Ayah Bunda, pernah tidak memperhatikan tingkah laku batita kita di rumah yang antusias sekali mengacak acak isi rumah?

Rak buku yang sudah kita susun rapi, mereka turunkan secara tidak beraturan. Buku-bukua ditebar, bahkan beberapa mereka tumpuk untuk jadi pijakan meraih rak yang lebih tinggi lagi di atasnya.

Lemari baju yang sudah diisi dengan baju licin nan rapi, sebentar saja sudah mereka bongkar. Dengan asyik mereka buka lipatan-lipatannya dan disebar begitu saja di sekitar kamar.

Kotak penyimpanan mainan yang sudah kita tutup rapat, ada saja celah yang mereka temukan sehingga bisa terbuka, dan yaaa… bercecerenlah isinya ke seluruh penjuru rumah.

Membayangkan hal di atas apa yang biasa muncul di kepala kita Ayah Bunda?Foto artikel sabaqu 01

Aduuh, berantakan amat sih!

Yah… mesti beberes lagi deh.

Capek ngeliat rumah nggak ada rapinya.

Yang luput kita observasi adalah, adanya ANTUSIASME anak yang besar terhadap benda-benda di sekelilingnya.

Setiap anak memulai fase awal hidupnya dengan antusiaime dan rasa ingin tahu yang besar terhadap apa yang ada di sekelilingnya.

Hal tersebut membantu mereka mempelajari dunia. Untuk melewati fase hidup selanjutnya seperti belajar, makan, merangkak, berjalan, membangun pertemanan…

Namun, semangat itu yang seringkali direspons dengan tidak tepat oleh orang sekitarnya.

Bereksplorasi dianggap mengacak-acak. Suka bertanya dianggap banyak bicara. Dan saat anak-anak kita masuk ke usia sekolah, segenap potensi yang mereka punya dikerdilkan lagi menjadi beberapa lembar kertas berisi angka-angka. Angka yang menjadi judgement tentang pintar-tidaknya mereka.

Semangat untuk belajar yang menjadi fitrah bawaannya saat dilahirkan, tidak mendapatkan asuhan yang tepat.

Antusiasme mereka menghilang, seiring besarnya tuntutan untuk bisa beradaptasi dengan cara belajar yang konvensional: duduk-diam-dengarkan.

Keingintahuan mereka berkurang, bersamaan dengan yang mereka pelajari di dunia dewasa bahwa orang yang terlalu banyak bertanya itu dianggap menyebalkan.

Ke mana perginya semangat belajar anak kita?

Tidak ada yang terlambat, Ayah Bunda. Kuncinya ada di tangan kita. Main Boardgame

Mulailah mengubah persepsi bahwa belajar, bukan soal hasil, tapi PROSES yang dilalui.

Ada banyak yang bisa kita lakukan untuk menjaga agar nyala semangat itu terus ada pada diri anak-anak kita.

Belajar tidak melulu tentang akademis di sekolah. Bisa kita ciptakan di mana saja. Mengajak anak bertualang, bertemu tempat dan orang yang baru, itu juga belajar…

Bersama membaca buku dan permainan edukatif di rumah, itu juga belajar…

Bahkan sekadar mencampur tepung, telur, dan ragidi dapur bersama Ayah dan Bunda, itu pun juga belajar.

Ruang kelas anak kita seluas semesta!

Selamat belajar bersama anak anak tercinta, Ayah Bunda. [tm]