Lima Buku yang Membuat Liurmu Banjir Saat Membaca

Novel yang baik ialah yang berhasil menenggelamkan pembaca dalam samudera emosi yang dibangun dalam cerita. Bila tokoh sedang sedih, maka novel yang baik mampu membuat banjir airmata pembaca. Kalau berhadapan dengan tokoh yang sebel, maka pembaca ikutan sewot benci dan enggak suka. Atau kalau sedang digambarkan suasana, misalkan pasar, pembaca dapat merasakan keriuhan suara, lalu lalang orang, suara orang saling menawar, atau bahkan aroma bacin dari kolong meja penjual daging.

Ya, novel atau fiksi pada umumnya, harus mampu memberi gambaran visual nyata kepada pembaca sehingga mampu memberi sausana hidup dan pembaca seolah terjerat dalam setiap bagian cerita.

Tak jarang, gambaran kuliner dalam novel membuat pembaca buru-buru makan, perut keroncongan, dan ludah banjir di mulut. Kelezatan makanan dengan cara bercerita yang tepat akan menguatkan efek itu. Tentu gambaran ini beda dengan cara menulis feature atau sekadar resep makanan. Mereka harus kuat dan tidak sekadar tempelan.

Ini dia lima judul rekomendasi untuk menjajal efek lezat saat membaca narasi perihal makanan.

The Hundred-Foot Journey (Richard C. Morais)

Novel ini berkisah tentang bagaimana seorang keluarga India mendirikan restoran di sebuah kawasan terpencil di pelosok Perancis. Kemudian berhadap-hadapan dengan salah satu restoran makanan Perancis yang sudah dikenal publik, elegan, dan sangat mementingkan kualitas rasa. Dari dua restoran yang saling berhadapan dan berjarak tidak lebih dari seratus langkah (makanya diberi judul Hundred-Foot Journey), sudah terbayang dua perbedaan makanan dan cara makan yang signifikan. India dengan kudapan khas kari dan olahan ayam dengam garam masala dan beragam rempah. Berlawanan dengan makanan Perancis yang minim bumbu, elegan, shopisticated, dan sangat minimalis dalam ukuran jumlah bila dibandingkan kudapan India. Kita bisa mencium aroma rempah, wangi masakan, atau lezatnya kuah kare dalam novel ini.

Ini salah satu kutipan novelnya: Aku bisa membayangkan dapur tua kami, mencium aroma cengkih dan daun salam, mendengar letupan wajan … Kecoak-kecoak yang bersemangat, dengan antena melambai-lambai berlarian melintasi nampan-nampan kerang mentah dan ikan laut di dekat siku Bappu, dan mangkuk-mangkuk kecil andalannya–air bawang putih, kacang polong hijau, saus kental santan dan kacang mete, bubur cabai hijau dan jahe– selalu siap di tangannya.

Charlie and the Chocolate Factory (Roald Dahl)

Novel ini sangat memanjakan imajinasi anak-anak kita. Mungkin semasa kita kecil kerap membayangkan betapa nikmatnya bisa makan permen sepuasnya, makan gula-gula tanpa dilarang orangtua, atau dengan bebas menyendok cokelat kental yang manis dari sungai. Ah, mungkin novel ini adalah gambaran surga bagi anak-anak.

Meski garis besar cerita adalah perkara keluarga, namun gambaran kelezatan cokelat dan aneka macam permen dalam buku sudah cukup untuk membuat kita gegas ke kulkas dan menyantap timbunan cokelat dan permen kita. Cerita yang lezat dan gambaran yang tak kalah membuat liur bajir.

“Everything in this room is edible. Even I’m edible. But, that would be called canibalism. It is looked down upon in most societies.” Bayangkan, bukan cuma cokelat, anak-anak pun boleh menyantap Willy Wonka, tentu dengan nada bergurau dan hiperbola.

Seri Bliss Bakery (Kathryn Littlewood)

Seri novel remaja berbau fantasi ini berhasil memadukan sihir dan kelezatan kue-kue. Dalam setiap judulnya kita akan disuguhi perkara-perkara kue, pastry, dan aroma gurih kue masak dari oven. Kemudian diramu dengan daya magis, kehebatan sihir, dan tentu hangatnya sebuah keluarga.

Tiga judul Seri Bliss yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia ini (BlissDash of Magic, dan Bite-Sized Magic) akan menawarkan perjalanan imajinasi sihir dengan kemampuan penulis menghanyutkan pembaca dalam aneka resep dan kelezatan kue-kue yang ada. Benar-benar buku yang lezat, baik cerita maupun kue-kuenya.

“… Kau dan aku, kita sama-sama membuat roti karena kita senang melakukannya, tapi kita juga membuat roti karena kita ingin menjadi luar biasa. Dan terkadang, saat kau berusaha menjadi luar biasa, kau melangkah terlalu jauh.” —Bibi Lily 

Madre (Dee Lestari)

Tidak perlu diragukan lagi, Dee berhasil membuat ludah pembaca membundah dan jakun naik-turun membayangkan kue-kue yang dihasilkan dari biang kue legendaris dalam cerita berjudul Madre. Dasarnya penulis yang satu ini memang pandai betul membuat deskripsi apik yang tetap mengedepankan cerita dengan kekayaan rasa pada kue-kue yang tampak lezat dan nikmat itu. Dee memang menautkan biang kue dalam urusan hidup, keluarga, dan cinta. Namun, jalinan cerita dan kelezatan kue-kue tetap mampu menyihir pembaca.

Aruna dan Lidahnya (Laksmi Pamuntjak)

Laksmi Pamuntjak memang lebih dulu dikenal sebagai penulis kuliner di Jakarta Post. Bukunya soal makanan  Jakarta Good Food Guide, diterima publik luas. Dalam novel ini, kita akan diajak jalan-jalan kuliner mulai dari Padang hingga mencicip bebek Madura di dekat Jembatan Suramadu. Bukan sekadar deskripsi rasa, Laksmi juga menggambarkan bagaimana lalat yang merubung makanan di salah satu kedai pinggir jalan. Atau tragisnya ukuran daging dalam sate lalat. Semua digambarkan dengan rinci, indah, dan memancing visualisasi yang membangkitkan nafsu makan.

***

Tentu di luar lima judul buku ini, pasti banyak judul-judul novel yang membuat ludah kita banjir, kita berulang kali menelan ludah karena tergiur oleh gambaran kelezatan makanan dalam novelnya. Pasti ada dan lebih banyak. Novel dengan gambaran yang baik akan membawa pembaca bahkan menjebak pembaca untuk mengimani kelezatan dalam gambaran cerita.

Jadi, novel apa yang membuat kamu langsung pengen makan? [taf]

Iacopo Bruno: Sosok di Balik Sampul-Sampul Buku Memukau

24/07/2018

Amnesia Buku

24/07/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *