PangestuningsihPangestuningsih nama lengkapnya. Tapi keluarga dan kawan-kawan dekatnya lebih sering memanggilnya Tutuk (teman-teman dari Jawa atau Sumatra), atau juga Tutu (teman-teman dari Parahyangan dan Jakarta). Meskipun, pelafalan kedua ejaan nama itu sama saja sebenarnya. Kawan-kawan dari luar Indonesia, juga lebih senang memanggilnya Tutu karena mereka lebih mudah mengingat nama yang seperti nama Uskup Afrika Selatan, Desmond Tutu, itu.

Tutuk lahir di kota kecil di Jawa Timur yang dikenal dengan kota Reog, yaitu Ponorogo, pada  27 Juli (tahunnya tak usah disebutkan, karena konon perempuan yang menceritakan usianya akan menceritakan apa saja tentang dirinya).

Kedua orangtuanya, Ibu Siti Maonah dan Bapak Sudjono, adalah orang-orang yang pertama kali memperkenalkan Tutuk pada buku-buku. Ayahnya sering membelikannya buku loak yang dijual per kilo di emperan Pasar Legi Ponorogo, memilihkannya buku-buku cerita Nabi bergambar. Sampai saat ini bahkan Tutuk masih ingat kesedihan yang dirasakannya saat menatap gambar Ibunda Nabi Musa menghanyutkan keranjang berisi bayinya di Sungai Nil. Dari ayahnya pula, Tutuk mengenal khazanah cerita rakyat seperti Timun Mas, Jaka Tingkir, juga kisah-kisah Wali Songo. Selalu terngiang hingga kini ayahnya yang mendendangkan tembang Ilir-Ilir sebagai pengantar tidurnya. Selain itu, Sang Ibu membawakan buku-buku perpustakaan dari sekolah tempatnya mengajar. Chapter book yang pertama kali dibaca Tutuk waktu itu, masih diingatnya pula hingga kini, berjudul Ismono Membela Ibu—kisah tentang anak laki-laki di tengah perang kemerdekaan yang selalu berusaha melindungi ibundanya dari bahaya perang dan senjata.

Setelah lulus SMA di kota kelahirannya, Tutuk merantau ke Bandung dan kuliah di Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung. Sambil kuliah, dia menyalurkan hobi menulis (yang sejak SMP dan SMA dipenuhi dengan aktif sebagai redaktur majalah dinding sekolah), bergabung dengan buletin Salman Komunikasi & Aspirasi Umat (Salman KAU), yang diterbitkan Masjid Salman ITB. Di masa kuliah itu pula dia sering mengisi liburan semester (terutama karena tidak punya uang untuk beli tiket pulang kampung), dengan magang di beberapa majalah di Bandung, antara lain Majalah Risalah. Lalu saat perlu refreshing dari tugas akhir penelitian kuliahnya, Tutuk pun bekerja sebagai editor/scripwriter di Radio KLCBS The Jazz Wave di Bandung.

Di radio itu pulalah kelak dia berkarier untuk pertama kalinya selulus kuliah. 7 tahun lebih menjalani profesi  sebagai  editor, penyiar, dan produser, Tutuk mundur dari KLCBS setelah memiliki dua anak dalam waktu yang tak berjauhan, Rahmi dan Rafi. Selama satu tahun menjadi ibu rumah tangga full demi kedua anaknya, Tutuk juga menjadi penerjemah lepas untuk buku-buku penerbit Mizan, dan menulis cerpen untuk Kompas, Femina, Bobo, Noor, dll.  Hingga akhirnya dia ditawari bekerja di Penerbit Mizan, Bandung, di Kelompok Mizan inilah dia berkarier hingga saat ini: pertama sebagai editor,  kemudian menangani bagian promosi, lalu memimpin Penerbit Mizan Bandung, Hikmah, dan Lingkar Pena Publishing House, ikut merintis inisiatif digital Mizan sebagai CEO Mizan Digital Publishing dan kini memimpin Noura Books, penerbit termuda di Kelompok Mizan. Mulai 2016 ini, Tutuk juga aktif sebagai pengurus Ikatan Penerbit Indonesia IKAPI, sebagai Kepala Bidang Minat Baca dan Tulis. Tak banyak yang tahu, karena jam jelajahnya mengemudi di Jakarta, diam-diam ia memendam keinginan untuk menjadi sopir taksi setelah pensiun nanti.

Tutuk bisa dihubungi di pangestuningsih@mizan.com, atau akun Twitter dan Facebook-nya.