Tamu Yang Tak Diundang

Cover Buya Hamka - Pribadi dan Martabat 14x21 cm 170113 FA curveBulan suci Ramadhan menyisakan sebuah cerita pilu bagi Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau akrab kita kenal sebagai Buya Hamka.

Berpuluh tahun lalu, di usia 58 tahun, beliau pernah mengalami cobaan dahsyat karena dijebloskan ke dalam tahanan dan mendapat siksaan fisik selama 15 hari.  Cobaan berat itu adalah berupaya tak menyerah kepada intimidasi penguasa bahwa dirinya pengkhianat dan bersalah, sekaligus tak melawan, tak terpancing emosi , dan tak salah bersikap.  Dengan susah payah cobaan itu berhasil dilalui. Namun, cobaan tak berhenti sampai di situ.  Dikisahkan Buya Hamka dalam sebuah bukunya, sebagai berikut:

Remuk rasanya hati saya. Mengertilah saya sejak saat itu mengapa segala barang tajam wajib dijauhkan dari tahanan yang sedang diperiksa. Di saat seperti itu, setelah saya tinggal sendiri, datanglah tamu tak diundang, dan memang selalu datang kepada manusia di saat seperti demikian. Yang datang itu ialah SETAN! Dia membisikkan ke dalam hati saya, supaya saya ingat bahwa di dalam simpanan saya masih ada pisau silet. Kalau pisau itu dipotongkan saja kepada urat nadi, sebentar kita sudah mati. Biar orang tahu bahwa kita mati karena tidak tahan menderita.

 Hampir satu jam lamanya terjadi perang hebat dalam batin saya, di antara perdayaan Iblis dengan Iman yang telah dipupuk berpuluh tahun ini. Tetapi Alhamdulillah! Iman saya menang.

 Saya berkata kepada diri saya: “Kalau engkau mati membunuh diri karena tidak tahan dengan penderitaan batin ini, mereka yang menganiaya itu niscaya akan menyusun pula berita indah mengenai kematianmu. Engkau kedapatan membunuh diri dalam kamar oleh karena merasa malu setelah polisi mengeluarkan beberapa bukti atas pengkhianatan. Maka hancurlah nama yang telah engkau modali dengan segala penderitaan, keringat dan air mata sejak berpuluh tahun.

Padahal Hamka telah membuat surat wasiat yang akan disampaikan kepada anak-anak di rumah. Namun akhirnya, kisah dan teladan terpuji sebagai ayah dan ulama yang diwariskan kepada keluarganya, sebagaimana diceritakan putra kedua beliau, Rusydi Hamka, dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Hamka. [rst]