Emha-Ainun-Nadjib

 

Di akun sosial medianya, Emha Ainun Nadjib pernah bertutur sebagai berikut:

Di bulan Ramadhan ini saya mendengar rombongan setan lewat-lewat di sekitar saya dan ngomong aneh-aneh.

“Puasa kok suasananya lebih ribut dibanding tidak puasa. Puasa cap apa itu? Wong namanya saja puasa kok ribut. Anggaran belanja makanan minuman keluarga-keluarga kaum pelaku puasa malah lebih meningkat dibanding hari-hari tak puasa. Puasa kok meningkat cengengesannya, ribut jualan kue puasa, jajan puasa, kado puasa, lawakan puasa, ustadz puasa, album puasa, meubel puasa, soto rawon puasa, kolak getuk puasa….”

 

Setan lain bereaksi: “Bukankah itu mencerminkan suksesnya visi-misi kita kaum setan atas kehidupan manusia?”

Setan yang pertama menjawab: “Untuk melakukan keributan-keributan perusak kekhusyukan Ramadhan, bulan privatnya Allah itu, umat manusia tidak memerlukan pengaruh atau provokasi kita para setan. Mohon kita akui dengan kebesaran jiwa bahwa kecerdasan manusia untuk mengotori hidupnya sendiri sudah jauh melebihi target maksimal nenek moyang kita para setan dahulu kala untuk merusak hidup manusia.”

 

Setan yang ketiga menimpali: “Manusia itu tolol. Untuk tidak mencuri dan mabuk mereka butuh kitab suci Allah, tak bisa mereka temukan sendiri dengan nurani dan akal sehatnya. Untuk tidak korupsi dan menindas rakyat mereka butuh konstitusi dan hukum formal. Itu pun belum tentu mereka patuhi. Jadi untuk menghancurkan peradaban manusia, sama sekali tidak diperlukan setan dan Iblis. Mereka sudah matang dan dewasa dan canggih menjalankan sistem dan budaya penghancur kehidupan anak cucu mereka sendiri. Meski Tuhan mengizinkan ada tsunami terjadi dan sepadan dengan tsunami di zaman Nabi Nuh dan Fir’aun, meskipun gunung-gunung diledakkan, meskipun gempa disebar, meskipun tanah bumi diretak-retakkan: manusia sudah telanjur tidak memiliki alat di dalam diri dan sistem kebersamaannya untuk belajar dari bencana-bencana itu. Setiap bencana hanya melahirkan tiga bersaudara: politisasi bencana, komodifikasi bencana, dan wisata bencana.  Mereka sesungguhnya tidak mengerti Ramadhan.”

Saya termangu-mangu dan menjadi ragu sendiri: itu semua kata-kata setan atau malaikat atau isyarat dari Tuhan sendiri?

Begitulah Cak Nun, kerap melontarkan pemikiran kritis yang jitu. [rst]