A New York Police Department (NYPD) vehicle is seen near worshippers as they take part in Eid Al-Adha prayers at the Masjid At-Taqwa mosque in the Brooklyn borough of New York September 24, 2015.  REUTERS/Stephanie Keith      TPX IMAGES OF THE DAY      - RTX1SAUX

2017 adalah tahun kedua anak-anak muslim yang tinggal di New York menikmati hari besar penting bagi Muslim.  Ide meliburkan sekolah di hari Idul Ftri dan Idul Adha sudah dilontarkan sejak tahun 2013, namun walikota New York, Bill De Blasio baru memberi restu pada Maret 2015, sehingga libur Idul dan Idul Adha di sekolah-sekolah New York baru resmi berlaku pada tahun 2016 lalu.

“Kami berjanji kepada keluarga bahwa kami akan mengubah kalender sekolah kami untuk mencerminkan kekuatan dan keragaman kota kami. Ratusan ribu keluarga Muslim tidak lagi harus memilih antara menghormati hari-hari yang paling sakral di kalender agama mereka atau bersekolah. Ini adalah perubahan akal sehat, dan yang mengakui komunitas Muslim kita yang terus bertambah dan menghormati kontribusinya di kota kita,” ujar Walikota Bill de Blasio.

Sebelum ada libur resmi, 36% murid sekolah di New York meliburkan diri di hari Idul Fitri dan Idul Adha.

Kebijakan baru ini menjadi angin segar bagi pertumbuhan komunitas Muslim di New York.  Pengakuan pemerKuketuk langit-Peggy MSintah akan dua hari besar  Islam ini juga menjadi awal yang baik sebagai pengakuan akan komunitas Muslim, meskipun pada saat yang bersamaan ada aksi-aksi meresahkan yang menyudutkan Islam.

New York bukan yang pertama meliburkan sekolah di hari raya Islam, tetapi yang paling berpengaruh karena besarnya jumlah sekolah di kawasan kota metropolitan itu. Sebelumnya di Dearborn, Michigan; Paterson dan South Brunswick, New Jersey; Cambridge,Massachusetts; dan Burlington, Vermont sudah memberlakukan tanggal merah pada kalender sekolah setempat.

Imam Shamsi Ali dalam ceritanya kepada Peggy Melati Sukma di buku Kuketuk Langit dari Kota Judi: Menjejak Amerika, mengungkapkan tentang betapa gigih dia dan sejumlah pemuka agama lain di New York berjuang meloloskan ide libur Idul Fitri dan Idul Adha ini.  Sang Imam Masjid New York yang berdarah Sulawesi itu mengakui betapa dia berterimakasih kepada pemerintah kota, dan para pemuka agama lain, dan betapa dia bangga menjadi seorang warga Muslim New York. [rst]

Foto: http://www.vosizneias.com