Fire Sermon #2 - The Map of Bones

Sekitar empat ribu tahun di masa depan, dunia porak-poranda akibat perang nuklir yang membakar habis peradaban. Seluruh kebudayaan musnah beserta sebagian manusia penghuninya. Sisanya, manusia-manusia yang selamat harus memulai semuanya dari nol sambil menghirup udara serta meminum air yang penuh radiasi nuklir. Sejarah bumi lenyap, orang-orang hanya tahu masa Sebelum Detonasi dan Sesudah Detonasi. Selain menghancurkan peradaban, perang nuklir juga menghasilkan efek samping yang sangat mengerikan. Semua bayi yang lahir Setelah Detonasi terlahir kembar. Satu bayi sempurna dan satu bayi yang mengalami cacat. Bayi yang terlahir sempurna ini lalu disebut kaum Alfa sementara kembarannya yang tak sempurna masuk golongan Omega. Uniknya, setiap kembaran dipersatukan oleh ikatan yang sangat erat. Alfa dan Omega lahir dan mati secara bersamaan. Ketika yang satu mati, maka kembarannya akan ikut mati. Jika si Omega mati karena dibunuh atau sakit atau kecelakaan, maka kembarannya si Alfa juga akan ikut-ikutan mati—meskipun saat itu fisiknya dalam kondisi prima. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya: si Alfa mati, maka kembaran Omeganya juga ikut mati.
“Keberanian jenisnya macam-macam.” (hlm 535)

Dalam buku pertama, The Fire Sermon, dikisahkan tentang penindasan yang dilakukan golongan Alfa kepada kaum Omega. Dewan Alfa sudah menetapkan bahwa antara Alfa dan Omega harus dipisah sejak anak-anak. Kaum Omega yang cacat lalu dicap dengan lambang omega di dahinya, lalu ditindas semena-mena oleh kaum Alfa. Keberadaan kaum Omega yang cacat menjadi momok bagi kaum Alfa sehingga mereka menekan, menjauhi, bahkan menindas kaum Omega. Cass dan Zach adalah kembar Omega – Alfa yang dipisah sejak anak-anak. Keduanya lalu tumbuh dewasa di pihak berlawanan, dan saling memusuhi. Dalam buku pertama, pembaca telah menyaksikan pembantaian kaum Alfa terhadap kaum Omega di Pulau. Tetapi, Cass juga berhasil menghancurkan rencana Zach yang hendak mengurung para omega dalam tabung cairan. Bagi kaum Alfa, mengurung kembarannya dalam cairan yang disokong mesin pendukung kehidupan adalah alternatif terbaik untuk menjaga kembaran Omeganya tetap hidup. Tetapi, bagi kaum Omega yang dicelup dalam tabung, mereka harus mengalami penderitaan tak terpeti, serasa hidup segan mati pun tak mau.

“Kekerasan tidak menghasilkan perubahan nyata yang permanen.” (hlm. 302)

Cass dan kaum Omega lainnya sudah muak ditindas. Dan di The Map of Bones ini mereka melanjutkan perlawanannya di dunia yang sudah terlalu dikuasai kaum Alfa. Bersama Piper dan Zed, ketiganya bertualang mencari para Omega yang tersisa untuk kembali mengobarkan perlawanan terhadap tirani Alfa. Mesin tabung temuan Zach semakin menguatkan tekad mereka. Kaum Omega harus melawan, lebih baik mati dalam pertempuran ketimbang dibiarkan sekarat dalam tabung. Perjuangan belum berakhir. Diawali dengan menemukan Sally, mantan anggota Resistance yang legendaris karena berhasil menyusup ke lingkaran dalam Dewan Alfa dan masih bisa kabur hidup-hidup dari sana. Sally ini walau sudah sepuh, tetapi legendanya menjadikan kaum Omega hormat kepadanya. Sally juga yang membantu Cass dkk dalam menjalankan rencana-rencana mereka melawan Dewan Alfa.

“Tidak ada salahnya diperhatikan oleh orang lain.”(hlm 130)

Banyak ulasan menyebut buku kedua trilogi The Fire Sermon ini muram dan datar. Kisahnya memang cenderung datar, dengan begitu banyak peristiwa sederhana yang diceritakan berpanjang-panjang sementara adegan perangnya hanya muncul satu dua kali. Muram juga karena pembaca terus menerus disodori Cass yang galau berat akibat terawangan yang diterimanya, serta beban rasa bersalah yang menghimpitnya. Tetapi, novel ini ditulis dengan luwes. Kalimat dan paragrafnya—kalau bukan indah—terasa rapi dan halus. Meluncur halus mungkin ungkapan yang tepat untuk novel ini. Alurnya lambat tetapi tidak membosankan, bisa dinikmati. Nyatanya saya hanya butuh dua hari membacanya, padahal baca Magnus Chase 2 saja sampai seminggu. Dan walau adegan perkelahiannya sedikit, tetapi penulis tidak tanggung-tanggung dalam mendeskripsikannya. Adegan pertempuran seperti digelar seutuh-utuhnya di depan mata pembaca. Darah tumpah, tebasan pedang, tusukan anak panah, darah yang membanjir. Ini buku kalau nggak muram ala musim dingin ya berdarah-darah ala peperangan—tetapi dalam artian yang seru untuk dibaca.

“Sama sekali tak ada unsur keindahan dalam berkelahi.” (hlm. 71)

Ada alasan mengapa buku ini lambat. Banyak pertanyaan yang muncul di buku pertama coba dijawab penulis. Tentang bagaimana Zach bisa membuat tabung-tabung mengerikan itu, tentang apa yang sebenarnya menimpa Bumi pada masa Sebelum, tentang adanya Tempat Lain, tentang ledakan yang terus menerus muncul dalam terawangan Cass, juga tentang Bahtera yang konon menyimpan informasi dari masa Sebelum. Cass juga akhirnya menemukan jawaban atas sikap dingin Zed kepadanya. Hubungan Piper dan Cass juga makin tegas di sini. Akankah Piper menjadi pengganti Kip? Membaca buku ini membawa rasa kepuasan tersendiri, sulit untuk tidak jatuh cinta pada karakter-karakternya, juga pada dunia paskaapokaliptik, serta cara menulis penulis yang halus. Romancenya terhitung minimal untuk buku setebal ini. Dan, yang terpenting, nilai-nilai kemanusiaan yang tersirat dalam ceritanya akan mengubah persepsi pembaca tentang menjadi manusia dan bagaimana memanusiakan manusia. Terjemahannya juga apik sekali. Saya selalu suka sama model terjemahan ala mbak Reni Indardini yang kayak gini.

“Kau mau bertarung, sekalipun kau melihat kita kalah. Kau sudah tahu sedari awal dan kau tetap saja berdiri di sini, siap untuk berjuang. Itu dia yang namanya harapan.” (hlm. 263)


Resensi ini dibuat oleh Dion Yulianto di Goodreads