Gundul-Gundul Pacul, Apa Kata Cak Nun?

Bersama grup Kiyai Kanjeng yang kerap manggung di pelbagai kota hingga mancanegara,  Cak Nun, membeberkan interpretasi makna lagu Gundul-Gundul Pacul. Lagu rakyat Jawa Tengah itu berisi lirik jenaka sebagai berikut:

Hidup Itu Harus Ngegas & NgeremGundul-gundul pacul cul, gemblelengan
Anak kecil kepala gundul banyak tingkah

Nyungi nyungi  wakul, gemblelengan
Membawa bakul nasi di atas kepala tapi banyak tingkah

Wakul glimpang segane dadi sak  latar
Bakul nasinya jatuh, nasinya berserakan ke mana-mana

Menurut Cak Nun, makna lagu itu adalah, anak yang masih kecil yang masih ingusan dan dia banyak tingkah, itu tidak masalah. Namun jika seseorang sudah bisa nyunggi (membawa barang di atas kepala), wakul  (bakul, wadah nasi), sebaiknya jangan banyak tingkah. Mengapa? Bakul adalah tempat nasi, nasi adalah bahan makanan pokok masyarakat, lambang keaejahteraan rakyat. Nyunggi wakul artinya amanah untuk bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat.

Mulai dari lurah, camat, bupati, gubernur, mentri, dan presiden, dibayar okeh rakyat untuk nyunggi wakul. Tugas pemerintah adalah menciptakan lapangan kerja dan segala hal yang menimbulkan kesejahteraan rakyat. Itu letaknya di atas “kepala” pemerintah dan harus diantarkan kepada rakyat.  Jangan sampai membawa bakul tapi nasinya dimakan sendiri, diam-diam dicomot sedikit demi sedikit. (Dalam video di sosial media, penjelasan tentang hal ini diperagakan Cak Nun dengan kocak, dan mengundang tawa penonton).

Jangan sampai pemerintah banyak tingkah dan menjual hingga menjual bakul nasi rakyat. Jangan sampai pemerintah menjual BUMN atau perusahaan negara. Karena kalau pemerintah banyak tingkah, “bakul kesejahteraan milik rakyat” bisa jatuh dan nasinya berserakan ke mana-mana sehingga tidak bisa lagi dimakan oleh rakyat. Tidak mensejahterakan rakyat. Hanya segelintir saja yang bisa memungut nasi berserakan, yang nyunggi wakul dan yang di dekatnya. Padahal pemilik negara ini adalah rakyat, bukan presiden, bukan menteri, bukan gubernur, bukan bupati, bukan pula camat dan lurah.

Interpretasi lagu Gundul Pacul telah berulang kali disampaikan Cak Nun secara terbuka di atas panggung, juga  melalui  sosial media.  Wejangan Cak Nun ini juga dikumpulkan bersama nasihat-nasihat kearifan lainnya dalam buku berjudul Hidup itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem. [rst]