Pesan Budi Darma: Jangan Ulangi Kesalahan Saya

Meski langkahnya tertatih dan sesekali lengannya menyambut uluran tangan yang ingin membantunya berjalan, suara beliau masih terdengar lantang dan penuh semangat. Ia tersenyum ramah pada siapa saja yang menyapanya di lobi Teater Besar Taman Ismail Marzuki, di mana perhelatan ASEAN Literary Festival 2016 sedang berlangsung.

Dari tahun ke tahun, ASEAN Literary Festival tak pernah absen memberikan apresiasi tertinggi kepada penulis senior yang telah berkontribusi terhadap komunitas literasi di Indonesia. Pada penyelenggaraan pertama, ASEAN Literary Festival memberikan penghargaan kepada Wiji Thukul, menyusul setahun berikutnya giliran Sitor Situmorang. Tahun ini, penghargaan diberikan kepada Budi Darma, penulis senior pada era 1970an. Karyanya mungkin tak banyak, namun para pembaca yang telah bersentuhan dengan tokoh-tokoh di dalam ceritanya, tak bisa memutuskan ikatan emosional yang kadung terjalin.

Launching Buku Orang-Orang Bloomington
Pangestu Ningsih, CEO Noura Books, menyerahkan giant book kepada Budi Darma.

Bertepatan dengan malam penghargaan untuk Budi Darma, buku Orang-Orang Bloomington yang sempat menghilang dari peredaran diterbitkan kembali oleh Noura. Pangestu Ningsih selaku CEO Noura Books menyerahkan buku Orang-Orang Bloomington raksasa kepada Budi Darma yang menandai peluncuran buku tersebut. Selama berada di atas panggung, senyum sumringah tak pernah lepas dari wajah pria kelahiran Rembang, 79 tahun silam ini.

Dalam sambutannya, beliau berkata, “Saya harap, penulis-penulis zaman sekarang tidak mengulangi kesalahan yang saya lakukan di masa muda. Saya menulis tidak bertujuan untuk diterbitkan. Saya hanya mengirimkan tulisan saya ke media, kalau bukan karena penerbit yang menghubungi saya lebih dulu, mungkin tulisan saya takkan pernah jadi sebuah buku.” Beliau juga memuji semangat para penulis muda yang kini lebih gigih dan tak hanya mengandalkan mood. Guru besar di FPBS Universitas Negeri Surabaya ini berujar, “Dulu saya hanya menulis saat saya ingin menulis. Saya senang melihat semangat penulis-penulis muda dalam berkarya.”

Agus Noor dalam peluncuran buku Orang-Orang Bloomington.

Agus Noor, sastrawan yang juga menulis naskah program Sentilan Sentilun di Metro TV ini turut berbicara di atas panggung. Ia mengutarakan bahwa cerpen favoritnya dalam buku Orang-Orang Bloomington adalah Orez. Setelah itu, giliran Gunawan Maryanto yang menampilkan dramatic reading kutipan salah satu cerpen dalam buku Orang-Orang Bloomington. Uniknya, cerpen yang terpilih untuk dibacakan lagi-lagi adalah Orez. Wah, sebuah kebetulan yang menyenangkan! :)

Gunawan Maryanto menampilkan dramatic reading.
Gunawan Maryanto menampilkan dramatic reading.

ASEAN Literary Festival yang memasuki penyelenggaraan tahun ke-3 mengusung tema The Story of Now. Puluhan diskusi pun digelar, mengangkat isu-isu terkini dan mendesak yang tengah dihadapi oleh masyarakat. Mulai dari permasalahan lingkungan, digital hype, demokrasi dan hak-hak asasi manusia, hingga masalah pengungsi. Pihak penyelenggara bertekad untuk kritis terhadap permasalahan tersebut dan membantu mencari jalan keluar dengan membuka forum-forum diskusi.

Sebagai penerbit yang sudah merumahi ratusan karya dari para penulis, Noura merasa bangga dapat menjadi bagian dari event tahunan ini. Semoga ASEAN Literary Festival di tahun-tahun mendatang dapat kembali diselenggarakan dan tetap mengusung misi mulia demi memberikan kontribusi kepada masyarakat. Sampai jumpa di ASEAN Literary Festival 2017! :)