Susan Angela Ann Harrison atau kita kenal dengan nama pena A.S.A Harisson adalah seorang penulis perempuan yang hanya menerbitkan sebuah novel pertama dan terakhir di hidupnya. Pada usia 65 tahun ia meninggal dunia beberapa bulan sebelum novelnya diterbitkan.

“Silent Wife” (di beberapa negara menggunakan judul “The Silent Wife”) adalah novel pertama dan terakhir A.S.A Harisson itu. Novel ini bergenre psychological thriller, subgenre domestic noir. Psychological thriller adalah genre sastra yang memberikan suasana tegang, penasaran, takut, dan cemas kepada pembacanya. Selain itu, ketidakstabilan psikologis karakter pemerannya juga turut membangun cerita hingga klimaks. Tujuan dari genre ini adalah membuat pembaca tenggelam dalam keadaan yang sangat tidak nyaman. Merasa terancam. Sedangkan subgenre domestic noir awalnya merupakan subgenre pada film noir yang akhirnya dituangkan dalam tulisan fiksi kriminal oleh Elizabeth Haynes “The Queen of Domestic Noir”.

Versi Indonesia

Versi Belanda Versi Ceko Versi BulgariaVersi Kroasia Versi Brazil Versi Arab Versi Denmark

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Disejajarkan dengan penulis domestic noir lain, “The Girl on The Train” oleh Paula Hawkins, “Gone Girl” oleh Gillian Flynn, atau “Disclaimer” oleh Renée Knight”, “Silent Wife” juga merupakan best-seller New York Times yang telah diterjemahkan ke 30 bahasa di seluruh dunia.

Seperti dikutip dari detik.com bahwa diperlukan cukup kesabaran untuk membaca novel ini, karena ketabahannya dalam mengungkap perasaan tokoh-tokohnya. Penerjemahan yang dikerjakan oleh Inggrid Nimpoena mengalir tanpa cacat, enak dibaca dan itu membantu untuk membuat novel setebal 366 halaman ini tak mau menunggu berlama-lama diselesaikan. Ada bagian-bagian yang nyaris tanpa dialog, dan ada saat ketika suara penulis seolah-olah muncul, dengan komentar dan analisisnya, dengan teori-teori psikologinya —Jung, Adler hingga Albert Ellis sang bapak pergeseran paradigma perilaku kognitif dalam psikoterapi. Namun, dengan lembut dan tangkas, Harrison langsung mengembalikan konteksnya bahwa semua itu tak lain suara hati dari sang tokoh yang tengah bergulat dengan batinnya. Sehingga pembaca tidak merasa dikuliahi, melainkan justru banyak belajar dari “kearifan” dan pengalaman, baik masa lalu maupun masa kini, dari tokoh-tokoh dalam novel ini, terutama Jodi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>