Menjadi Manusia dengan Sastra (Bag. I)

Ruang BAca-Menjadi Manusia dengan Sastra (Bag. I)
Ruang BAca-Menjadi Manusia dengan Sastra (Bag. I)

Manusia sangat dipersyarati oleh sastra untuk kemanusiannya
(pernyataan Emha Ainun Najib dalam salah satu esainya, dikutip oleh Teguh Afandi dalam pengantar kumpulan cerita Seno Gumira Ajidarma, Dunia Sukab)

 Pendahuluan

Dalam forum ini perkenankanlah saya mengucapkan terimakasih banyak kepada  Noura Publishing atas jasa  penerbit ini dalam usaha untuk  mengembangkan sastra Indonesia ke arah  yang lebih baik. Banyak buku sastra serius diterbitkan, disebarkan, dan diperbincangkan, agar semangat untuk membaca buku sastra serius  makin meningkat. Sementara itu semua orang tahu, buku sastra serius biasanya tidak laku, sebab perhatian pembaca pada umumnya adalah buku sastra yang ringan dan bersifat menghibur . Penerbitan dan penyebarluasan buku sastra serius, dengan demikian, tidak akan mendatangkan keuntungan yang berarti, namun, karena idealisme Noura Publishing  sangat tinggi, maka buku-buku sastra serius tetap diperhatikan.

Sementara itu, Forum “Menjadi Manusia dengan Sastra” ini akan menampilkan  karya Iwan Simutupang Ziarah, karya saya Orang-Orang Bloomington serta Rafilus, karya Koentowijoyo Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, karya Seno Gumira Ajidarma Dunia Sukab, dan karya Bondan Winarno Petang Panjang di Central Park. Dalam kesempatan ini Noura Publishing menampilkan acara Tribute to Bondan Winarno sebagai bentuk penghargaan kepada almarhum Bondan Winarno, disusul dengan peluncuran  penerbitan ulang karya Iwan Simatupang Ziarah dan Merahnya Merah. Untuk memantabkan peluncuran karya Iwan Simatupang, Violetta Simatupang, anak Iwan Simatupang, memberikan testimoni mengenai kepengarangan ayahnya.

 

Kreativitas

Pasti kita sudah tahu, bahwa salah satu penyakit yang dapat menyengsarakan anak-anak sepanjang hidupnya adalah polio. Penderita polio, apabila tidak dirawat dengan baik sejak tahap awal, kakinya akan mengecil, sementara pertumbuhan bagian tubuh lainnya biasanya normal. Dengan demikian, penderita polio terpaksa tidak mampu berjalan dengan wajar, dan karena itu, kegiatannya terbatas.

Untunglah, ada seorang ilmuwan yang sangat berjasa, Jonas Salk (1914-1995) namanya, yang karena dedikasinya terhadap kemanusiaan dan kecintaannya pada ilmu pengetahuan, melalui penelitiannya yang mendalam telah menghasilkan serum untuk pencegahan penyakit polio. Laboratorium Salk terletak di kawasan San Diego, California, Amerika.

Jonas Salk mempunyai sahabat, Jacob Bronowsky (1908-1974) namanya, seorang ilmuwan Inggris, pakar dalam mathematika, biologi, dan sejarah sains, dan kendati Bronowsky bukanlah orang humaniora, pendapatnya mengenai kreativitas sangat dihargai oleh para ilmuwan sains, dan juga ilmuwan humaniora. Dalam pandangan Bronowsky ada tiga pencapaian manusia yang sangat berharga, yaitu kreativitas, penemuan (invention), dan penemuan wilayah (discovery).

Bagi Bronowsky, baik invention maupun discovery sifatnya impersonal, sedangkan kreativitas sifatnya personal. Contoh penemuan wilayah atau discovery bisa dilihat dari keberhasilan Christopher Columbus dalam menemukan benua Amerika. Andaikata sebelum sampai benua Amerika Columbus menghembuskan nafas terakhir di tengah samudra, pada suatu saat pasti akan ada orang lain yang akan menemukan benua Amerika. Karena itu, sifat discovery adalah impersonal, yaitu, kalau perlu dapat tergantikan oleh orang lain, karena kalau Columbus gagal, benua Amerika akan tetap ada, dan tidak mungkin hilang ditelan bumi.

Invention, bagi Bronowsky, juga impersonal: andaikana Graham Bell tidak mampu menemukan pesawat tilpun, pada suatu saat pasti akan ada orang lain yang berhasil menemukan pesawat tilpun, demikian pula mengenai penemuan serum polio. Andaikata Jonas Salk gagal, pada suatu saat, entah kapan, pasti ada ilmuwan lain yang mampu menemukan serum polio.

Kreativitas, sebaliknya, bersifat personal, yaitu tidak mungkin digantikan orang lain. Lihatlah, misalnya, William Shakespeare (1564—1616), seorang dramawan yang boleh dikatakan tidak pernah menciptakan cerita dramanya sendiri. Sebelum Shakespere lahir, bahan untuk dramanya sebetulnya sudah tersedia, seperti misalnya Hamlet dan Romeo and Juliet. Tragedi Hamlet berasal dari kronikel (semacam babad) dari Denmark, dan tragedi Romeo dan Juliet berasal dari cerita rakyat di Verona, Itali. Dengan kreativitasnya yang luar biasa dahsyat, Shakepeare mampu mengolah kembali bahan-bahan yang sudah ada menjadi serangkaian karya agung. Andaikata pada waktu masih kanak-kanak Shakespeare meninggal, tidak akan ada orang lain yang mampu menggantikan posisinya.

Sekarang, lihatlah kisah anak-anak muda cemerlang bernama Blake Ross (lahir 1985) dan Dave  Hyatt (lahir 1972), penemu perangkat mozzila firefox. Pada waktu menemukan perangkat itu umur Blake Ross baru sepuluh tahun, dan umur Dave Hyatt baru 23 tahun. Karena itu sangat pantas untuk dikatakan, dua anak ini, khususnya Blake Ross, adalah anak-anak jenius. Sekarang bayangkan, andaikata Blake Ross dan Dave Hyatt meninggal pada waktu mereka masih balita, pasti aka nada orang lain yang mampu menciptakan perangkat yang sama, atau mungkin lebih baik.[]

**Artikel terkait diambil dari makalah Budi Darma yang ditulis khusus untuk acara Menjadi Manusia dengan Sastra. Akan dimuat secara bersambung.

3 Mitos Sastra Menurut Seno Gumira Ajidarma

26/02/2018

Pesan-Pesan Kearifan Peneguh Iman

26/02/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *