bh

Ulama, sastrawan, wartawan, editor, adalah profesi Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka).  Sebagai ulama, beberapa karya telah ditulisnya. Yang paling terkenal adalah Tafsir Al-Azhar (30 Juz), Khatib Ul Ummah (1925), Tarikh Abu Bakar Ash-Shidiq, dan Ringkasan Tarikh Umat Islam.

Sebagai sastrawan, roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah karyanya yang paling terkenal selain Di Bawah Lindungan Ka’bah, Laila Majnun, Dalam Lembah Kehidupan, dan lain-lain.

Hamka juga penulis puisi. Karyanya  lebih banyak bernuansa relijius. Dalam puisi berjudul  Nikmat Hidup, misalnya, Hamka mengingatkan tentang makna puasa, kesabaran, dan keimanan. Berikut sebagian puisi tersebut.

Tahan haus tahanlah lapar

Bertemu sulit hendaklah tenang
Memohon-mohon jadikan pantang
Dari mengemis biar terkapar
Hanya dua tempat bertanya
Pertama Tuhan, kedua hati
Dari mulai hidup sampat mati
Timbangan insan tidaklah sama

Dan yang mengesankan, ada pula yang puisinya yang bertemakan cinta.  Seperti berikut ini:

Hanya hati

Gajiku kecil
Pencaharian lain tak ada
Kicuh buku aku tak tahu
Korupsi aku tak mahir
Berniaga aku tak pandai

Kau minta permadani
Padaku hanya tikar pandan
Tempat berbaring tidur seorang
Kau minta tas atom
Padaku hanya kampir matur
Kau minta rumah indah perabit cukup
Lihatlah! Gubukku tiris
Kau minta kereta bagus
Aku hanya orang kecil
Apa dayaku
Kekayaanku hanya satu, dik

Hati
Hati yang luas tak bertepi
Cinta yang dalam tak terajuk

Puisi yang ditulis pada tahun 1948 ini adalah salah satu kontribusi besar dalam sastra tanah air, dan secara khusus merupakan kenang-kenangan indah bagi keluarganya.  Karya-karyanya tak hanya menyiratkan kehebatan seorang sastrawan dan kealiman seorang ulama, lebih dari itu, Hamka menunjukkan dirinya sebagai  insan penuh cinta.

Pintu rumahnya selalu terbuka untuk kedatangan siapa pun yang meminta nasihat, baik konsultasi agama hingga persoalan rumah tangga. Betapa tepat sebutan ‘Buya’ (Ayah, dalam bahasa Minangkabau) bagi sosok beliau.  Dan kendati telah berpulang ke rahmatullah 36 tahun yang lalu, sang putra, Rusydi Hamka masih mengingat detail sosok Buya sebagai ayah penuh cinta, bukan hanya ulama berkharisma. Rusydi Hamka menuangkan kisah dan kenangannya dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Hamka. [rst]