DSC_0068

Masih ingat cerita masa awal Rhenald Kasali tinggal di AS, ketika profesor ekonomi itu mempertanyakan nilai karangan bahasa Inggris anaknya yang mendapatkan nilai A? Padahal, tulisan anaknya jauh dari sempurna. Rhenald dan keluarga baru dalam hitungan hari berada di negara asing.  Apa jawaban guru anaknya?

“Untuk anak yang berasal dari negara dengan bahasa ibu yang berbeda dengan bahasa di tempat barunya, tulisan seperti ini adalah luar biasa. Dia sudah sangat sulit untuk menyesuaikan diri di tempat baru, dengan kemampuan bahasa yang masih minim. Tapi dia sudah mampu membuat sebuah tulisan. Nilai A pantas untuknya.”

Berangkat dari pemikiran itu, bertahun kemudian, ketika Rhenald sudah menjadi guru besar di Fakultas Ekonomi UI, dia memberi nilai yang ‘aneh’  kepada mahasiswanya untuk mata kuliah Pemasaran Internasional. Rhenald menugaskan semua mahasiswanya bertualang ke negara lain dengan bahasa dan latar budaya yang sangat berbeda. Spanyol, Peru, atau Brasil, misalnya. Mereka wajib bertualang ke luar negeri untuk belajar menghadapi kesulitan di dunia nyata. Mereka harus ‘survive‘ di tempat baru, sendiri, tanpa bantuan siapa pun.

Nilai A akan diberikan Rhenald untuk mahasiswa yang berhasil menyelesaikan tantangan itu selama 7-10 hari dengan biaya sendiri, mulai dari tiket, biaya hidup, biaya paspor. Tak diizinkan seperser pun menggunakan uang dari orangtua atau pihak lain. Nilai B atau C mungkin akan didapat mahasiswa yang berhasil memberangkatkan dirinya, dengan dana sendiri, dengan segala persiapan sendiri ke negara yang terhitung populer, Australia, misalnya. Mau ke Malaysia atau Brunei yang berbahasa Melayu? Nah, mahasiswa  kemungkinan besar akan mendapat nilai E, alias tidak lulus.

Apakah tugas dari sang profesor itu berlebihan? Ternyata tidak. Semua mahasiswa yang dilepas ‘sendirian’ itu, berhasil selamat pulang ke tanah air dan menceritakan pengalamannya di kelas Rhenald Kasali.

DSC_0120Sang profesor, satu dari 30 Guru Manajemen Terbaik Dunia itu, memang tidak asal-asalan dalam memberikan tugasnya. Nyatanya, selesai menjalani tugasnya, para mahasiswa malah menjadi lebih percaya diri dan gigih dari sebelumnya. Nyatanya, mereka memberikan oleh-oleh cerita yang mengesankan dalam seri 30 Paspor yang telah terbit tiga buku, yakni 30 Paspor di Kelas Sang Profesor #1, 30 Paspor di Kelas Sang Profesor #2, dan yang terbaru, 30 Paspor: The Peacekeeper’s Journey. [rst]