Sang Pencerah adalah novel kedua yang ditulis Akmal Nasery Basral berdasarkan skenario film setelah novel Nagabonar Jadi 2 (2007). Berbeda dengan kebiasaan novelisasi skenario para penulis lain yang umumnya hanya sekadar memindahmediakan format

skenario ke dalam bentuk novel, Akmal melakukan pendalaman materi skenario dengan memperkaya bahan penulisan, serta mengubah sudut pandang penceritaan dari mata sang tokoh protagonis (“aku”), sehingga hasilnya adalah sebuah novel yang melengkapi kisah film, bukan mengulangi apa yang sudah dilihat penonton.

 

Karya-karya fiksi lain dari penulis berusia 42 tahun ini adalah Imperia (2005) yang merupakan novel pertamanya, serta antologi cerpen Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang termasuk dalam longlist Khatulistiwa Literary Award 2007.

Cerpen “Legenda Bandar Angin” pada kumpulan cerpen yang berkisah tentang kehidupan anak seorang mantan tahanan politik di Pulau Buru, Maluku, itu ditabalkan sebagai cerpen terbaik harian Pikiran Rakyat (Jawa Barat) sepanjang tahun 2006. Merintis karier di dunia jurnalistik sejak 1994, dan pernah bekerja sebagai wartawan di tiga majalah

berita mingguan (Gatra, Gamma, Tempo); media-media yang berada di lingkungan Grup Tempo (Koran Tempo,U Mag, dan majalah Travelounge); serta pendiri dan pemimpin redaksi pertama majalah musik Trax (saat berdiri bernama MTV Trax, 2002), Akmal memutuskan untuk meninggalkan dunia jurnalistik pada awal 2010 dan berkhidmat sepenuhnya pada dunia penulisan nonjurnalistik di bidang kesusastraan dan film.

Di bidang kesusastraan, Akmal yang menyukai gaya bercerita Jonathan Safran Foer dan Haruki Murakami ini sedang menyelesaikan naskah novelnya, Las Palabras de Amor, yang merupakan alegori Indonesia periode 1980- an sampai 2000-an. Las Palabras de Amor yang dimulai penulisannya tahun 2006 awalnya diperkirakan bisa terbit pada 2007.

Namun dalam perkembangannya mengalami banyak kendala tersebab pekerjaan rutin sebelumnya, sehingga diproyeksikan baru bisa terbit pada akhir tahun 2010 ini.

Di bidang perfilman, saat ini Akmal merupakan penyelia cerita (script supervisor) program FTV 20 Wajah Indonesia, program khusus kanal SCTV yang dikerjakan rumah produksi Citra Sinema pimpinan Deddy Mizwar. Pada program yang ditayangkan setiap Selasa pukul 22.00 WIB mulai 1 Juni – Oktober 2010 itu, alumnus FISIP UI ini juga menulis sebuah skenario tentang kisah anakanak Papua yang gandrung bermain sepak bola.

Di tengah-tengah kesibukan mengerjakan FTV itu, Akmal yang juga penikmat seri dokumenter Don’t Tell My Mother yang dipandu Diego Bunuel (Canal +) ini juga sedang menggodok film dokumenter yang akan disutradarainya sendiri, dibantu oleh Yayasan Mizan/Mizan Productions.

 

Di antara dua kutub dunia sastra dan film itu yang ditekuninya itu, ayah tiga putri Jihan Maghfira (11tahun), Aurora Elena (8 tahun), dan Maryam Aylatira (3tahun) ini masih bersentuhan dengan dunia musik cukup intens lewat keterlibatannya dalam memoles sebuah band pop secara rutin. Jika tidak ada aral melintang, sebuah bukunya tentang profil dan perjalanan dua orkestra terkemuka di tanah air juga akan terbit.

 

Akmal bisa dikontak lewat surat elektroniknya di

Alamat: akmal.n.basral@gmail.com.[]