kalau-istiqamah-nggak-bakal-takutIslam, di tangan ulama yang memiliki perhatian pada ummat, penghormatan pada karya dan kecintaan pada tanah air, akan melahirkan renungan-renungan indah. Renungan inilah, yang dapat mengajak muslim untuk menghamparkan kebaikan-kebaikan yang lebih luas. Dari renungan pakar hadist dan Imam Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Ali Mustofa Ya’qub, terlihat kejernihan sekaligus keteguhan dalam mengajarkan kedamaian Islam.

Almarhum Kiai Ali Mustofa Ya’qub, merupakan tokoh penting dalam dinamika Islam Indonesia. Beliau merupakan murid Hadratus syaikh Hasyim Asy’ari di pesantren Tebu Ireng, Jombang. Selanjutnya, Kiai Ali melanjutkan belajar di Timur Tengah, untuk memperdalam ilmu hadist. Hingga, beliau menjadi pakar dalam kajian hadist, sekaligus menjadi referensi dalam problematika umat di negeri ini.

Bagaimana kiai Ali memahami Islam? Beliau termasuk tokoh yang santun dalam perbuatan, sekaligus kokoh dalam pemikiran. Dalam pemikirannya, istiqomah akan menjadikan santri-santrinya dan umat muslim, dapat mereguk kedalaman ilmu, sekaligus keindahan dalam berislam.

Secara istilah, ulama mendefinisikan istiqomah dengan selalu melaksanakan ketaatan kepada Allah. Bukan istiqomah, jika angin-anginan atau istilahnya, daldul. Kalau punya uang baru ke masjid. Namun jika tidak ada uang, tidak mau ke masjid. Atau sebaliknya, jika memiliki uang tidak mau beribadah ke masjid, kalau sedang bokek tidak punya uang, baru mendatangi masjid. Orang istiqomah selalu taat kepada Allah (hal. 35).

Ulama mendefinisikan istiqomah dengan selalu melaksanakan ketaatan kepada Allah

Bagi KH Ali Mustofa Ya’qub, istiqomah sangat penting bagi umat muslim agar senantiasa mendapatkan berkah dan Ridha Allah. Menurutnya, istiqomah merupakan satu kata, akan tetapi perwujudan atau praktiknya sangat besar, karena istiqomah merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah. Dengan demikian, beribadah secara istiqomah lebih penting daripada jarang, atau bahkan fluktuatif. Istiqomah menggerakkan gelombang kebaikan, yang manfaatnya untuk kebaikan manusia, keluarga dan lingkungannya.

Memahami Iman

Kiai Ali juga membahas tentang iman, sebagai penghantar untuk memahami kesemestaan Tuhan, universalisme Islam. Kiai Ali membahas iman sebagai pondasi bagi umat muslim untuk menyempurnakan agama, mengenali Allah secara hakiki. Menurut Ibnu Taimiyah, iman terbagi menjadi dua, yakni tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah. Tauhid rububiyyah merupakan pengakuan seseorang terhadap pencipta alam, pemberi rizki, pemelihara kehidupan, yang menghidupkan dan mematikan makhluk hanya satu: Allah.

Sementara, tauhid uluhiyyah, kita hanya taat dan menyembah kepada Allah. Uluhiyyah dari kata Ilah, artinya Tuhan yang disembah. Iblis tidak memiliki tauhid ini. Iblis hanya memiliki tauhid rububiyyah. Untuk itu, syahadat bagi umat muslim, kalimatnya harus Ilah, tidak boleh diganti dengan Rabb, seperti La Rabba Illallah. Akan tetapi, harus La Ilaaha Illallah. Kalau La Rabba Illallah belum sah tauhidnya, karena hanya sekedar tauhid rububiyyah, belum mencakup tauhid uluhiyyah. Kalau Laa Ikaha Illallah mencakup keduanya, yakni rububiyyah dan uluhiyyah (hal. 43).

Kiai Ali Mustofa Ya’qub juga menyinggung hidayah, sebagai sinar kebaikan dari Allah. Hidayah ada tiga macam. Pertama, Allah memberikan kekuatan kepada manusia untuk melakukan kebaikan ataupun keburukan. Kedua, at-taufiq, yakni Allah memberikan kekuatan kepada hamba-Nya untuk taat kepada-Nya. Ketiga, hidayah berupa penjelasan dan bimbingan, al-irsyad wal-bayan. Nabi Muhammad memberi penjelasan dan bimbingan kepada para sahabatnya, inilah yang dimaksud dengan hidayah berupa irsyad.

Untuk mendapatkan hidayah dari Allah, Kiai Ali Mustofa dalam buku ini, mengajak umat muslim untuk selalu beribadah kepada Allah. Umat Islam juga perlu menjaga hidayah, dengan cara terus menerus mengingat apa yang dikerjakan dalam hidupnya, seraya tetap ingat kepada sang Pencipta, dengan istighfar dan doa yang tidak pernah putus.

Pada ruang yang lain, Kiai Ali Mustofa Ya’qub mengajak kepada santri-santrinya dan umat muslim, untuk berdakwah secara seimbang. Menurut Ali Mustofa, dakwah Islam memiliki dua karakter. Yakni, karakter basyiran (memberi kabar gembira) dan karakter nadziran (memberi peringatan).

Dalam kisah yang disampaikan Kiai Ali Mustofa, ketika Sahabat Muadz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy’aru diutus Rasulullah berdakwah ke Yaman, Rasul berpesan: “kamu berdua harus memberi kabar gembira, dan jangan membuat orang-orang pada lari,”. Pesan Rasulullah ini penting, agar memaknai dakwah Islam secara damai dan sejuk. Namun, pada kesempatan yang berbeda, Rasulullah akan bersikap keras kepada mereka yang menistakan agama, mereka yang dari hatinya telah melecehkan Islam. Dengan demikian, dakwah Islam diselenggarakan secara seimbang.

Kiai Ali Mustofa, mengungkapkan dalam tulisan maupun ceramahnya, bahwa Islam itu rahmatan lil-‘alamin. “Bukan cuma orang Islam dan orang kafir, binatang pun mendapat rahmat. Menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik,” (hal. 186).

Buku ini, merupakan karya terakhir dari Kiai Ali Mustofa Ya’qub, sebelum wafat pada 28 April 2016. Dalam buku ini, terlihat bagaimana Kiai Ali merupakan sosok teduh yang memiliki karakter dan argumentasi kuat, dalam menyebarkan Islam sebagai agama ilmu pengetahuan, Islam sebagai rahmatan lil-alamiin [].


Resensi ini ditulis oleh Munawir Aziz, aktivis Gerakan Islam Cinta dan telah dimuat di Islami.co.