Hari Pertama Sekolah: Mengatasi Gejala Psikosomatis

Yuhuuuu Ayah Bunda, siapa yang hari ini mengantar si kecil di #HariPertamaSekolah-nya? ­čśÇ

Seperti yang kita ketahui, sesuai dengan surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2016 tentang Hari Pertama Sekolah, orangtua diimbau mengantar anak pada hari pertama sekolah yang jatuh pada hari Senin, 18 Juli 2016.

Di masa-masa awal sekolah, biasanya ada saja tingkah polah si kecil yang bikin Ayah-Bunda pusing. Entah dia ngambek atau pura-pura sakit. Kalau Ayah-Bunda mengalami masalah serupa, bagaimana cara mengatasinya ya?

Suatu hari ada orangtua yang bertanya kepada Ayah Edy tentang anaknya yang berusia balita, bila diminta pergi ke sekolah sulit sekali. Jika dipaksa dia tidak mau turun dari mobil, bahkan belakangan ini sering mengeluh kepalanya pusing, sakit perut, dsb.

“Apakah anak saya berbohong atau apa?” dengan kebingungan seorang ibu bertanya. Ayah Edy melihat keluhan si ibu lebih pada gejala stres anak menghadapi sekolah atau dikenal sebagai Gejala Psikosomatis. Ayah Edy menjelaskan pada si ibu bahwa dulu sistem pendidikan memang menganut prinsip bahwa setiap anak itu sama dan seragam.┬áSistem pendidikan konvensional itu mengharuskan setiap anak untuk bisa mengikuti keinginan gurunya. Namun setelah dilakukan penelitian selama puluhan tahun, ternyata ditemukan bahwa masing-masing dari mereka itu unik. Oleh karena itu sistem pendidikan modern mengubah prinsip dasar sistem pengajarannya dengan mempertimbangkan keunikan tersebut.

Ayah Edy Menjawab #2Guru dan sekolah harus bisa memfasilitasi masing-masing keunikan anak tersebut agar mereka bisa berhasil dalam proses belajar. Lalu si ibu tadi menyanggah, “Padahal saya sudah sekolahkan dia di sekolah yang mahal lho…” Nah itu masalahnya. Mahal tidak menjamin sekolah tersebut menjalankan prinsip pendidikan sesuai fitrah anak. Bahkan tak sedikit sekolah yang sudah mencanangkan sistem pendidikan modern namun praktiknya masih menerapkan sistem dan cara belajar lama.

Nah, di sinilah kuncinya, untuk mengetahui apakah sebuah sekolah bagus atau tidak, kita bisa perhatikan dari dua aspek. Yang pertama adalah apakah anak kita semakin kritis dan berani mengungkapkan pendapat; yang kedua adalah prilakunya santun dan peduli. Sekolah yang baik akan membuat anak-anaknya betah atau bahkan membuat anaknya lebih senang bersekolah dibandingkan libur. Sekolah yang baik juga berarti sekolah yang guru-gurunya menjadi favorit bagi murid-muridnya.

Jika memang ada masalah yang timbul dalam diri anak, coba komunikasikan dengan pihak sekolah. Sekolah yang baik tentu akan menunjukkan kepedulian. Jika masalah ini ditanggapi positif dan dilakukan usaha dan tindakan perbaikan, maka itu sekolah yang peduli namanya. Karena kunci keberhasilan siswa adalah pada kepedulian pihak orang tua dan sekolah. Pendidikan tidak akan berhasil tanpa kepedulian dari orang tua dan pihak sekolah serta komunikasi dan kerjasama yang baik di antara keduanya.

Untuk panduan lebih lengkap mengenai parenting, Ayah & Bunda bisa membacanya di buku Ayah Edy Menjawab. ­čśë