RichanadiaBitter is the new sweet. Ritual kopi pagi tak pernah terlewatkan oleh editor bernama Richanadia ini. Icha—begitu ia dipanggil—percaya air putih menyehatkan, namun kopi membahagiakan.

Semasa kecil, Icha hidup di dunia dongeng, lalu jatuh cinta pada sosok Sherlock Holmes, yang sempat dikiranya manusia nyata. Icha pernah jadi bandar komik Jepang yang cukup ternama di sekolah sewaktu SD hingga SMP. Meskipun sering khawatir komik-komiknya hilang, ia sangat bahagia memiliki teman-teman yang membantunya menyembunyikan koleksinya itu saat razia melanda.

Dari semua buku yang dibacanya, The Little Prince masih nangkring di posisi teratas dalam urutan buku kesayangannya. Ia ingat, sewaktu SMA pernah kecewa ketika salah seorang teman yang membaca buku ini berkomentar, “Ini cerita anak-anak, kan?”.

Sesekali, Icha sengaja cuti untuk bermain bersama anak-anak SD dengan menyamar jadi relawan pengajar. Sesekali juga, ia cuti untuk jalan-jalan. Hal yang ia lakukan hampir sama rutinnya dengan ngantor adalah menggambar. Ia masih penasaran, apakah gambarnya bisa bagus jika latihan terus.

Kelupaan akut sering membawa Icha pada pengalaman tak terlupakan. Ia pernah salah mengambil pesanan makan siang teman di kantor karena tidak ingat apa yang dipesannya sendiri. Juga pernah lupa membawa ponsel ketika janjian meeting dengan Butet Kartaredjasa.

AjegPanggil dia Ajeg (tanpa “n). Yap, kalian enggak salah baca, memang itu panggilannya. Dan pastinya kalian bukan orang pertama yang salah panggil atau mengeja namanya. Sebenarnya, nama asli yang tertera di akta kelahiran adalah Nuraini Septianti Subariah. Lalu, kenapa dia bisa dipanggil Ajeg? Itu sebuah kisah panjang dan hanya dia dan Tuhan yang tahu *grin*.

Wanita kelahiran 3 September ini bertugas di dapur keredaksian Noura Books sejak 2012 sebagai asisten editor. Hal yang dinikmatinya menjadi asisten editor adalah ketika dia mulai mencoret-coret naskah dan menemukan kesalahan tanda baca atau huruf di dalamnya. Dia tipe orang yang melahap semua jenis bacaan, mulai dari komik hingga sastra. Perkenalannya dengan dunia baca-membaca dimulai ketika dia tertarik dengan buku kuliah kakak temannya tentang mitologi Yunani, saat kelas 4 SD. Dan dia berhasil menamatkan buku yang tebalnya beratus-ratus halaman itu dalam waktu  singkat. Kebiasaan uniknya saat membaca buku, khususnya novel, adalah dengan langsung menyingkap halaman terakhir buku tersebut. Menurutnya, dengan begitu dia jadi bisa membangun imajinasi dan kerumitan apa saja yang terjalin sepanjang halaman awal hingga akhir.

Kalau tidak sedang sibuk menekuri kata-kata dalam buku, biasanya dia asyik mengunyel-unyel benang rajut, menekuk-nekuk tubuhnya di atas matras, atau tekun mengutak-atik aplikasi foto di henponnya. Tidak bisa dibilang ahli atau andal di bidang-bidang yang disebutkan terakhir, tapi dia sangat menyukai ketika sedang tenggelam dalam aktivitas tersebut.