Menjadi Manusia dengan Sastra (Bag. II)

Ruang-Baca-Menjadi Manusia dengan Sastra (Bag. II)
Ruang-Baca-Menjadi Manusia dengan Sastra (Bag. II)

Berdiri di Dua Kaki

Jacob Bronowsky bukan sekedar saitis, tetapi juga mendalami masalah humaniora, antara lain sastra. Dengan demikian, Bronowsi boleh dianggap sebagai manusia yang mampu berdiri di atas dua kaki. Dalam kurikulum tahun 1990-an, sementara itu, ada mata kuliah Basic Humanities atau Ilmu Budaya Dasar dengan tujuan, agar mahasiswa ilmu-ilmu sosial tahu secara kompprehensif humaniora dan sains, dan mahasiswa sains tahu secara komprehensif ilmu-ilmu sosial dan humaniora, dan mahasiswa humaniora tahu secara komprehensif ilmu-ilmu sosial dan sains. Titik berat pada ilmunya masing-masing, ditambah dengan ilmu-ilmu lain sebagai tambahan.

Gagasan untuk memperkenalkan Ilmu Budaya Dasar didasari oleh kenyataan, bahwa ilmu makin berkembang, demikian pula spesialisasi. Perkembangan ilmu dan spesialisasi memang diperlukan, akan tetapi, supaya ada keseimbangan, ilmu-ilmu lain di luar ilmunya sendiri perlu diketahui secara komprehensif untuk penyeimbang.

Kita tahu, meskipun usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan selalu dilakukan, pendidikan selalu “ketinggalan jaman,” dan karena itu, maka pendidikan kurang mampu untuk menyediakan tenaga siap kerja. Pendidikan, dalam praktek, hanya mampu menghasilkan tenaga siap latih untuk menghadapi pekerjaan. Begitu lulus dari pendidikan, seseoang harus “dilatih” dulu untuk menghadapi pekerjaan tertentu.

Makin maju perkembangan jaman, makin “jauh” jarak antara kondisi pendidikan dan kondisi lapangan. Lembaga-lembaga pendidikan, mulai tingkat bawah sampai dengan tingkat atas, sering “dikalahkan” oleh perkembangan jaman. Perilaku anak didik, dengan demikian, lebih banyak ditentukan  oleh keadaan di luar lembaga pendidikan. Peran keluarga juga makin berkurang, karena peran di luar keluarga dan di luar lembaga pendidikan juga makin dominan.

Pasti tidak ada orang tua dan lembaga pendidikan yang menginginkan anak-anak tawuran, melawan guru, melakukan seks bebas, dan hal-hal negatif lain. Tapi karena keadaan di luar keluarga dan lembaga pendidikan banyak memberi contoh negatif, maka anak-anak pun bisa dengan mudah terpengaruh oleh contoh-contoh negatif tersebut.

Satu contoh saja: carilah sebuah data yang bermanfaat di internet, lalu apa yang terjadi? Pasti ada sisipan-sisipan gambar cabul, iklan tidak bermoral, dan banyak hal negatif lain. Keluarga dan lembaga pendidikan tidak akan mungkin mengontrol anak-anak sampai sejauh itu.

 

 Dunia yang “chaotic.”

 Masing-masing jaman pasti mempunyai tuntutan sendiri yang mungkin tidak dituntut oleh jaman lain. Karena standard kehidupan kita makin tinggi, maka tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup berselera tinggi menjadi dominan pada jaman kita sekarang. Keinginan untuk selalu “up to date” inilah yang akhirnya menjadi akar penting lahitnya pop culture atau kebudayaan pop.

Baju yang masih bagus harus dibuang karena mode sudah berubah, gedung yang masih baik harus dibongkar untuk menyesuaikan dengan arsitektur mutakhir, gawai masih bagus fungsinya harus dibuang karena ada gawai yang lebih “trendy,” inilah salah satu ciri kebudayaan pop, kebudayaan yang lebih mementingkan kebaruan dan penampilan daripada substansi.

Keinginan untuk memiliki dan melihat yang serba baru dengan sendirinya memengaruhi dunia industri: kualitas tetap dijaga, akan tetapi titik beratnya tetap pada kebaruan dan penampilan, dan apakah awet apa tidak kurang diperhitungkan. Produk yang dipakai hanya dalam waktu pendek justru menguntungkan orang banyak.

Sekarang tengoklah cerita seorang anak kecil pada tahun 1950-an ketika pada suatu hari Minggu dia diajak ayahnya untuk mengunjungi pabrik pecah belah tempat ayahnya bekerja. Dengan bangga ayahnya mengambil sebuah gelas, membantingnya keras-keras ke lantai, dan gelas berguling-guling sebentar tapi tetap utuh, tidak meninggalkan cacat sama sekali. Kalau semua industri masa kini memproduksi barang-barang yang awet, apa lagi penampilannya tidak bervariasi, maka kebanyakan orang tidak memerlukan barang sama dalam waktu lama. Industri akan melambat, atau bahkan mati, dan akibatnya, banyak mulut yang tidak bisa makan. Karena itu, produk tidak perlu benar-benar awet, harus serba baru, dan penampilannya harus menarik.

Budaya pop dan industri pada hakikatnya sama, bagaikan saudara kembar siam, didampingi oleh saudara kembar siam lain, yaitu konsumerisme. Seorang pegawai rendahan yang, maaf, gajihnya kecil, misalnya, “terpaksa” memiliki banyak kartu kredit supaya dapat mengkuti perkembangan jaman. Akibatnya, tentu saja, hutang menumpuk.

Mungkin kita tidak sadar, bahwasanya kita sebenarnya sudah terlibat dalam perang proxy, yaitu perang di mana musuh kita sudah ada di dalam negara kita sendiri. Musuh kita mungkin teman baik kita sendiri, mungkin tetangga kita sendiri, mungkin juga kerabat kita sendiri. Siapakah yang menyebarkan konten porno, hoax, ujaran kebencian, dan lain-lain dengan tujuan merusak bangsa Indonesia? Mungkin bukan orang luar, tapi justru orang kita sendiri. Siapa pula yang memasukkan narkoba dan barang-barang berbahaya lain, misalnya produk kecantikan palsu, beras plastik, dan lain-lain? Mungkin juga orang kita sendiri, meskipun ada hubungannya dengan dunia luar.

Korupsi mungkin juga terjadi karena konsumerisme, yaitu keinginan untuk hidup mewah dengan jalan pintas, dengan melanggar hukum dan merugikan kepentingan banyak orang. Birokrasi dan politik justru diciptakan bukan untuk kepentingan pelayanan, tapi kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

Budaya pop, industrialisasi, dan konsumerisme memang bisa memberi keuntungan bagi masyarakat luas, tapi kalau masyarakat tidak hati-hati, justru bisa merusak masyarakat. Dan apabila masyarakat rusak, terjadilah ”chaos,” yaitu kekacauan di berbagai lini, termasuk moralitas.[]

*Jangan lewatkan artikel sebelumnya, Menjadi Manusia dengan Sastra (Bag. I).

**Artikel terkait diambil dari makalah Budi Darma yang ditulis khusus untuk acara Menjadi Manusia dengan Sastra. Akan dimuat secara bersambung.

Mommy Mingle, Daddy Dance

04/04/2018

Mengungkap Misteri Kolam Penenggelaman

04/04/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *