Di suatu malam pembacaan puisi, perkenalan dengan Joshua Karabish terjadi. Hari itu dia tidak turut membacakan syair, hanya menonton orang lain bergiliran membacakan puisi buatan masing-masing. Dari gerak-geriknya, tampak ia sengaja menjauhkan diri dari hadirin. Namun, seseorang menarik perhatiannya, seorang lelaki yang memilih membacakan puisi penyair Keats, alih-alih puisinya sendiri. Pria itu mengatakan dia bukanlah seorang penyair, hanya becus membacakan puisi orang lain.

Pernyataan itu justru membuat Joshua gembira, tertarik untuk berkenalan dengannya. Dia kagum lantaran berbeda dengan mereka yang suka membacakan puisi-puisi sendiri, padahal puisi mereka tidak bermutu. Dia bukanlah orang yang sok. Mereka pun berteman. Joshua kerap mengunjungi tempat tinggal orang itu sampai akhirnya sepakat pindah menjadi teman sekamarnya dan berbagi sewa kamar. Teman-teman di apartemennya yang terdahulu tidak ada yang cocok dengannya. Mereka kasar, suka sepak bola, tinju, film-film kasar di televisi, dan musik keras. Sebaliknya, Joshua adalah orang yang halus, lembut, suka puisi, musik klasik, opera, dan lain-lain yang dibenci mereka.

Tinggal bersama akhirnya membuka lebih banyak hal tentang kehidupan Joshua yang penyakitan. Kupingnya sering mengeluarkan lendir berbau bangkai tikus busuk dan hidungnya meneteskan darah amis. Dia sudah lama sakit, mungkin karena itu pula teman-teman di apartemen yang dulu menjauhinya. Namun, Joshua menjelaskan bahwa penyakitnya itu tidak menular, teman sekamarnya mencoba memahami dan mereka tetap berbagi kamar di loteng milik Ny Seifert. Saat liburan semester gugur, Joshua pulang menengok ibunya di Beaver Halls. Dia berencana liburan di sana selama dua minggu.

Mengantisipasi kemungkinan bakal menulis selama di Beaver Falls, dia meninggalkan puisinya yang dianggap paling baik. Dia berpikiran kalau dia membawa serta puisinya yang paling baik itu, nafsunya untuk menulis yang lebih baik nanti jadi kendur. Lewat dari dua pekan, Joshua tak juga kembali meski sudah disurati teman sekamarnya berkali-kali. Sampai akhirnya justru surat dari ibu Joshua yang datang, mengabarkan kematian anaknya, meminta tolong agar barang-barangnya dikirimkan ke rumah lewat paket.

Setelah mengabari kematian Joshua, pemilik rumah tempat mereka menyewa kamar bercerita bahwa Joshua lama menunggak biaya sewa. Sementara itu, si teman sekamar merasa mulai terjangkit penyakit yang sama dengan Joshua. Dia mengutuki Joshua yang dulu mengatakan bahwa penyakitnya tidak menular. Dalam amarah merasa ditipu, dia kirimkan kumpulan puisi yang ditinggalkan Joshua sebelum pulang ke Beaver Falls, mengirimkannya ke suatu ajang lomba. Dia menuliskan namanya sendiri, alih-alih Joshua. Dia menyesali hal itu kemudian, terutama setelah panitia menyatakan puisi itu termasuk di antara yang menang di ajang itu dan dia diundang untuk menerima penghargaan.

Ketika uang hadiah lomba diterimanya, dia hendak membayarkan ke pemilik rumah untuk melunasi utang tunggakan sewa Joshua. Niatnya itu sekaligus untuk mengurangi rasa bersalah telah mengakui puisi Joshua sebagai miliknya sendiri, tapi justru ditolak dengan alasan dia tak semestinya menganggung kesalahan Joshua. Di mata pemilik rumah, dia dianggap berbudi tapi tak boleh merasa bertanggung jawab atas mantan teman sekamarnya. Lalu dia kirim uang itu ke ibu Joshua, juga direspons dengan penolakan. Dia beralasan Joshua menjadi sumber inspirasinya dalam menulis puisi karena tak bisa mengatakan bahwa puisi yang menang sesungguhnya milik Joshua dan dia telah mengganti namanya.

Ibu Joshua tak percaya anaknya bisa menjadi sumber inspirasi bagi siapa pun. Baginya, puisi Joshua tidak mempunyai mutu dan mantan teman sekamar anaknya hanyalah berbelas kasihan. Kisah Joshua Karabish merupakan salah satu dari tujuh tulisan Budi Darma yang tertuang dalam buku Orang-Orang Bloomington. Meski dituangkan dengan sederhana, cerita itu mampu mengaduk emosi karena menyuguhkan kompleksitas hidup manusia. Joshua yang mampu berkarya justru dianggap sebagai manusia gagal baik saat hidup maupun setelah mati. Sementara itu, orang yang mengklaim karyanya tanpa izin justru dikira sebagai orang berbudi luhur.

Karya berpengaruh

Orang Orang BloomingtonBukanlah isapan jempol bila Budi Darma disebut sebagai maestro cerpen. Berbeda dengan karya-karya sastrawan Ahmad Tohari yang unggul dalam hal menghidupkan latar tempat di benak pembaca, Budi Darma yang kini berusia 79 tahun itu kuat menggali karakter tokoh-tokoh dalam tulisannya. Lewat kata-kata, dia mengungkap sisi terkelam manusia dalam keseharian, mulai prasangka, kesepian, kedengkian, hingga dendam.

Gaya tulisnya sangat khas, sederhana tanpa kesan menggebu-gebu tetapi bisa menyentuh dan menampar pembaca dengan realitas yang dihamparkan. Tidaklah mengherankan jika Orang- Orang Bloomington membuat penulisnya menyabet penghargaan SEA Write Award 1984 dari pemerintah Thailand. Sungguhlah disayangkan ketika karya yang bermutu dan berpengaruh seperti itu sempat sulit didapat. Buku itu sendiri pertama kali diterbitkan pada 1980. Budi Darma yang berbicara dalam acara penutupan ASEAN Literary Festival 2016 di Taman Ismail Marzuki, Minggu (8/5), mengaku hilangnya bukunya dari peredaran itu sepenuhnya kesalahannya.

“Kalau saya menulis, saya tidak pernah berniat untuk menerbitkannya. Orang-Orang Bloomington juga begitu, ini kesalahan saya yang tidak perlu ditiru, ketika ‘out of print’ saya tidak berusaha terbitkan kembali,” akunya. Lebih lanjut, dia berharap kemalasan seperti itu tidak ditiru generasi muda.

“Generasi muda harus lebih agresif mempromosikan karyanya,” sarannya. Beruntung, kini Orang-Orang Bloomington diterbitkan kembali oleh Penerbit Noura Books dan resmi diluncurkan di malam penutupan ASEAN Literary Festival itu. Buku yang layak menjadi referensi para penulis muda ataupun dinikmati pembaca umum itu bisa mudah ditemukan di toko buku lagi dan memperkaya khazanah sastra Indonesia. (M-2)

Oleh: Hera Khaerani

Sumber: Media Indonesia