Tajikistan

Dalam beberapa tahun terakhir, Kementerian Kebudayaan Tajikistan menetapkan aturan mengenai izin tertulis bagi buku-buku yang diperbolehkan dibawa masuk turis asing. Tanpa izin tertulis, tidak sembarang buku boleh masuk Tajikistan. Dengan peraturan yang sama, buku dari dalam Tajikistan juga tidak boleh bebas dibawa ke luar negeri. Ini dilakukan untuk mencegah penyelundupan buku-buku penting ke luar negeri. Konon, buku yang tak mendapat izin masuk  itu adalah buku berbahasa Arab-Parsi, yang dikhawatirkan menyebarkan ajaran yang tak sepaham dengan pemerintah.

Namun, sejauh ini para turis yang masuk bandara Dushanbe melaporkan tak ada pemeriksaan khusus buku-buku ketika mereka mendarat di Tajikistan. Aturan itu diberlakukan sejak pemerintah menyita buku Bustan, karya ternama penyair Persia Sa’adi Shirazi, yang dibawa warga Tajikistan dari luar negeri. Bustan disita karena dianggap berkaitan dengan tiga buku lain yang disita, yaitu buku tentang mimpi dan mantra. Keempat buku tersebut berbahasa Arab.  Sejak itu kementerian agama membuat daftar buku-buku terlarang masuk Tajikistan. Tahun lalu misalnya, ada sekitar 13 buku yang masuk daftar hitam. Semuanya dianggap sebagai bagian dari ajaran salafi yang tidak ditolerir pemerintah Tajikistan.

Saidi Yusufi, pengamat sosial di Dushanbe menyesalkan sikap pemerintah yang terlalu berlebihan dalam mencegah buku-buku asing masuk ke Tajikistan. “Tak semua aparat mengerti bahasa Arab-Parsi,  tapi apa pun buku berbahasa Arab-Parsi, akan dikaregorikan sebagai ancaman. Bahkan di beberapa instansi pemerintah, petugas sudah menyita seluruh buku berbahasa Arab dan Persia, yang sama sekali tak berbahaya.” kata Saidi Yusufi.

Selain Al-Qur’an, buku-buku keagamaan yang tak dilarang beredar di Tajikistan adalah buku seputar fiqih. Sepertinya, buku-buku semacam seri Fattabiuni: Ikuti Sunnahku karya ulama Saudi, Muhammad Abdurrahman–yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia–boleh beredar di Tajikistan. Tapi,  entahlah dengan buku kumpulan syair karya Jalaluddin Rumi, atau Ibn Arabi. Karya-karya keduanya senapas dengan Bustan, yang sudah masuk daftar hitam  di Tajikistan. Untungnya, di Indonesia buku-buku Rumi atau Ibn Arabi, bisa dinikmati siapa pun. [rst]