rinduku

Saya kaget juga ternyata bisa produktif seperti ini. Menerbitkan dua buku dalam paruh pertama 2017. Keduanya kumpulan cerita. Tapi genrenya jauh berbeda. Mungkin karena pesan Bang Tere Liye yang termakan benar oleh saya. “Jombang, penulis yang baik adalah yang sudah sibuk menyiapkan karya berikutnya, ketika orang baru saja membicarakan karyanya yang barusan terbit.”

Pertama, 30 Paspor edisi ketiga dengan tajuk “The Peacekeepers’ Journey.” Yang kedua sebuah kumpulan cerpen, puisi dan sajak “Rinduku Sederas Hujan Sore Itu.”

30 Paspor The Peacekeepers’ Journey; tancapan bendera kemanusiaan

Sebetulnya kedua buku ini sudah selesai ditulis sejak akhir tahun lalu. Baru berkesempatan terbit Maret dan Juni 2017 menjelang lebaran.

Jika kawan-kawan bertanya apa beda 30 Paspor bersampul hijau ini dengan dua “kakak” pendahulunya, maka saya bisa ceritakan. Pertama, perjalanan mahasiswa yang saya kisahkan tentu berbeda. Cara mengolah ceritanya juga berbeda. Jika edisi 1 dan 2 yang bertajuk “30 Paspor di Kelas Sang Profesor,” lebih kepada perjuangan mereka untuk bisa pergi ke luar negeri sendirian, bernegosiasi dengan orangtua, mengatur jadwal kuliah yang bentrok dengan kepergian, serta apa yang mereka lihat selamat perjalanan, maka buku ketiga ini, hampir tidak ada itu semua.

Saya lebih menceritakan perjalanan emosi mereka. Mengapa? Karena tempat-tempat wisata menarik, suguhan alam indah di luar negeri, hingga cara menjadi solo traveller itu semua bisa kawan-kawan googling saja. Tapi, perjalanan emosi, pergejolakan hati, ini tentu satu dimensi yang jauh berbeda. Tidak bisa google menjawabnya.

Jadi, bagaimana mahasiswa yang saya ceritakan berseteru dengan diri mereka sendiri. Menemukan versi diri mereka yang lebih baik.

Ada yang menghadapi islamophobia, ada yang justru sebaliknya, sangat dilindungi oleh orang-orang di luar negeri. Ada yang diajak pergi dari restoran hotel ke tempat yang menyediakan makanan halal di Jerman. Mengajar anak-anak mengaji di Australia. Perjalanan ibadah dan cinta di India. Diskusi hebat dengan mahasiswa-mahasiswa Eropa, di asrama salah satu kampus di Belanda yang berujung saling memasak makanan khas negara masing-masing. Menjadi cabe-cabean di Vietnam. Magang di pasar tradisional Jepang. Digoda wanita untuk free sex di Dubai. Hampir kehilangan nyawa di Milan. Hingga melawan penyakit mematikan, namun bisa mengangkat kepal tinjunya di pinggang pegunungan Alpen. Bahkan ada yang patah kaki dan patah hatinya di Nepal, negeri tempat Gunung Everest tertancap.

Level kesasar mereka, naik tingkat dibandingkan senior-seniornya yang ada pada buku pertama dan kedua. Karena kali ini peraturan dalam kelasnya juga ikut bertambah; harus tinggal dengan warga lokal, dan harus membantu/melakukan sebuah program sosial selama di luar negeri. Dari sinilah muncul tajuk The Peacekeepers’ Journey. Duta perdamaian.

Mungkin kami tidak sehebat para patriot, tapi paling tidak, kami menancapkan dua bendera lewat langkah kaki kecil ini. Bendera Indonesia, serta bendera kemanusiaan.

Rinduku Sederas Hujan Sore Itu, catatan tentang ironi, tawa dan tangis yang jatuh ke dalam.

Tiga tahun terakhir saya berkesempatan berkeliling ke beberapa kota dan pedalaman Indonesia. Setiap tempat yang saya kunjungi, punya cerita tersendiri. Lagi-lagi, tidak ada cerita tentang keindahan alam atau wisata.

Hanya ada cerita tentang rindu. Tentang hujan. Tentang sore. Setiap cerita yang saya dapatkan, berasal dari suatu kepahitan yang mau tidak mau itulah kehidupan. Bisa saya bilang, ini pertama kali saya berani menulis sesuatu yang tidak ada bagian inspiratifnya. Keabu-abuan hidup harus dirayakan, ‘kan?

