Sangat sulit menemukan perpustakaan umum, dan hampir tak ada perpustakaan anak di Palestina, khususnya di Tepi Barat. Oleh karena itu, sejumlah organisasi setempat memprakarsai penyediaan perpustakaan keliling dalam bentuk yang lebih besar, yaitu sebuah kereta api yang memuat ratusan buku anak, dan bangku-bangku untuk anak duduk dan membaca.

Kereta api ini disebut Kereta Ilmu, karena bertujuan sebagai sarana penyebar ilmu bagi anak-anak Palestina, khususnya di kawasan-kawasan terpencil dan wilayah-wilayah pengungsian.

Tentu saja kehadiran kereta ilmu sangat digemari anak-anak Palestina yang haus bacaan dan memang kesulitan mendapatkan fasilitas buku-buku cerita serta buku pengetahuan. Kegiatan tahunan ini hanya berlangsung selama satu bulan, 30 Maret hingga 30 April 2017 lalu.Kereta Ilmu anak palestina

Acara lain yang bisa diikuti anak-anak adalah berbincang dengan penulis-penulis ternama Palestina seperti Mahmoud Shukair, Ghassan Kanafani, dan penyair Jabra Ibrahim Jabra. Perbincangan menggunakan komunikasi video, melibatkan Skype yang merupakan salah satu pendukung kegiatan Kereta Ilmu. Bincang bersama para penulis ini adalah cara untuk menggugah anak-anak Palestina yang ingin menjadi penulis sekaligus berbagi pengetahuan seputar dunia menulis dan penerbitan buku.

Sebagai tambahan hiburan kereta ini juga menampilkan acara panggung boneka dan mendongeng. Kegiatan yang dilakukan sebagai terapi untuk melepas trauma yang dirasakan anak-anak  di tempat-tempat pengungsian ini adalah salah satu acara favorit anak-anak dan mereka mengaku bisa tersenyum lebar mendengar dongeng-dongeng yang sangat menghibur.

Antusiasme anak begitu tinggi akan kehadiran kereta ilmu ini, karena mereka jarang mendapat hiburan dan bertemu dengan buku-buku yang tela hilang dari sekolah-sekolah yang hancur.Peggy-Menembus Palestina

Terbatasnya jumlah buku dan banyaknya tempat yang harus dikunjungi menyebabkan kereta api hanya singgah beberapa hari di sebuah kawasan sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat lain dan menghibur anak-anak di tempat tersebut.

Kerinduan untuk membaca lebih banyak buku yang dirasakan anak-anak Palestina hanya secuil dari kondisi memilukan di sana.  Masih banyak realita lain. Contohnya pengalaman Peggy Melati Sukma yang ia tuangkan dalam buku Kun Fayakun! Menembus Palestina, catatan perjalanan yang berisi renungan dan interaksinya dengan warga Palestina.

Melalui kolaborasi dengan beberapa komunitas dan institusi sosial, Peggy pun membangun sekolah untuk anak disabilitas, beasiswa untuk mahasiswa disabilitas, maternity support untuk ibu-bu yang baru melahirkan, hingga sentra untuk janda syuhada di Jalur Gaza. Kita doakan semoga Palestina segera merdeka. [rst]