bookstr.com

Jerman membuka pintu terhadap lebih dari satu juta pengungi Suriah. Namun apa yang ada dalam benak anak-anak melihat kondisi itu? Tentu mereka bertanya.  Tapi  banyak di antara mereka tidak mendapatkan jawaban yang jujur.

Penulis lebih dari 60 buku anak dan remaja, Kirsten Boie, memahami hal itu. Boie pun menulis  buku anak tentang kisah nyata pengalaman seorang bocah asal Homs, Suriah, yang menjadi pengungsi dan memulai hidup baru di Jerman.  Buku anak bergambar dengan judul Everything Will Be Alright, diterbitkan dalam dua bahasa Jerman dan Arab. Everything Will Be Alright adalah pengalaman nyata bocah bernama Rahaf dan keluarganya yang mengarungi laut Mediterania dengan kapal kecil usang, untuk menuju Jerman. Melalui buku tersebut, Boie ingin menjelaskan kepada anak-anak, bahwa pengungsi anak-anak Suriah sama saja dengan anak-anak Jerman dan semua anak di dunia, yang butuh tempat tinggal, bermain, sekolah, kondisi yang aman bersama keluarga mereka. Mereka tidak bisa terus bertahan di negara yang terus dihujani bom dan dihancurkan.

“Menurutku, semua anak berpikiran sangat terbuka. Ketika mendengar pengalaman menyedihkan para pengungsi, mereka reaktif dan bertanya, “Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu pada pengungsi itu? Bolehkah kami melakukan sesuatu untuk mereka?”demikian dikemukakan Boie dalam sebuah wawancara.

Buku-buku bermuatan ‘berat’ tentang perang dan perjuangan untuk konsumsi anak sekolah banyak diterbitkan pula sebelumnya, sebagian dilengkapi dengan ilustrasi. Anak-anak memang berhak tahu apa yang terjadi di dekat mereka. Sebagaimana anak-anak Jerman yang mendapat jawaban tak memuaskan dari orangtua mereka atas pertanyaan mengapa banyak anak Suriah datang ke Jerman. Buku menjadi jawabannya.

Sebuah dialog menarik ditulis dalam dongeng Winnie the Pooh–yang buku terjemahan bahasa Indonesianya segera terbit, ketika Piglet bertanya kepada Pooh.

Pooh, how you spell love? (Pooh, bagaimana kamu mengeja kata cinta?)

Piglet, you don’t spell it. You fell it. (Piglet, kau tak perlu mengejanya.  Dirasakan saja.)

Dialog itu hanya contoh kecil dari apa yang disampaikan Boie, “Cerita adalah cara termudah untuk mengajarkan anak memahami berbagai situasi, lebih baik dari uraian teori. Itulah yang kulakukan, berkaitan dengan konflik Suriah.” [rst]