It’s Not What You Learn, It’s How You Learn!

Parenting-It's Not What You Learn, It's How You Learn!
Parenting-It’s Not What You Learn, It’s How You Learn!

Beberapa waktu lalu, sempat ada kontroversi di kalangan para orangtua muda zaman now tentang fenomena menjamurnya beragam insitusi pendidikan usia dini di berbagai kota di Indonesia.

Sebagian besar mengambil sudut pandang, bahwa pendidikan usia dini seolah-olah menggegas anak untuk mempelajari apa yang belum saatnya mereka pelajari. Sehingga dikhawatirkan memberikan dampak negatif di masa depan, seperti kelelahan kognitif, rasa bosan terhadap sekolah, sampai berpotensi membentuk persepsi negatif anak tentang konsep belajar.

Sebagian lagi, berpendapat bahwa memasukkan anak ke sekolah di usia dini mampu memberikan stimulus yang jauh lebih baik daripada apa yang anak dapatkan di rumah. Anak-anak yang memulai bersekolah lebih dulu dianggap menunjukkan performa yang lebih baik daripada mereka yang tidak.

Dari kedua sudut pandang di atas, sayangnya ada satu hal penting yang terlupakan:
ini bukan tentang APA yang anak anak pelajari, tapi tentang BAGAIMANA anak anak belajar.

Secara fitrah, anak diciptakan dengan tingkat keingintahuan yang tinggi. Mereka punya antusiasme yang besar terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Dan lebih dari itu, mereka dibekali Allah otak dengan kemampuan menyerap informasi baru, berkali lipat dari yang dimiliki oleh orang dewasa. Golden Age, begitu para psikolog biasa menyebutnya.

Dengan modal sehebat itu, tentu memberikan “pelajaran” pada anak usia dini mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk diserap dengan lebih baik, dibandingkan fase usia selanjutnya. Namun, konsep “belajar” dan “pelajaran” itu yang jangan sampai dikerdilkan hanya tentang ruang kelas, dan aktivitas belajar mengajar ala ala sekolah konvensional. Beda usia, beda fase perkembangan otak. Tentu saja, beda pula pendekatan belajar yang diberikan.

Lagi lagi, it’s not about WHAT they learn. But it’s about HOW they learn.

Belajar melalui metode yang menyenangkan dan mampu membangkitkan keingintahuan anak sudah lama menjadi kajian di dunia pendidikan kita. Kajian yang kemudian melahirkan beragam sekolah alternatif yang menghadirkan warna berbeda dengan suasana sekolah konvensional pada umumnya. Kajian itu pula yang melahirkan beragam media edukatif, mainan, serta buku yang saat ini menjadi primadona di kalangan para orangtua muda.

Jika dulu anak memulai bersekolah dengan proses KBM yang biasa biasa saja (sekadar datang, duduk manis, dan mendengarkan), maka sekarang dengan mudah orang tua bisa memilih metode mana yang dirasa paling pas dengan kebutuhan dan keinginan, seperti Montessori, Waldrof, atau Sekolah Alam. Begitu pula dengan media belajarnya. Jika dulu anak belajar hanya dengan membaca text book, sekarang muncul beragam varian alat edukasi yang bisa digunakan untuk belajar.

Bahkan perubahan cara belajar pun tidak hanya terjadi di institusi pendidikan usia dini, tapi juga mulai merambah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Seperti mulai munculnya pendekatan digital yang dilakukan oleh beberapa perusahaan start up, dengan menyediakan aplikasi belajar yang mudah untuk diakses oleh anak SMP dan SMA melalui ponsel mereka.

Meski belum ada penelitian yang secara spesifik membandingkan output pendidikan konvensional dengan pendidikan kekinian, tapi secara common sense dapat kita rasakan bersama bahwa anak-anak yang tumbuh di era generasi Z memiliki ciri khas menarik yang tidak dimiliki oleh generasi kita, orangtuanya. Seperti memiliki ambisi besar untuk sukses, memiliki percaya diri yang tinggi, dan punya tingkat kreativitas yang tinggi.

So, it’s not about what you learn. But it’s about how they learn.

Sudahkah kita menyediakan lingkungan belajar yang terus menerus memantik semangat belajar anak kita? [@tm-noura]

Pesan-Pesan Kearifan Peneguh Iman

22/03/2018

Mommy Mingle, Daddy Dance

22/03/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *