Oleh: Alfian Putra Abdi

“Mbok, apakah wanita dilahirkan hanya untuk nunut, manut, dan katut?” – Sri Mulat.

KETIKA SRIMULAT MERAJAI PANGGUNG humor Indonesia, tentu saya belum lahir. Orang tua saya juga, mungkin masih belum fasih bilang “I love you”. Bahkan ketika Srimulat memutuskan reuni (pasca hiatus) pada tahun 1995, saya masih terlalu kecil untuk menikmatinya.

Beranjak remaja, saya baru bisa menikmati Srimulat. Namun dalam porsi tidak utuh. Hanya sisa tulang belulang yang berserakan di mana-mana. Melalui Basuki dalam lakonnya di sinetron Si Doel, Kadir yang lebih luwes saya kenal bersama Doyok, Tessy yang nyentrik bersama Mandragade, serta Tarzan dan Nunung yang sampai sekarang masih bertahan di layar hiburan nasional.

Lepas dari itu, saya mengetahui  Srimulat hanya sebatas kelompok asal Jawa Tengah yang sering membikin gelak tawa orang pecah karena kejenakaan mereka. Sekedar itu saja.

Namun belakangan, baru saya ketahui bahwa kelompok penenun tawa tersebut lahir justru dari percikan api pemberontakan.

Artwork by Hari Prast.

Melalui karya tulis Thrio Haryanto berjudul Srimulatism. Bisa dilacak sepak terjang Raden Ayu Sri Mulat. Wanita kelahiran 7 Mei 1908 itu tinggal bersama ayahnya Raden Mas Aryo Tjitrosomo di Dalem Kawedanan Bekonang. Hidup dalam lingkaran keluarga priayi, membuatnya tidak kerasan. Ada beberapa sebab yang membuatnya ingin meninggalkan rumah, salah satunya perihal relasi kuasa wanita dan pria.

“Mbok, saya sudah tidak kuat,” ucap Sri kepada Mbok Ginul. “Saya mau minggat, Mbok.”

Di lain sisi Mbok Ginul malah menyuruhnya untuk menerima keadaan dengan pasrah dan tenang. Namun Sri tetap membatu, dia pun pergi meninggalkan gerbang Kawedanan dan melepaskan atribut Raden Ayu sebagai pengawal namanya.

Sejak saat itu, Sri memulai kembali sesuatu yang sebelumnya dilarang dilakukan ketika berada di dalam Kawedanan: nyinden dan menari. Fase baru tersebut menjadi awal pengembaraan seni bagi Sri. Dia mulai sibuk menjadi sinden dari panggung ke panggung, bahkan kota ke kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Berkat kemerduan suaranya, nama Sri cepat dikenal orang. Bahkan dirinya sempat pula menyicipi seni peran dan membintangi sejumlah judul film.

Di sela pengembaraan seninya, Sri berjumpa dengan pria yang lebih muda 18 tahun darinya. Teguh nama pria tersebut. Mereka kemudian menjadi sepasang suami istri, setelah resmi menikah pada 8 Agustus 1950. Pada malam harinya, mereka berdua mencetuskan Gema Malam Srimulat, cikal bakal lahirnya kelompok penentun tawa Srimulat yang kita kenal hari ini.

Sulit saya membayangkan untuk mengenal Basuki, Tessy, Kadir, Tarzan, dan Nunung sekarang. Seandainya, Sri Mulat lebih memilih menuruti petuah Mbok Ginul dan hidup terpaksa nyaman di Dalem Kawedanan Bekonang.[]