Ove

“Sahabat adalah mentari kehidupan.”

–John Hay, mantan pejabat pemerintahan AS, penulis dan pengacara

Seorang fotografer Jepang, Akiko DuPont, belum lama ini mempublikasi foto-foto persahabatan kakeknya, Jiji, dengan seekor kucing.  Kakek Jiji tampak bahagia bersama kucingnya yang bernama Kinako.  Ada cerita menarik di balik persahabatan mereka.  Sebelumnya, kakek Jiji yang berusia 94 tahun mengidap penyakit dan hidup sendiri, menjalani hari-hari dengan putus asa dan pemarah.  Kinako memberi warna baru bagi hidup Jiji.  Kucing itu membuat hidup Jiji kembali indah dalam ikatan persahabatan yang menghadirkan tawa dan senyuman.  Kisah nyata dari Jepang ini sempat menjadi berita hangat seluruh dunia.

Ove, pria berusia 54 tahun. Tidak mengidap penyakit apa pun. Dia pemarah. Kesepian setelah ditinggal istrinya.  Putus asa membuatnya ingin mengakhiri hidup.  Nyawa Ove tak jadi hilang karena kehadiran tetangganya, teman baru dalam hidup Ove. Dia  terseret kembali dalam interaksi sosial.  Dia kembali memiliki teman.  Dia bahkan menjadi ‘kakek’ bagi anak-anak tetangganya. Bersahabat dengan kucing peliharaan tetangga. Hidup Ove kembali bermakna, menjadi pahlawan dan bertambah teman.  Padahal Ove sama sekali tak menghendakinya.  Maka, dia kembali berupaya mengakhiri hidupnya.  Namun, nasib Ove tak harus berhenti di tali gantungan.  Seorang teman yang lain  membuatnya gagal mengakhiri hidupnya.  Ove kembali ke dunia nyata.  Hidupnya kembali berjalan.  Keputusasaannya tergantikan oleh kehangatan sambutan keluarga tetangganya.  Ove kembali sibuk, dan mulai bisa tersenyum. Kehadiran sahabat telah mengubah hidupnya.

Kisah dalam novel berbahasa Swedia En Man Som Heter Ove,  yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris A Man Called Ove ini, adalah buah tangan penulis Fredrik Backman, menjadi salah satu novel terlaris dunia di tahun 2015.

Sahabat mungkin adalah obat penyemangat.  Dia bisa berupa seekor kucing.  Dia bisa berupa tetangga yang tak diharapkan datang. Sahabat bisa siapa saja yang diberikan Tuhan di sekeliling kehidupan kita.

Beruntung bagi siapa pun yang masih dikelilingi banyak orang yang menyemarakkan hidup, karena ketika sendiri, putus asa mungkin menggangu kenyamanan hidup. [rst]