halaman 18 dan 19

“Anak-anak Indonesia itu harus kreatif, dan harus gembira. Anak Indonesia harus bahagia.” Suyadi

cover pak raden rev curveKumisnya tebal. Alisnya juga tebal. Berpakaian adat Jawa lengkap dengan kepala ditutup blangkon. Suaranya berat, kadang terdengar menakutkan. Itulah Pak Raden, sosok melegenda dalam tontonan anak-anak era tahun 80-an, Si Unyil. Pak Raden, Unyil, dan kawan-kawannya adalah pesona.

Mengapa Unyil yang hanya boneka dengan cerita yang sederhana bisa sangat disukai anak-anak? Mungkin, karena kisah ini dibuat dari seorang sosok yang sangat mecintai anak-anak, Suyadi. Kecintaan dan kepedulian Suyadi pada anak-anak tidak hanya diwujudkan dalam film boneka Si Unyil saja. Suyadi dikenal sebagai pendongeng untuk anak-anak. Semasa hidupnya, Suyadi sering manggung di beberapa acara. Kadang mendongeng sambil menggambar langsung isi dongengnya. Keahlian ini hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang mencintai profesinya.

Sarjana seni rupa itu memang mahir menggambar dan melukis. Dari keahliannya menggambar dan dari pendidikan animasi di Perancis pada era 60-an, Suyadi pernah membuat film animasi Timun Mas pada tahun 1993. Beliau pula lah yang membuat ilustrasi sampul buku pelajaran bahasa Indonesia untuk anak-anak tahun 80-an dengan  coretan yang khas. Seniman serba bisa ini juga membuat sendiri ilustrasi cerita pada buku-buku yang ditulisnya.

Ya, Suyadi alias Pak Raden juga adalah penulis buku anak. Puluhan judul buku anak bahkan sudah  ditulisnya dengan ilustrasi yang dibuatnya sendiri.  Bagi yang belum pernah membaca karyanya, dijamin akan terkagum-kagum dengan ilustrasi dan kisah menghibur dalam Pedagang Peci Kecurian, misalnya atau Seribu Kucing untuk Kakek, kisah menawan tentang kakek nenek yang kesepian dan ingin memelihara kucing. Suyadi sendiri memang sangat cinta dengan kucing.

Penghormatan layak ditujukan bagi Suyadi,  yang meninggal di usia 83 tahun pada 30 Oktober 2015.  Sebulan setelah kepergiannya, Forum Pecinta Dongeng di Jakarta mendeklarasikan 28 November–diambil dari tanggal lahir Suyadi 28 November 1932 sebagai Hari Dongeng Nasional. Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan juga secara resmi mengakui deklarasi tersebut. Hari Dongeng Nasional adalah penghormatan bagi seorang tokoh yang hidup dengan dongeng dan menghidupkan dongeng Indonesia, Suyadi. [rst]