DSC_0094

Banyak yang terperanjat ketika penerbit terbesar di Jerman membeli hak cipta novel Laskar Pelangi dan menerbitkannya besar-besaran.  Lebih terperanjat lagi ketika sekolah-sekolah di Jerman menjadikan Laskar Pelangi bacaan wajib.  Novel terpoluler sepanjang sejarah Indonesia ini telah mendapatkan penghormatan luar biasa bukan hanya di Jerman dan sejumlah negara karena mampu menggugah generasi muda semangat berjuang dalam keterbatasan.

Sungguh tepat dikatakan penulis Jen Selinsky, “Karya sastra adalah salah satu kado terbaik yang bisa diterima seorang manusia.”  Adalah beralasan jika Jerman memilih Laskar Pelangi sebagai hadiah ‘kewajiban’ untuk anak sekolah. Di sinilah kita melihat peran sastra tak kalah penting dari peran pendidik dalam menciptakan generasi berpondasi mental kuat dan bermoral tinggi.

Sejalan dengan itu, sastra bagi manusia disebut filsuf Yunani, Horatius, sebagai dulce et utile. Yakni mentransformasikan nilai-nilai moral dengan menyenangkan dan bermanfaat. Indonesia mungkin  kalah dari Jerman dalam mengapresiasi karya sastra. Tapi di tanah air pun pernah diwacanakan gerakan  sastra sebagai terapi anti kekerasan pada anak sekolah  dan sastra untuk pengentasan korupsi.

Selain Andrea Hirata, prestasi sastrawan Indonesia sesungguhnya tak main-main. Ada sejumlah  sastrawan yang  karyanya disegani kalangan internasional dan menyabet bermacam penghargaan. Mereka adalah Ahmad Tohari, Umar Kayam, Mochtar Lubis, N.H. Dini, Pramoedya Ananta Toer, dll. Sayangnya, nama-nama sastrawan dan karyanya tersebut mungkin tak akrab bagi anak-anak sekolah sekarang. Sayangnya lagi, masyarakat  mungkin lebih mengenal nama Dewi Lestari sebagai penyanyi, bukan penulis. Atau nama Bondan Winarno sebagai pemandu acara kuliner televisi, bukan jurnalis dan penulis  sastra. Padahal sudah ratusan cerpen ditulis oleh Bondan Winarno. Empat buku juga sudah ia terbitkan, yang terbaru adalah Petang Panjang di Central Park,  kumpulan cerpen bermuatan sosial dan kearifan. Salah satu cerpennya yang berjudul ‘Gazelle’, memenangi lomba cerpen Majalah Femina tahun 1982.

Beruntung kini ada Bernard Batubara, Orizuka, dan beberapa penulis lain yang karyanya digemari anak muda. Semoga akan lahir banyak karya lain yang menampilkan fungsi dulce et ulite. [rst]