Tak ada seorang pun yang bisa menebak ke mana langkah kaki bergerak. Demikian juga dengan Joe Talbert, mahasiswa berusia dua puluh satu tahun dari Universitas Minnesota. Ia tak pernah menduga bahwa akan “terjebak” pada kisah masa silam seorang mantan veteran yang pernah jadi tersangka pembunuhan seorang gadis berusia empat belas tahun, hingga ia divonis mengidap penyakit kanker dan dirawat di sebuah panti jompo bernama Hillview.

Joe mendapat tugas menulis biografi mantan veteran perang Vietnam bernama Carl Iverson tersebut. Joe, dengan segala keberaniannya berusaha mencari informasi tentang Carl hingga ia berhasil menemukan sosok misterius itu. Awalnya, Joe mendapat penolakan dari Janet dan Mrs. Lorngren, resepsionis dan direktur Hillview.

Novel The Life We Bury karya Allen Eskens ini berkisah tentang perjuangan seorang Joe yang berburu informasi tentang sebuah kasus pembunuhan yang terjadi tiga puluh tahun silam. Carl Inverson, lelaki tua yang kini berjuang melawan sakit kankernya bersedia untuk diwawancarai dengan syarat agar Joe menuliskan semua kisahnya dengan penuh kejujuran, tanpa sedikit pun rekayasa (hlm. 60).

Sementara itu, Lila, teman sekaligus tetangga apartemennya sangat menyayangkan kenapa Joe begitu antusias ingin menuliskan kisah seorang pembunuh yang jelas-jelas sudah menghancurkan masa depan seseorang. Kata Lila, nama Carl tak layak untuk dikenang apalagi diabadikan dalam sebuah buku biografi.

Tapi, Joe berusaha menjelaskan bahwa apa yang akan ditulisnya sekadar tugas kuliah. Yang akan membaca tulisannya itu hanya dosennya dan ia yakin setelah itu tugasnya akan ditumpuk sebagaimana tugas-tugas mahasiswa yang lain (hlm. 100).

Agar tulisan itu lebih akurat, selain memawancari responden utama yang merupakan tersangka kasus, Lila menyarankan agar Joe mau menghubungi pihak kantor pengacara publik untuk mengetahui transkip persidangan kasus Carl. Meskipun itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami karena kasus itu terjadi awal 1980.

Setelah melalui berbagai usaha, akhirnya Joe bertemu dengan pengacara Berthel Collins. Puluhan arsip yang cukup tebal berhasil Joe bawa setelah sebelumnya menyerahkan surat pernyataan yang ditandatangani Carl Inverson.

Tugas kuliah Joe sekarang lebih mirip penyelidikan seorang detektif. Joe semakin penasaran, karena dari keterangan Collins, pihak kantor pengaca publik, Carl adalah pelaku pembunuhan itu, berbeda dengan keterangan Virgil saat ditemuinya di Hillview tempat Carl dirawat. Virgil adalah teman seperjuangan Carl semasa menjadi veteran.

Novel ini bisa dibilang sebagai salah satu kisah menegangkan ala detektif yang penuh kejutan. Suspense yang dibangun pengarang cukup berhasil membawa emosi pembaca, sehingga ikut merasakan bagaimana ketegangan-ketegangan yang terjadi saat kasus berlangsung. Juga bagaimana penyiksaan yang dirasakan gadis bernama Crystal Hagen saat dibunuh, diseret, lalu dibakar dalam sebuah gudang, sehingga identitasnya nyaris tak bisa dikenali.

Selain menuturkan kisah detektif dan petualangan, dalam novel ini Allen Eskens juga menghadirkan kisah keluarga yang begitu menggugah perasaan. Selain sibuk dengan tugas kuliah, Joe juga menjaga Jeremy, adiknya yang autis. Sementara ibunya, sejak ditinggal oleh sang suami, begitu terpuruk. Tak jarang ibunya pulang dalam keadaan mabuk. Bahkan, saat ia sedang sibuk dengan tugas kuliah, ibunya ditahan di kantor polisi karena ketahuan sedang menyetir dalam kondisi mabuk. Ibunya memohon-mohon agar Joe membebaskannya dengan membayar uang denda yang jumlahnya tidak sedikit (hlm. 77).

Karena tak tega melihat ibunya tersiksa di dalam sel, akhirnya ia mau membayar uang denda tersebut dengan uang yang rencananya akan dibayarkan untuk biaya kuliah. Karena jika ibunya tidak dibebaskan, masalahnya akan semakin rumit. Ia tak bisa konsentrasi kuliah dan segala tugasnya memawancarai Carl Inverson akan terbengkalai, karena ia harus menjaga adiknya.       

Novel 408 halaman yang mendapat banyak penghargaan ini mengajarkan tentang perjuangan dan kegigihan dalam menjalani hidup. Bahwa seberat dan sepahit apa pun hidup, harus tetap dijalani dengan baik.

Judul: The Life We Bury
Penulis: Allen Eskens
Penerbit: Noura Books, Jakarta
Cetakan: Pertama, November 2017
Tebal: 408 Halaman
ISBN: 978-602-385-298-7


*) diresensi oleh Untung Wahyudi, lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>