Tentang bagaimana dua kucing beradik kakak saling berkelahi dan membunuh karena kecemburuan cinta pada seorang anak manusia. Tentang bagaimana seorang adik perempuan yang rindu kakaknya sang pelenting gitar, namun sudah berubah menjadi tanah merah. Tentang bagaimana seorang anak yang baginya Sang Ayah adalah keduanya; ayah dan ibu. Tentang bagaimana seorang istri dan ibu, yang dua kali kehilangan bayinya dan belajar ikhlas untuk ditinggalkan suami. Tentang bagaimana, sebuah ciuman singkat antara dua sejoli meski kerongkongan mereka masih berbau sate padang. Tentang sebuah cerita berjudul “Kelak, Berikan Surat Ini pada Anakmu.” Tentang, ah, tentang ironi. Tidak selamanya kisah tentang bertautnya dua hati, hanya milik sepasang kekasih.

Ada 29 cerita pendek, puisi dan sajak yang terdapat dalam Rinduku Sederas Hujan Sore Itu. Jika kawan pernah membaca novel romance saya yang berjudul Ninevelove, maka ini jauh beda. Ninevelove bercerita tentang manisnya percintaan dunia kampus. Tentang masa transisi dari jiwa setengah masak, menuju jiwa dewasa. Juga amat berbeda dengan dua novel saya yang lebih dahulu lagi, ketika itu masih belum menggunakan nama pena J.S. Khairen. Berjudul Karnoe dan Bunda Lisa. Yang mana dua ini lebih ke progresi kehidupan seseorang yang berada di belakang panggung.

Awalnya saya tidak terlalu berharap akan ada tanggapan berarti dari buku Rinduku Sederas Hujan Sore Itu. Namun satu persatu kawan dan sahabat pembaca mulai berdatangan. Melaporkan kalau mereka menemukan sesuatu yang baru. Menemukan terang gelap hidup yang tak berlebihan. Menemukan ketegasan dalam kepiluan. Menemukan kegetiran dalam kebahagiaan. Ah banyaklah yang mereka temukan. Beberapa yang beruntung bahkan menemukan sesuatu yang saya sendiri tidak berniat meletakkannya dalam buku ini.

Namun saya sedikit canggung juga kalau buku ini dibaca oleh remaja. Karena kontennya butuh sedikit kedewasaan untuk membaca dan menyerapinya. Jadi buku ini sangat tidak direkomendasikan untuk yang belum 18 tahun.

Hujan adalah janji setia langit pada bumi. Yang pasti datang, tanpa payah menunggu.

Kita terjebak di hujan yang sama, namun tak bisa saling bicara. Membuatku terus menunggumu memutar badan dan melempar senyum kepadaku.

Aneka rasa tumpah dari langit. Cemas dan rindu tanpa bisa kucegah. Raya yang begitu besar, yang melenyapkan rasa lainnya.

Jarak kita tak jauh. Namun tak bisa bertatapan, apalagi berbicara. Rinduku sederas hujan sore itu.

Masih adakah tahun ini?

Tidak tahulah saya. Naskah saya dengan penerbit lain masih belum rampung. Sudah lumayan sering ditanya oleh rekan-rekan di sana. Judulnya “Kami (Bukan) Sarjana Kertas.” Isinya kritik sosial sambil lawak-lawak. Sudah dua tahun naskah ini berputar-putar idenya. Ada tambah terus, ada kurang terus. Semoga sebelum akhir tahun ini bisa selesai.

Beberapa link

– Book trailer 30 Paspor: The Peacekeepers’ Journey

– Peluncuran 30 Paspor

– Review 30 Paspor di Kelas Sang Profesor – edisi 1 dan 2

– Review Rinduku Sederas Hujan Sore Itu

*Catatan kaki: Jika kawan bertanya, apa saya menjualnya; 30 Paspor dan Rinduku Sederas Hujan Sore Itu. Maka jawabnya; tidak. Bukunya yang menjual adalah toko buku, jadi bukan saya. Baik itu gerai atau toko buku online. Silakan berkunjung ke toko buku, mungkin hidung Anda sudah rindu bau rak buku. Atau kalau malas yasudah, online juga tidak apa.


 

www.jskhairen.com | @JS_Khairen

Rongga Langit Jakarta, 1 Juli 2017

Tepat seminggu sebelum hari pengikat janji suci dengannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>