Si Gadis Pemulung yang Menjadi CEO

Bagi Sophia kecil hidup adalah deretan kesialan yang seakan tak kunjung habis dan bagi Sophia remaja hidup adalah rentetan kegagalan yang terus menghantuinya. Bagaimana tidak, pada saat dia kelas 4, gurunya berpikir ada sesuatu yang salah dengan diri Sophia. Beberapa kemungkinannya adalah ADD (Attention Deficit Disorder) atau sulit memusatkan perhatian dan sindrom Tourette (penyakit kelainan saraf yang membuat seseorang mengeluarkan ucapan atau gerakan yang spontan tanpa bisa mengontrolnya) (hal. 3). Sehingga dia harus berpindah-pindah sekolah karena dianggap tidak bisa mengikuti pelajaran. Selama 12 tahun masa pendidikannya dia telah berpindah sekolah 10 kali (hal. 62). Dan, puncaknya pada masa SMA dia benar-benar divonis ADD dan depresi oleh psikiaternya, lalu dia memilih untuk putus sekolah daripada setiap hari harus meminum banyak pil.

#GirlBossPada saat Sophia remaja kedua orangtuanya bercerai dan keadaan ekonomi keluarganya carut marut. Dia pergi dari rumahnya dan tinggal di sebuah kamar lemari di bawah tangga di sebuah apartemen temannya. Kemudian, Sophia mengisi masa remajanya dengan mengorek tempat sampah untuk mencari makanan dan lebih sering mencuri (hal. 94) untuk bertahan hidup. Bukannya dia tidak pernah bekerja, dia pernah menjadi penjaga stan minuman limun, pengantar koran, pengasuh anak, dan pekerjaan lainnya, tetapi semuanya tidak pernah berhasil dan seringnya berakhir dengan pemecatan dirinya. Kehidupan yang kacau dan banyaknya kegagalan yang dialaminya membuat Sophia berpikir kalau dia ditakdirkan untuk menjalani hidup sebagai pecundang.

Namun, tidak ada yang dapat menebak dengan pasti bagaimana nasib seseorang di masa depan. Begitu pula dengan nasib Sophia si Perempuan Gagal dan anak yang selalu dijadikan contoh buruk di dalam keluarganya itu kini menjadi perempuan muda, pendiri, CEO, dan direktur kreatif Nasty Gal, sebuah toko fashion online beromzet ratusan juta dolar. Siapa sangka, justru kecintaannya kepada pakaian vintage (pakaian yang nyaris setiap hari dia kenakan sebagai pilihan mode berpakaiannya dan selalu dianggap buruk oleh ibunya) justru membawanya ke kesuksesan. Pakaian-pakaian vintage yang dibelinya dari tukang loak dia bersihkan, lalu dijual melalui eBay. Setelah dia berhasil menjual pakaian-pakaian itu 10 kali lipat dari harga belinya, dia ketagihan dan tidak pernah mau berhenti.

Kemudian, Sophia mulai memburu lebih banyak lagi pakaian-pakaian vintage. Dari sejak pagi buta dia sudah bangun, lalu mengendarai mobil sejauh puluhan kilometer. Beradu cepat, saling sikut, saling dorong dengan para pemburu lainnya sehingga jari-jarinya menjadi lebih “keriting” karena harus mengaduk dan memilah-milih barang-barang incarannya. Dia menikmati setiap proses kerja kerasnya itu. Mulai dari berburu, mencuci, memodifikasi, memotret, dan melelangnya di eBay. Awalnya dia lakukan semua itu seorang diri, tetapi setelah dia punya lebih banyak uang dari hasil penjualannya Sophia mulai memperkerjakan seseorang dan membangun sistem bisnisnya. Dan sekarang, dia sudah punya situs sendiri, nastygal.com yang dinobatkan majalah Inc. sebagai toko retail yang pertumbuhannya paling cepat di Amerika dan memiliki lebih dari 300 karyawan.

Aku menceritakan kisahku untuk mengingatkanmu bahwa jalan yang lurus dan sempit bukanlah satu-satunya jalan menuju sukses (hal 13). Begitulah kata Sophia dalam buku ini. Sebuah pernyataan yang menegaskan dan berusaha menarik kita (pembaca) kembali kepada sebuah kesadaran tentang terbukanya jalan-jalan lain menuju kesuksesan, selain jalan mainstream yang sering dilalui orang-orang. Yaitu: dimulai dengan mendapat gelar sarjana, lalu memperoleh pekerjaan. Kegagalan di sekolah bukan berarti kegagalan dalam hidup, begitulah yang ingin disampaikan Sophia. Siapa pun diri kita, asalkan mau bekerja lebih keras maka tidak ada yang tidak mungkin bisa kita raih, sebab kesuksesan akan selalu berpihak kepada orang-orang yang mau bekerja keras.

Meskipun berjudul #GirlBoss, tetapi buku ini pun sangat layak untuk dibaca oleh para lelaki dan terutama mereka yang akan menekuni dunia toko daring. Yang menarik, buku ini tidak hanya dilengkapi dengan tips-tips membangun bisnis, dan cerita sukses dari para #GirlBoss lain (selain Sophia Amoruso), tetapi juga tips-tips membuat surat lamaran dan menghadapi wawancara pekerjaan. Di dalam buku ini juga kita akan menemukan banyak sekali pelajaran-pelajaran berharga tentang bangaimana kita menghargai diri sendiri, membangun kepercayaan diri, mengembangkan relasi, kerja keras, dan selalu berpikiran positif seperti kata Sophia, “Aku percaya bahwa selalu ada hikmahnya dalam segala hal, dan saat kamu mulai bisa melihat hikmahnya, kamu akan butuh kacamata untuk melawan kilaunya.” dan “kesuksesan akan selalu berpihak kepada orang-orang yang mau bekerja keras.”


Peresensi adalah Lian Kagura, alumni Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, penulis dan editor buku nonfiksi di Noura Books. Kunjungi juga blog-nya untuk melihat tulisan-tulisannya yang lain.