Sampaikan Walau Satu Ayat

Oleh: Ahmad Najib

Saya beberapa hari ini, sedang galau memikirkan kenapa umat Islam ini tidak berdakwah secara elegan, sehingga tidak mempermalukan diri dan sekaligus, yang lebih berat, menjadikan image agama ini semakin buruk di mata non muslim yang dampaknya tentu saja menjauhkan mereka dari Islam. Padahal perintah nabi jelas, “ballighu ‘anniy walau ayah” (sampaikan dariku walau satu ayat). Alih-alih menyampaikan agar mereka mengenal Islam, kita membuat mereka takut dan menjauh dari Islam.

Kita tahu persis bahwa hidayah 100% hak Allah, tidak sedikit pun manusia dapat campur tangan urusan itu bahkan Nabi Saw. sendiri. Jadi tugas kita, sebagaimana tugas Nabi, hanya menyampaikan saja atau dengan kata lain hanya sebagai sebab seseorang mengenal dan mendapat hidayah. Untuk itu maka seharusnya, layaknya prinsip marketing, kita seharusnya “memasarkan” Islam dengan cara yang menarik bukan dengan menyerang pesaing kita, yang secara otomatis menjatuhkan image “dagangan” kita.

Dan itulah yang dilakukan Nabi Saw. dengan marketing-nya yang luar biasa dapat menarik—dalam waktu relatif singkat—banyak  orang menganut agama ini dan bahkan rela mati demi agama ini. Dari tujuan menyebarkan agama ini saja kita dapat melihat betapa dahsyat dan efektifnya cara dakwah Nabi. Beliau—dengan rahmatnya yang luar biasa—hanya menginginkan orang mendapat nikmat dengan mendapat ridha Allah dan terbebas dari api neraka.

Sehingga kita bisa melihat betapa beliau menangisi orang Yahudi yang meninggal sebelum mendapat hidayah dan tersenyum gembira ketika seorang anak Yahudi menjelang wafatnya bersyahadat di hadapan beliau.  Begitulah cara dakwah Nabi yang mengedepankan cinta. Sehingga kita bisa melihat bagaimana Nabi selalu menyuapi seorang wanita Yahudi buta yang ketika disuapi selalu memperingatkan agar yang menyuapinya berhati-hati dan menjauhi Muhammad. Dia sama sekali tak pernah tahu bahwa yang setiap hari menyuapinya adalah tangan suci Muhammad Saw. Nabi sama sekali tak pernah mengajaknya untuk masuk Islam, beliau hanya berdakwah dengan akhlaknya. Dan Yahudi buta itu pun baru mengetahui bahwa yang menyuapinya adalah Sang Nabi yang ia benci justru ketika Nabi sudah wafat. Yaitu saat Abu Bakar ingin melanjutkan kebiasaan Nabi yang tidak ia ketahui. Ketika Abu Bakar menyuapi wanita itu, ia merasakan caranya berbeda dengan orang yang biasa menyuapinya. Ketika ia menanyakan ke mana orang yang biasa melakukannya Abu Bakar menangis dan menyampaikan bahwa yang menyuapinya adalah Nabi Saw. yang baru wafat beberapa hari sebelumnya.

Begitulah dakwah Nabi dan dakwah para pengikutnya. Kita juga pernah mendengar seorang dari hadramaut, Yaman yang berdakwah dan mengislamkan satu perkampungan di Afrika dengan cara berdagang. Ia hanya melakukan cara dakwah yang sederhana—tampaknya—tapi berdampak luar biasa. Yaitu, ia selalu memberi bonus setiap orang yang membeli di tokonya. Dengan cara itu orang yang mulanya asing di kampung itu menjadi kecintaan warga di sana. Dan tanpa mengumbar yel-yel Allahu Akbar orang di kampung itu mendapat hidayah karena akhlaknya.

Sementara kita sekarang dengan ucapan Allahu Akbar menjauhkan orang dari Islam. Bukan cuma itu, bahkan orang Islamnya merasa khawatir ketika kata Allahu Akbar diteriakkan, sungguh kita sendiri yang merusak citra Islam di mata umat. Sungguh benar ucapan, “al islam mahjuubun bil muslimin” ([keindahan] islam itu tertutupi  [oleh polah tingkah] muslimin). Wallahu a’lam.[]