suatu saat bisa bekerja di satu penerbitan besar Indonesia, dan di sinilah dia, melakoni tanggung jawab sebagai copy editor.

Baginya, semua proses pengerjaan buku sangatlah istimewa dan mengesankan. Salah satunya adalah ketika terlibat dalam proses penerbitan Ensiklopedia Nurcholish Madjid, dari menginput koreksian, membaca berulang-ulang, hingga memastikan proses pracetaknya.

Tiada hal yang membahagiakan selain buku terbit dengan kualitas kemasan dan isi yang bagus, juga menjadi best seller di pasar buku Indonesia. Bekerja di penerbitan tidak hanya mewujudkan cita-cita pada masa kanak-kanak, memiliki banyak buku, tapi juga memberi kebanggaan bagi dua anaknya. “Aku senang punya banyak buku, Ma.” Demikian ujar Narendra, si sulung. []