6 Places To Go

Latar merupakan salah satu unsur penting dalam sebuah cerita. Bisa jadi latar yang digunakan adalah sebuah lokasi yang ikonik sehingga membangkitkan suasana yang istimewa bagi jalan cerita. Namun bisa juga jalan cerita yang berperan besar mengangkat sebuah tempat yang mulanya biasa saja menjadi istimewa. Nah, berikut ini admin merangkum enam lokasi dari enam buku yang berbeda dan layak dikunjungi, kalau kamu memang pecinta buku sejati. Simak yuk!

Orang-Orang Bloomington — Bloomington, United States

Sumber: Wikipedia

“Setelah musim panas siap digantikan oleh musim gugur, keadaan saya berubah. Berbeda dengan musim panas, menjelang musim gugur Kota Bloomington dibanjiri oleh kedatangan lebih kurang tiga puluh lima ribu mahasiswa, baik yang baru maupun yang selama musim panas meninggalkan kota. Tapi, sepanjang pengetahuan saya, tidak ada satu pun yang tinggal di Fess dan sekitarnya. Bloomington menjadi ramai, tapi Fess tetap sepi. Kecuali itu, makin lama hari makin pendek—matahari makin terlambat terbit dan makin cepat terbenam. Dan kemudian, daun-daun menguning, lalu berdikit-dikit rontok. Bukan hanya itu—hujan juga sering datang, kadang-kadang diantar oleh kilat dan halilintar. Kesempatan keluar makin tipis. Baru dalam keadaan seperti ini saya banyak memperhatikan Fess. Baik Ny. MacMillan, Ny. Casper sering menggusuri daun-daun yang gugur di pekarangannya, lalu menempatkan daun-daun itu di kantong plastik besar, memasukkannya ke dalam mobil, lalu mengantarkannya ke tong sampah umum lebih kurang tujuh blok dari Fess.” — Budi Darma, Orang-Orang Bloomington

The Girl On The Train — Witney, England

Witney, England
Sumber: Wikimedia

“Perjalananku ke Witney pagi tadi terasa begitu ganjil. Aku merasa seakan sudah berabad-abad tidak ke sana, walaupun tentu saja baru beberapa hari. Tapi, itu seakan tempat yang benar-benar berbeda, stasiun yang berbeda di kota yang berbeda. Aku berbeda dengan orang yang pergi ke sana pada Sabtu malam. Hari ini aku tegang dan tidak mabuk, teramat sangat menyadari kebisingan, cahaya, dan kekhawatiran tepergok.” — Paula Hawkins, The Girl On The Train

Persuasion — Somerset, England

Somerset, England
Sumber: Shopify

“Anne berharap dia bisa menghindari pertemuan dengan Kapten Wentworth di Kellynch Hall. Ruangan-ruangan di rumah itu, yang telah menjadi saksi perjumpaan mereka terdahulu, akan membangkitkan kenangan yang terlalu menyakitkan di benaknya. Yang lebih krusial adalah, jangan sampai Lady Russell dan Kapten Wentworth bersua, di mana pun. Mereka saling tidak menyukai, jadi perjumpaan antara mereka niscaya lebih mendatangkan mudarat ketimbang manfaat. Andai Lady Russell melihat mereka bersama, bisa-bisa dia menganggap Kapten Wentworth tinggi hati dan Anne berhati lemah.” — Jane Austen, Persuasion

Tru and Nelle — Monroeville – Alabama, United States

Monroeville, Alabama
Sumber: Rural Southwest Alabama

“Ada alasan mengapa pagi itu berjalan lambat di Monroeville, Alabama. Sehari penuh telah berlalu, dan Truman belum melihat atau mendengar kabar dari Nelle. Dia duduk di beranda, matanya tidak lepas dari rumah Nelle yang berhias ornamen orang-orangan jahe dan penanda arah angin berkarat. Pepohonan ek yang berdiri di sekeliling rumahnya terkulai menahan beban jenggot musa yang layu kepanasan. Hanya mobil Hoover rusak yang ditarik oleh dua ekor kuda poni tua yang tampaknya menarik perhatian.” — G. Neri, Tru and Nelle

Magnus Chase & The Gods of Asgard — Boston, United States

Boston
Sumber: The Boston Globe

“Bukan, itu …. Betul juga, dari sudut ini, kelihatannya memang seperti hidung. Tapi, itu sebenarnya haluan kapal longship Viking. Lihat? Di dermaga sebelah sana juga ada. Longfellow sang penyair—jembatan ini dinamai dari namanya—terpesona pada bangsa Nordik. Sempat menggubah puisi mengenai dewa-dewi mereka. Seperti Eben Horsford, Longfellow meyakini bahwa bangsa Viking sudah menjelajah hingga ke Boston. Oleh sebab itulah desain jembatannya seperti ini.” — Rick Riordan, Magnus Chase & The Gods of Asgard

Under The Blue Moon — Melbourne, Australia

Sumber: Melbourne365

“Aku mengayuh sepeda menyusuri Rose Drive, tempat truk-truk sampah sedang mengumpulkan tong-tong sampah dan mengaburkan keharuman bunga melati. Kebun-kebun tampak semrawut dengan rumah-rumah mabuk di sepanjang jalan. Semoga aku tiba tepat pada waktunya. Semoga aku mencapai Ed sebelum malam berakhir secara resmi, dan sebelum dia melukisi pojok tembok itu dengan aku di dalamnya, memberitahunya secara keliru bahwa dia tidak berarti. Bercak cahaya bintang-bintang pabrik mulai memudar. Di latar belakang, kota terbangun, bangunan-bangunan kelabu menjorok ke langit. Aku suka tempat ini dalam keadaan terang, sama seperti dalam kegelapan. Aku suka peti-peti kayu yang menumpuk di dermaga dan bangunan-bangunan tua. Aku suka jalanan studio Al, semua industri yang bertumpuk menjadi satu. Aku suka betapa studio kaca Al dan tembok-tembok Shadow mengejutkanku di tengah kesemuanya itu. Di puncak bukit, kulepas tangan dari rem dan aku meluncur.” — Cath Crowley, Under The Blue Moon

Nah, setelah melihat dan membaca kutipan cerita berlatar kota-kota tersebut, apakah kamu semakin terdorong untuk berkunjung ke sana? 😀