Print

Sebuah surat elektronik diterima Raden Peggy Melati Purnama Dewi Sukma (Peggy Melati Sukma) dari seorang sahabatnya di Palestina pada suatu hari di tahun 2015. Sang sahabat mengawali suratnya dengan sebuah permintaan maaf.

“Maafkan kami, mestinya bisa membantu kamu lebih cepat, mengirimkan materi foto dan lainnya dengan lebih cepat, kami sudah mengumpulkan semampu kami, tapi… kami tidak punya listrik. Listrik sedang susah sekali. Let me looking for electricity today and try to send everything we have for your booPeggy-Menembus Palestinak.”

Begitu bunyi surat tersebut seperti tercantum dalam buku berjudul, Kun Fayakun! Menembus Palestina yang ditulis Peggy dan diterbitkan Noura Publishing.

Membaca surat tersebut, hati Peggy seperti tercekat. Dia merasa seperti ada gumpalan besar yang mengganjal di tenggorokan. Matanya pun berkaca-kaca.

Di saat hampir semua orang dengan mudah berkirim kabar lewat email, media sosial dan pesan berantai WhatsApp, warga di jalur Gaza, Palestina masih merasakan sulitnya mendapatkan aliran listrik. Urusan berbalas e-mail bukan menjadi hal yang sederhana bagi mereka.

Peggy Melati Sukma dalam buku tersebut mengatakan bahwa warga di jalur Gaza belum punya pembangkit listrik. Hidup mereka bergantung dari genset cadangan yang dipakai menjadi pendistribusi keperluan listrik. Itu pun pasokan solar sebagai bahan bakar tak selalu ada.

Satu genset hanya mampu mengaliri satu wilayah selama 4 jam sehari. Selebihnya delapan jam dari sehari mereka hidup tanpa listrik. “Ya Allah…. Lalu, bagaimana lagi mau kirim email cepat-cepat. Duh..,” tulis Peggy yang dikutip detikcom, Selasa, 29 Agustus 2017.

Hidup warga Palestina di jalur Gaza itu kian menderita setelah Israel memborbardir kawasan tersebut pada pertengahan 2014. Puluhan orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat serangan tersebut.

Tiga petinggi Hamas dikabarkan tewas dalam sebuah serangan udara Israel ke Jalur Gaza, Kamis 21 Agustus 2014. Ketiga petinggi Hamas tersebut adalah Mohamed Abo Shamaleh, Raed al-Attar, dan Mohamed Barhoum.

“Sesekali saya merasa sedih terhadap diri saya. Sebelum hijrah saya hampir tidak memiliki pemahaman, perhatian atau aktivitas apa pun untuk Palestina. Padahal, saya banyak beraktivitas sosial sejak dulu,” kata Peggy.

Sederet fakta tersebut kian memantapkan perempuan kelahiran Cirebon, 13 Juni 1976 itu untuk turut berbuat bagi rakyat Palestina. Program kemanusiaan pertama dia bersama sejumlah rekannya adalah bantuan persalinan untuk seribu ibu dan bayi.

Program ini disusun setelah dia mendapatkan informasi dari seorang dokter yang mengabarkan bahwa selama 51 hari agresi Israel ke jalur Gaza ada sekitar 3000 kelahiran. Dalam situasi perang, pemboman dan segala kekacauan di sana, perempuan-perempuan tersebut mesti survive untuk melahirkan.

“Hati saya merasa mantap. Bismillah…saya akan membantu para Ibu dan bayi di sana (Palestina),” kata Peggy.

Sejak itu, Peggy Melati Sukma benar-benar meninggalkan hiruk pikuk dunia keartisan untuk total berdakwah dan membantu rakyat Palestina. (erd/jat)

Sumber: http://bit.ly/2vN3RJw