Menulis, Mengamati, Mengulas

Menulis novel bukan sesuatu yang sulit jika ditekuni. Penerbit Noura Books menggelar workshop penulisan novel thriller dengan KORAN SINDO pada Kamis, 28 Januari 2016, lalu, diikuti sekitar 50 peserta, khususnya anak muda.

Hadir sebagai pembicara dalam workshop ini, yakni Suhindrati Shinta dari Noura Books dan Truly Rudiono selaku blogger dan penggiat buku. Kegiatan workshop ini dibagi menjadi 2 sesi yang akan dibawakan para pembicara. Shinta membuka workshop tersebut dengan memberikan materi seputar tips menulis novel. Selama workshop, Shinta banyak menekankan pentingnya kegiatan membaca dan mengobservasi bagi penulis.

“Untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik, harus berangkat dari kebiasaan membaca terlebih dahulu,” ujar Shinta. Shinta ingin menggerakkan para peserta mulai dari mengobservasi hal-hal kecil. Sederhananya saja dengan mengamati benda-benda atau orang yang ada di sekitar kita. The Girl On The Train merupakan salah satu novel yang dapat dijadikan contoh dalam melakukan pengamatan atau observasi yang baik.

Shinta menilai bahwa Paula Hawkins, selaku penulis novel The Girl On The Train banyak melakukan observasi dalam menggambarkan karakter maupun latar tempat dan waktu (setting). Teknik dalam menggambarkan karakter pun dibuat dengan menarik sehingga pembaca dapat membayangkannya langsung. “Paula tak cuma telling , tapi showing dalam menulis ceritanya,” sebut Manajer Divisi Umum Noura Books ini.

Menurut Shinta, hal lain lagi yang membuat novel The Girl On The Train ini bagus karena adanya sudut pandang yang menarik dalam penggambaran karakter maupun setting dalam cerita. Selain itu, gaya berceritanya pun mengalir. “Plotnya itu bagus. Ending-nya enggak mudah ditebak juga. Berbedalah dari novel thriller pada umumnya,” katanya.

Setelah peserta dibekali dengan materi dari Shinta, sesi kedua diisi oleh Truly Rudiono. Blogger aktif ini mengisi sesi dengan memberikan tips untuk menjadi reviewer yang baik. Ibaratnya seperti orang yang memilih buku, maka menjadi seorang reviewer pun tentunya membuka ruang terbuka bagi masing-masing orang untuk me-review karya dengan unik dan berbeda.

Menurut Truly, perbedaan gaya berbahasa dalam me-review, bukan masalah. Nah, yang terpenting penulis review dapat membuat pembaca menjadi penasaran dan tertarik untuk membeli buku. “Kalau saya mungkin mengawali review novel The Girl On The Train dengan nyanyian naik kereta api tut… tut… tut ,” ujar Truly mencontohkan gaya bahasa andalannya dalam me-review buku.

Truly menggunakan media kereta yang tampak menyenangkan dalam mengawali review buku tersebut. Pada awalnya pembaca seolah akan dibawa untuk berpikir tentang kereta yang seru, namun ternyata kereta yang dibayangkan tidaklah seindah itu. “Ya kalau saya sih berusaha untuk enggak ngasih spoiler ya. Misalnya hal yang menegangkan dapat ditemukan saat Anda membuka halaman 36X sekian. Biar penasaran. Jadi, orang mau enggak mau kan harus buka lagi dari awal,” katanya sambil tertawa.

Usai sesi workshop yang dibawakan Shinta dan Truly, acara dilanjut dengan sesi tanya jawab untuk para peserta workshop . Sesi ini menarik perhatian para peserta untuk bertanya banyak hal seputar penulisan novel maupun tentang penulisan review buku yang baik. Shinta berharap lewat adanya pelatihan ini, banyak anak muda tergerak untuk membaca dan mampu menghasilkan karya seperti novel.

Hal serupa juga diimpikan Wiendy Hapsari, penyelenggara dari pihak KORAN SINDO. Dia berharap lewat kegiatan workshop yang dijalin KORAN SINDO dan Noura Books dapat menumbuhkan kecintaan anak muda dalam membaca. “Mulai dari membaca, pelan-pelan lahir bibit penulis muda. Entah itu nulis cerpen atau nulis apa pun,” tutur Wiendy.

— PATRICIA ASTRID NADIA
GEN SINDO Universitas Tarumanagara


Artikel asli telah dimuat di situs Koran Sindo pada hari Sabtu, 30 Januari 2016.

Alur dan Plot Penuh Kejutan

01/02/2016

Tips Mengatur Koleksi Buku

01/02/2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *