membaca buku

“Tujuan sastra adalah mengubah darah menjadi tinta.”

—TS Elliot

Pelajar generasi tahun 80-an mungkin masih merasakan kewajiban membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, Salah Asuhan karya Abdul Moeis,  serta menghafal puisi Chairul Anwar, Amir Hamzah,  dll. Namun sekarang, tak ada lagi kewajiban itu. Beberapa sekolah memang sudah menerapkan pembiasaan membaca buku 15 menit sebelum kegiatan belajar, namun tak ada lagi ‘buku sastra wajib’ dibaca murid.

Banyak pihak menyesalkan situasi ini. Ada beberapa desakan untuk memperkenalkan karya-karya sastra di sekolah, tapi belum direspons dengan baik, belum terlaksana nasional.

Kondisi di tanah air berbeda dengan di negara-negara maju dan negara tetangga, di mana kewajiban membaca karya sastra sudah dimulai sejak usia SD. Bahkan murid setingkat SMA diwajibkan membaca buku sastra yang jumlahnya mencapai lebih dari 30 judul. Terbanyak adalah di Jerman, 32 judul termasuk Laskar Pelangi. Karya gemilang Andrea Hirata ini memang mampu menggugah dan menyemangati anak-anak untuk semangat meraih cita-cita dan menikmati perjuangan dalam keterbatasan.  Mirisnya, pendidikan di Indonesia sendiri belum mewajibkannya, meskipun sempat ada desakan pemerintah mewajibkan Laskar Pelangi sebagai bacaan wajib. Terdengar menyedihkan, ya?

Beralih ke Inggris, salah satu buku wajib anak  usia SD adalah Matilda. Karya Roald Dahl ini berkisah tentang seorang anak  cerdas, gemar membaca buku, punya kekuatan supranatural, namun juga menghadapi konflik dalan keluarganya. Dari kisah semacam itu anak akan mendapatkan pengalaman baru yang luar biasa. Lebih dari itu, muatan dalam fiksi Matilda sesuai dengan fungsi sastra itu sendiri, sebagai bacaan dengan fungsi rekreatif yang menghibur, fungsi didaktif yang mendidik, fungsi moralitas yang mengajarkan sikap baik dan buruk, fungsi estetis yang menyuguhkan keindahan, dan fungsi religius.

Bayangkan jika lebih banyak buku wajib yang dibaca anak! Tentu lebih banyak pelajaran moral yang didapatnya, lebih dapat berpengaruh pada perubahan perilakunya. Maka tak berlebihan jika ada pihak di tanah air yang memprakarsai Sekolah Ramah Anak dengan kegiatan membaca buku sastra dan membaca puisi. Tak berlebihan pula jika Sekolah Ramah Anak menggantungkan harapan pada sastra untuk mengubah perilaku anak menjadi lebih baik, halus, dan anti kekerasan, anti bully. [rst]